CONTOH PROPOSAL PAUD (TEORI BAHASA DAN KREATIVITAS)

MENGALAMI KESULITAN MEMBUAT PROPOSAL, HUBUNGI 081337999117 (PEKANBARU)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.          Latar Belakang Masalah

            Pendidikan usia dini memegang peran yang sangat penting dalam perkembangan anak karena merupakan pondasi dasar dalam kepribadian anak. Anak yang berusia 5-6 tahun memiliki masa perkembangan kecerdasan yang sangat pesat sehingga masa ini disebut golden age (masa emas). Masa ini merupakan masa dasar pertama dalam mengembangkan berbagai kegiatan dalam rangka pengembangan potensi anak sejak usia dini. Potensi yang tidak kalah pentingnya bagi perkembangan kecerdasan anak yaitu kreativitas berbahasa lisan anak.

            Kreativitas berbahasa anak meliputi kemampuan berkomunikasi secara efektif, mendengarkan, berbicara, menulis, dan membaca, hal ini berkaitan dengan pendapat Ali Nugraha dan Yeni Rachmawati (2006:7.12)

            Kreativitas berbahasa, terutama berbicara (berbahasa lisan) diperlukan sebagai dasar bagi anak untuk berinteraksi dengan orang lain, baik dengan orang tuanya maupun dengan teman seusianya serta orang lebih dewasa dari segi umurnya. Kreativitas bahasa lisan merupakan perkembangan yang sangat penting bagi anak usia dini, karena bahasa bukanlah sekedar pengucapan kata-kata atau bunyi, tetapi merupakan suatu alat untuk mengekspresikan, mengatakan, menyampaikan atau mengkomunikasikan pikiran, ide maupun perasaan. Tujuan berbahasa lisan adalah untuk memberitahukan, melaporkan, menghibur, membujuk dan meyakinkan seseorang. Secara umum kreativitas bahasa lisan  anak usia 5-6 tahun sudah dapat menyebut berbagai bunyi atau suara tertentu, menirukan 4-5 urutan kata, menyebutkan nama diri, nama orang tua, jenis kelamin, alamat rumah secara sederhana dan sudah dapat menjawab pertanyaan tentang keterangan/informasi secara sederhana.

            Berdasarkan pengamatan penulis, tingkat kreativitas berbahasa lisan atau daya serap anak TK Tunas Baru Ranah Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar sangat bervariasi. Artinya ada anak yang mampu berbahasa lisan dan ada yang sedang serta ada yang sulit untuk berbahasa lisan. Padahal inti berbahasa lisan mengeluarkan ide, gagasan, atau pendapat kepada orang lain. Oleh sebab itu seorang guru TK harus berusaha dengan berbagai cara untuk meningkatkan kreativitas berbahasa lisan anak. Peningkatan kualitas pendidikan di TK, ditentukan beberapa faktor penentu keberhasilan, yaitu melalui Permainan Permata Tersembunyi untuk Meningkatkan Kreativitas Berbahasa Lisan Anak.

            Permainan Permata Tersembunyi merupakan permainan yang sangat menarik bagi anak karena permainan ini menggunakan gambar-gambar yang terdapat didalam permata. Permainan ini sangat memotivasi anak untuk mencari permata yang tersembunyi tersebut. Permainan ini dilakukan didalam ruangan dengan menggunakan wadah plastik yang berukuran besar, didalamnya terdapat pasir dan permata-permata yang berisikan gambar-gambar. Permainan permata tersembunyi adalah sebuah aktivitas terobosan bahwa anak-anak menghadapi beberapa permasalahan sensorik atau liquisik ketika mereka hendak menyusupkan tangan mereka ke dalam wadah plastik yang berisi pasir dan mereka berusaha mendapatkan permata yang tersembunyi didalam wadah. Setelah anak berhasil menemukan permata yang dicarinya, anak secara tidak langsung mengeluarkan ekspresi sehingga anak terdorong untuk menceritakan benda yang telah ditemukannya. Dalam permainan ini anak diharuskan untuk menceritakan apa yang terdapat didalam permata tersebut sehingga dapat melatih kreativitas berbahasa lisan anak.

            Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan peran guru di TK Tunas Baru Ranah Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar menunjukkan bahwa sebagian besar anak masih rendah kreativitas berbahasanya,terutama bahasa lisannya hal ini terlihat anak belum mampu menyebutkan kembali 4-5 kata. Disamping itu anak belum dapat menyebutkan benda-benda yang ada disekitarnya, selain itu anak belum bisa menunjukkan kreativitasnya dalam menyanyi, memimpin doa, memimpin barisan, bercerita dan berbicara dengan teman-temannya dan jika disuruh tampil di depan kelas, sangat minim sekali anak yang berani menunjukkan kreativitas berbahasanya (bahasa lisan) di depan teman-temannya.

            Fenomena di atas dapat menyimpulkan pertanyaan mengapa anak-anak belum mampu berbahasa lisan dengan baik. Dari kondisi tersebut sudah selayaknya seorang guru TK untuk melakukan usaha perbaikan, salah satu usaha yang dapat dilakukan guru adalah memilih salah satu strategi pembelajaran yang tepat. Peneliti berencana menggunakan pembelajaran melalui Permainan Permata Tersembunyi untuk Meningkatkan Kreativitas Berbahasa Lisan Anak

            Dari uraian di atas peneliti merasa perlu mengadakan penelitian tentang “Meningkatkan Kreativitas Berbahasa Lisan Anak Usia 5-6 Melalui Permainan Permata Tersembunyi di TK Tunas Baru Ranah Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar “.

 

  1. B.           Identifikasi Masalah

            Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka identifikasi masalah antara lain :

  1. Anak belum dapat berkomunikasi, berbicara lancar secara lisan dalam permainan permata tersembunyi
  2. Anak belum mampu menceritakan isi gambar yang di temukan dalam permainan permata tersembunyi
  3. Anak belum maksimal mengekspresikan kreativitas berbahasa lisan seperti mengeluarkan ide-ide atau pendapatnya dalam permainan permata tersembunyi

 

  1. C.          Pembatasan Masalah

            Penelitian ini difokuskan pada meningkatkan kreativitas berbahasa lisan anak usia 5-6 melalui permainan permata tersembunyi di TK Tunas Baru Ranah Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar.

 

  1. D.          Perumusan Masalah

            Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah kreativitas berbahasa lisan anak usia 5-6 dapat ditingkatkan melalui permainan permata tersembunyi di TK Tunas Baru Ranah Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar?.

 

  1. E.           Tujuan Penelitian

            Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka disimpulkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kreativitas berbahasa lisan anak usia 5-6 tahun melalui permainan permata tersembunyi di TK Tunas Baru Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar.

  1. F.           Manfaat Penelitian
  2. Manfaat Teoretis

            Hasil penelitian diharapkan dapat pengetahuan ilmiah dan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dalam meningkatkan kreativitas berbahasa lisan anak usia 5-6 melalui permainan permata tersembunyi di TK Tunas Baru Ranah Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar.

  1. Manfaat Praktis

            Melalui penelitian ini diharapkan memperoleh manfaat baik bagi anak, guru, serta sekolah antara lain:

  1. Bagi Anak

            Bermanfaat untuk meningkatkan kreativitas berbahasa lisan anak melalui Permainan Permata Tersembunyi

  1. Bagi Guru

            Bemanfaat sebagai pedoman bagi guru TK Tunas Baru Ranah Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar dalam meningkatkan kreativitas berbahasa lisan, terutama berbahasa lisan.

 

 

  1. Bagi Sekolah

            Bermanfaat untuk meningkatkan prestasi TK Tunas Baru Ranah yang dapat dilihat dari meningkatnya kreativitas berbahasa lisan anak usia 5-6 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

DESKRIPSI TEORETIS

  1. A.          Kreativitas Berbahasa Anak
  2. 1.      Pengertian Kreativitas Anak

            Menurut Anna Craft (2000:11) kreativitas anak adalah berkaitan dengan imajinasi atau manifestasi kecerdikan dalam pencarian yang bernilai. Menurut Nurchasanah (2006:6) Kreativitas berbahasa lisan anak usia prasekolah berbeda dengan orang dewasa. Kreativitas mereka tidak dapat diukur dari kualitas kebenaran bahasa yang diungkapkan, maupun variasi, dan kebaruannya. Kreativitas mereka masih dalam taraf yang sederhana. Kemauan mereka berbahasa, mengungkapkan gagasan, dan perasaan secara lisan, sudah menunjukkan bahwa mereka kreatif. Kreativitas berbahasa lisan mereka dapat terlihat dari indikator-indikator berikut: (1) kemauan bertanya, (2) kemauan menjawab pertanyaan, (3) kemauan bercerita, (4) kemauan menginformasikan sesuatu kepada orang lain, teman, atau guru.

            Kreativitas anak disebut kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya) suatu gagasan (Utami Munandar, 1977:50). Kreativitas menurut Zainal Abidin (2010:2) didefinisikan secara berbeda-beda oleh pakar berdasarkan sudut pandang masing-masing. Perbedaan dalam sudut pandang ini menghasilkan berbagai kreativitas dengan penekanan yang berbeda-beda seperti berikut ini:

  1. Barron mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru di sini bukan berarti harus sama sekali baru, tetapi dapat juga sebagai kombinasi dari unsur-unsur yang telah ada sebelumnya.
  2. Guilford menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang kreatif.
  3. Utami Munandar mendefinisikan kreativitas adalah kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir serta kemampuan untuk mengolaborasi suatu gagasan.
  4. Rogers mendefinisikan kreativitas sebagai proses munculnya hasil-hasil baru ke dalam suatu tindakan. Hasil-hasil baru itu muncul dari sifat-sifat individu yang unik yang berinteraksi dengan individu lain, pengalaman, maupun keadaan hidupnya.
  5. Drevdal mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk memproduksi komposisi dan gagasan-gagasan baru yang dapat beruwujud aktivitas imajinatif atau sintetis yang mungkin melibatkan pembentukan pola-pola baru dan kombinasi dari pengalaman masa lalu yang dihubungkan dengan yang sudah ada pada situasi sekarang.

            Dari definisi-definisi di atas disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru, dan atau memodifikasi sesuatu yang sudah ada sehingga manfaatnya bernilai lebih dibanding sebelumnnya.

 

  1. 2.      Ciri-ciri Kreativitas Anak

            Menurut Paul Torrance dalam Kodarni (2011:24) mengemukakan ciri-ciri tindakan kreatif anak prasekolah:

  1. Anak prasekolah yang kreatif belajar dengan cara yang kreatif, yaitu dimana anak belajar untuk memenuhi kebutuhannya melalui eksperimen, eksplorasi, manipulasi dan permainan.
  2. Anak prasekolah yang kreatif memiliki rentang perhatian yang panjang terhadap hal membutuhkan usaha kreatif. Anak yang kreatif tidak mudah bosan terhadap sesuatu yang baru, seperti mainan, biasanya ketertarikannya lebih dari 60 menit bahkan lama.
  3. Anak yang kreatif memiliki sesuatu yang menakjubkan, seperti kegiatan memimpin, mengorganisasi teman-temannya.
  4. Anak prasekolah kreatif belajar banyak melalui fantasi dan memecahkan permasalahan dengan menggunakan pengalamannya.
  5. Anak kreatif menikmati permainan dengan kata-kata dan tempat sebagai pencerita yang alamiah.

Menurut Munandar (Alex Sobur, 2009: 187) ciri-ciri kreativitas adalah sebagai berikut:

  1. Dorongan ingin tahu besar
  2. Sering mengajukan pertanyaan yang baik
  3. Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah
  4. Bebas dalam menyatakan pendapat
  5. Mempunyai rasa keindahan
  6. Menonjol dalam salah satu bidang seni
  7. Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain
  8. Rasa humor tinggi, memiliki daya imajinasi baik
  9. Keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinalitas, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain)
  10. Dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru
  11. Kemampuan mengembangkan atau merinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi).

Utami Munandar (2002: 3) mengemukakan ciri-ciri kreativitas antara lain sebagai berikut:

  1. Senang mencari pengalaman baru
  2. Memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit
  3. Memiliki inisiatif
  4. Memiliki ketekunan yang tinggi
  5. Cenderung kritis terhadap orang lain
  6. Berani menyatakan pendapat dan keyakinannya
  7. Selalu ingin tahu
  8. Peka atau perasa
  9. Enerjik dan ulet
  10. Menyukai tugas-tugas yang majemuk
  11. Percaya kepada diri sendiri
  12. Mempunyai rasa humor
  13. Memiliki rasa keindahan
  14. Berwawasan masa depan dan penuh imajinasi

Proses kreatif berlangsung mengikuti tahap-tahap tertentu, tidak mudah mengindentifikasi secara persis pada tahap manakah suatu proses kreatif itu sedang berlangsung, yang dapat diamati adalah gejalanya berupa perilaku yang ditampilkan oleh individu.

 

  1. 3.      Aspek-aspek yang Mempengaruhi Kreativitas Anak

            Menurut Martini (2006:66) aspek-aspek yang mempengaruhi kreativitas adalah sebagai berikut:

  1. Aspek Kemampuan Kognitif (Berpikir)

            Kemampuan kognitif (kemampuan berpikir) merupakan salah satu aspek yang berpengaruh terhadap munculnya kreativitas seseorang. Kemampuan berpikir yang dapat mengembangkan kreativitas adalah kemampuan berpikir secara divergen, yaitu kemampuan untuk memikirkan berbagai alternatif pemecahan suatu masalah.

  1. Aspek Intuisi dan Imajinasi

            Kreativitas berkaitan dengan aktivitas belahan otak kanan. Oleh sebab itu, intuitif dan imajinatif merupakan aspek lain yang mempengaruhi munculnya kreativitas.

  1. Aspek Penginderaan

Kreativitas dipengaruhi oleh aspek kemampuan melakukan penginderaan, yaitu kemampuan menggunakan pancaindera secara peka. Kepekaan dalam penginderaan ini menyebabkan seseorang dapat menemukan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau dipikirkan oleh orang lain.

  1. Aspek Kecerdasan Emosi

            Kecerdasan emosi adalah aspek yang berkaitan dengan keuletan, kesabaran, dan ketabahan dalam menghadapi ketidakpastian dan berbagai masalah yang berkaitan dengan kreativitas.

 

Menurut Clark dalam Zainal Abidin (2010:3) yang mengkategorikan faktor-faktor yang mempengaruhi kreativitas yaitu :

Faktor yang mendukung perkembangan kreativitas adalah sebagai berikut:

  1. Situasi yang menghadirkan ketidaklengkapan serta keterbukaan.
  2. Situasi yang memungkinkan dan mendorong timbulnya banyak pertanyaan.
  3. Situasi yang dapat mendorong dalam rangka menghasilkan sesuatu.
  4. Situasi yang mendorong tanggung jawab dan kemandirian.
  5. Situasi yang menekankan inisiatif diri untuk menggali, mengamati, bertanya, merasa, mengklasifikasikan, mencatat, menerjemahkan, memperkirakan, menguji hasil perkiraan dan mengkomunikasikan.
  6. Kedwibahasaan yang memungkinkan untuk pengembangan potensi kreativitas secara lebih luas karena akan memberikan pandangan dunia secara lebih bervariasi, lebih fleksibel dalam menghadapi masalah, dan mampu mengekspresikan dirinya dengan cara yang berbeda dari umumnnya yang dapat muncul dari pengalaman yang dimilikinya.
  7. Posisi kelahiran (berdasarkan tes kreativitas, anak sulung laki-laki lebih kreatif daripada anak laki-laki yang lahir kemudian).
  8. Perhatian dari orang tua terhadap minat anaknya, stimulasi dari lingkungan sekolah, dan motivasi diri.

 

 

 

 

  1. 4.      Kreativitas Berbahasa Lisan

            Menurut Ali Nugraha dan Yeni Rachmawati (2006:7.12) kreativitas berbahasa ditunjukkan dengan keterampilan berkomunikasi secara efektif, mendengarkan, berkomunikasi dengan berbicara, menulis dan membaca.

            Sisca Puspitasari (2006:11) mengatakan sering kali kita menemukan anak-anak taman kanak-kanak berbicara. Mereka sering berbicara tentang apa yang terjadi baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka sering berbicara untuk mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran mereka. Sikap ini mendorong meningkatkan penggunaan bahasa dan dialog dengan yang lain. Salah satu jalan bagi mereka untuk menggunakan bahasa adalah ekspresi perasaan. Sebagian anak mengalami kesulitan mengungkapkan perasaan dengan kata-kata dan menunjukkannya dengan perbuatan, terkadang mereka lebih mudah mengekspresikan perasaan bonekanya sendiri daripada perasaan mereka sendiri.

            Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini, tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan suatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat bilangan, lukisan, dan mimik muka. Sedangkan fungsi utama bahasa pada anak yaitu 1) meniru ucapan orang dewasa, 2) membayangkan situasi (terutama dialog), 3) mengatur permainan. Tiga fungsi kegiatan berbahasa lisan ini dapat dilakukan di taman kanak-kanak melalui kegiatan mendongeng, menceritakan kembali kisah yang telah didengarkan, berbagi pengalaman, sosiodrama maupun mengarang cerita dan sajak. Dengan kegiatan tersebut diharapkan kreativitas dan kemampuan berbahasa lisan anak dapat terkembangkan lebih optimal. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kreativitas berbahasa lisan anak dapat diketahui dengan indikator 1) keterampilan berkomunikasi secara efektif, 2) mendengarkan, 3) berkomunikasi dengan berbicara, 4) menulis dan 5) membaca.

 

  1. 5.      Konsep Berbahasa Anak

            Menurut  Asrori (2007:141) Perkembangan bahasa individu, terutama bahasa lisan merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks. Perkembangan bahasa lisan lebih cepat dari perkembangan aspek lainya, meskipun sebagaian anak ada yang perkembangan motoriknya lebih cepat dibandingkan perkembangan bahasanya. Ahli piskologi menyatakan bahwa perkembangan bahasa lisan merupakan kemampuan individu menguasai kosa kata, ucapan, gramatikal dan etika pengucapan dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan perkembangan umum kronologisnya.

            Karakteristik kemampuan bahasa lisan anak usia 5-6 tahun anatara lain (Imam ,2010:163.)

  1. Dapat menguasai kosa kata 4-5 suku kata, meyerupai bunyi suara tertentu.
  2. Dapat berkomunikasi/berbicara secara lisan, menyebutkan nama diri, jenis kelamin serta alamat rumah secara sederhana.
  3. Dapat mengatakan bermacam-macam kata benda yang berada di lingkungan sekitar.
  4. Dapat menceritakan isi gambar atau isi cerita sederhana menghubungkan gambar/benda dengan kata.
  5. Dapat mengurutkan tulisan sederhana dengan mengenal bentuk-bentuk simbol yang melambangkan.

            Depdiknas (2007:15) mengemukakan bahwa kemampuan berbicara merupakan kemampuan anak untuk berkomunikasi secara lisan dengan orang lain. Kemampuan/kesanggupan anak menyusun kosa kata menjadi suatu rangkaian pembicaraan secara berstruktur dapat dilatih agar mereka biasa berinteraksi dengan yang lainnya, serta anak dapat memberikan keterangan / informasi tentang suatu hal secara sederhana. Vygotsky dalam Rita Kurnia (2009:47) menjelaskan tiga tahap perkembangan berbahasa lisan anak yang berhubungan erat terhadap perkembangan berpikir anak yaitu:

  1. Tahap eksternal, hal ini terjadi karena anak berbicara, sumber berpikir anak berasal dari luar diri anak. Artinya sumber pikiran anak berasal dari orang dewasa yang memberikan informasi/pengarahan.
  2. Tahap internal, dimana proses pemikiran anak telah mengalami penghayatan sepenuhnya, kemampuan berbahasa lisan anak secara lisan berurutan dengan benar, dapat menceritakan kembali cerita sederhana yang mudah dipahami, mengucapkan lebih dari tiga kalimat serta mengenal tulisan sederhana.
  3. Tahap egosentris, dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan pembicaraan orang dewasa bukan lagi menjadi prasyarat.

 

 

 

 

  1. B.           Bermain
    1. 1.      Pengertian Bermain

            Bermain merupakan suatu fenomena yang sangat menarik perhatian para pendidik, psikologi ahli filsafat dan lain sebagainya. Mereka lebih tertantang untuk lebih memahami arti bermain yang dikaitkan dengan tingkah laku manusia. Bermain merupakan pengertian yang sulit dipahami karena muncul dalam beraneka macam bentuk.  Kehidupan sehari-hari kegiatan bermain begitu mudah dipahami namun dalam beberapa situasi sulit dibedakan dengan kegiatan yang bukan bermain.

            Scwartzman (dalam Soemiarti Patmonodewo, 2000:102) rnengemukakan suatu batasan bermain sebagai berikut:

            “Bermain bukan bekerja; bermain adalah pura-pura; bermain bukan sesuatu kegiatan yang produktif dan sebagainya…..bekerjapun dapat diartikan bermain sementara kadang-kadang bermain dapat dipahami sebagai bekerja; demikian pula anak-anak yang sedang bermain dapat membentuk dunianya sehingga seringkali dianggap nyata sungguh sungguh, produktif dan menyerupai kehidupan yang sebenarnya”.

            Sementara Soemiarti Patmonodewo (2000:102) mengatakan bahwa bermain dalam tatanan sekolah dapat digambarkan sebagai suatu rentang rangkaian kesatuan yang berujung pada bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan berakhir pada bermain yang diarahkan. Dalam bermain bebas dapat didefenisikan sebagai suatu kegiatan bermain dimana anak mendapat kesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan mereka memilih bagaimana menggunakan alat-alat, sedangkan kegiatan bermain dengan bimbingan, guru memilih alat permainan dan diharapkan anak-anak dapat memilih guna menemukan suatu konsep.

            Bambang dan Yuliani (2005:104) mengemukakan bahwa kegiatan bermain adalah proses sosialisasi yang sangat efektif melalui permainan anak belajar menjalankan suatu peran tertentu dapat menerima pandangan orang lain dan melatih cara berkomunikasi. Montolalu (2007:12) mengatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Bermain terungkap dalam berbagai bentuk. Bermain dapat berupa gerak seperti berlari, melempar bola dan memanjat, bermain juga dapat berupa  kegiatan berfikir, seperti menyusun puzzle atau mengingat kata-kata sebuah lagu, dan juga berupa kreativitas dengan menggunakan krayon, plastisin atau tanah liat.

 

  1. 2.      Manfaat Bermain

            Hasil penelitian yang telah dilakukan para ilmuwan menyatakan bahwa bermain bagi anak mempunyai arti yang sangat penting karena melaui bermain anak dapat menyalurkan segala keinginan dan kepuasan kreativitas serta imajinasinya. Melalui bermain anak dapat melakukan kegiatan-kegiatan fisik belajar bergaul dengan teman sebaya, membina sikap hidup positif, mengembangkan peran sesuai dengan jenis kelamin, menambah perbendaharaan kata dan menyalurkan perasaan tertekan .

            Berikut ini akan diuraikan satu persatu manfaat bermain bagi anak di TK (Montolalu, 2007 :1I5-1I8).

 

  1. Bermain Memicu Kreativitas

            Hasil penelitian mendukung dugaan bahwa bermain dan kreatifitas saling berkaitan karena baik bermain maupun kreativitas rnengandalkan kemampuan anak menggunakan simbol-simbol (Spodek & Sarcho, 1988). Kreativitas dapat dipandang sebagai suatu aspek dari pemecahan masalah yang mempunyai arti dalam bermain. Saat anak menggunakan daya khayalnya dalam bermain, dengan menggunakan alat atau tanpa alat mereka lebih kreatif.

  1. Bermain Bermanfaat Mencerdaskan Otak

            Salah satu contoh permainaan yang dapat mencerdaskan otak adalah bermain dokter-dokteran. Dalam permainan ini si anak berpura-pura menjadi dokter dan menjadi pasien. Sebagai pasien si anak bebas menggunakan imajinasinya dan segenap pengetahuannnya tentang seorang yang sedang sakit. Demikian juga halnya dengan anak yang berperan sebagai dokter, anak dengan bebas mengungkapkan segenap pengetahuannya tentang seorang dokter, mulai dari sikapnya, gaya bicaranya dan jenis obat-obatan yang dapat menyembuhkan penyakit.

  1. Bermain Bermanfaat Menanggulangi Konflik

            Pada usia TK tingkah laku yang sering muncul ke permukaan adalah tingkah laku menolak, bersaing, agesit bertengkar, meniru, kerjasama, egois, simpatik, marah, ngambek, dan berkeinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial mereka. TK memberi peluang bagi anak melalui bermain dalam kelompok besar maupun kelompok kecil untuk mengatasi konflik yang terjadi. Sandiwara boneka, bermain dramatisasi bebas dan bercerita dengan berbagai metode, merupakan beberapa kegiatan bermain.

  1. Bermain Bermanfaat untuk Melatih Empati

            Empati adalah pengenalan perasaan, pikiran, dan sikap orang lain, dapat juga dikatakan pengenalan jiwa orang lain, dengan kata lain empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran dan sikap yang sama dengan orang atau kelompok lain. Empati merupakan suatu faktor yang berperan dalam perkembangan sosial anak karena dengan empati anak dapat merasakan penderitaan orang lain. Dengan mengembangkan empati, anak akan pandai menempatkan dirinya dan perasaannya pada diri dan perasaan orang lain dan akan mengembangkan tenggang rasa. Melalui bermain sandiwara boneka atau dramatisasi terpimpin sikap empati dapat dikembangkan di TK.

  1. Bermain Bermanfaat Mengasah Panca lndera

            Banyak jenis permainan TK yang menunjang perkembangan kepekaan panca indera seperti “permainan kotak” aroma untuk latihan indera penciuman, permainan “suara apa” untuk latihan indera pendengaran, gambar-gambar di buku untuk latihan indera penglihatan, dan permainan merasakan berbagai rasa makanan dengan mata tertutup untuk melatih indera pengecapan dan lain-lain.

  1. Bermain Sebagai Media Terapi

            “Sigmund Freud”, Bapak psikoanalisis mengemukakan bahwa anak melakukan  bermain sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah konflik dan kecemasannya. Berawal dari teori ini para ahli ilmu jiwa mendapat ilham untuk menggunakan bermain sebagai alat diagnosis mengobati anak yang bermasalah, yang dikenal di kalangan para ahli dengan terapi bermain. Namun tidak semua orang dapat melakukannya karena ini memerlukan keahlian khusus dari mereka yang mendapat pendidikan dan pelatihan khusus untuk itu.

  1. Bermain Melakukan Penemuan

            Anak akan bertanya, jika ada sesuatu yang ia butuhkan/pahami saat bermain. Bagi guru yang berpengalaman, anak-anak yang sedang bermain sering dilihat, seperti sedang melakukan penemuan-penemuan setiap waktu. Penemuan tersebut bisa saja kebetulan, seperti dalam bermain di bak air. Ketika anak pertama kali menemukan bahwa jumlah air yang sama dapat mengisi tiga wadah, seperti botol ada caranya, air bila dipukul dengan tangan akan memercik ke mana-mana, lain dengan pasir. Penemuan ini sangat menyenangkan anak.

            Hurlock dalam Hibana (2005:85) menegemukakan manfaat bermain bagi perkembangan anak yaitu sebagai berikut:

  1. Perkembangan fisik. Bermain berguna untuk mengembangkan otot dan melatih seluruh bagian tubuh. Bermain juga berfungsi untuk menyalurkan tenaga  yang berguna bagi kesehatan fisik dan mental anak.
  2. Dorongan berkomunikasi. Melalui aktivitas bermain, anak terdorong untuk berbicara dan berkomunikasi dengan teman lain, tanpa disadari anak belajar mengungkapkan pikiran dan perasaannya pada orang lain.
  3. Penyaluran energi emosional yang terpendam. Bermain merupakan sarana bagi anak untuk menyalurkan berbagai ketegangan emosional. Dengan demikian bermain merupakan terapi cepat dan murah bagi pengembalian kondisi fisik yang terganggu.
  4. Penyaluran dari keinginan dan kebutuhan yang tidak terpenuhi. Tidak semua keinginan dan kebutuhan anak dapat terpenuhi. Keinginan yang tidak terpenuhi dalam dunia real dapat diaplikasikan melalui kegiatan bermain
  5. Sumber belajar. Melalui kegiatan bermain, anak belajar menghargai hal, baik bersifat fisik maupun pengembangan mental.
  6. Rangsangan kreatifitas. Dalam bermain, anak bebas memilih dan bereksplorasi, maka bermain dapat mengembangkan kreativitas anak.
  7. Belajar standar moral. Melalui kegiatan bermain, anak belajar hal-hal yang dapat diterima oleh lingkungan, dan hal-hal yang ditolak.
  8. Mengembangkan kepribadian. Secara pelan dan pasti kepribadian anak akan terbentuk melalui kegiatan bermain.

 

  1. Jenis-jenis Alat Bermain

            Alat permainan pada usia anak TK sangat bermanfaat dalam membantu mengembangkan seluruh dimensi perkembangan anak, yaitu bagi perkembangan motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, sosial, perkembangan emosional bagi anak TK. Bahan dan peralatan yang disediakan hendaknya merupakan sumber belajar yang dapat membantu mengembangkan seluruh dimensi perkembangan anak seusia TK, yaitu bagi perkembangan motorik, kognitif, kreativitas, bahasa sosial, dan perkembangan emosional bagi anak TK. Sebagaimana dikemukakan oleh Moeslichatoen (1999:50) bahwa bahan dan peralatan bagi anak TK harus memperhatikan:

  1. Pengembangan Dimensi Perkembangan Motorik Anak Tk

Anak usia TK adalah anak yang selalu aktif. Oleh karena itu, sebagian besar alat bermain diperuntukkan bagi pengembangan koordinasi gerakan otot kasar. Misalnya, kegiatan turun naik tangga meluncur dengan kecepatan dan kekuatan, kegiatan akrobatik, memanjat, berayun-ayun dengan menggunakan papan keseimbangan.

  1. Pengembangan Kognitif Anak Usia TK

Kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain kemampuan mengenal, mengingat, berfikir konvergen, divergen, memberi penilaian. Bahan dan peralatan yang dibutuhkan bagaimana terdapat dalam “Pedoman penggunaan alat peraga Taman Kanak-Kanak, yaitu papan pasak kecil, papan pasak berjenjang, papan tongkat, warna, menara gelang bujur sangkar, balok ukur dan papan hitung.

  1. Pengembangan Kreativitas Anak TK

Kemampuan kreatif yang dapat dikembangkan melaui bermacam ragam kegiatan bermain. Bermacam bahan yang bersifat manipulatif dapat dipergunakan: tanah liat cat, krayon, kertas, balok-balok, air, pasir, dan bahan yang dapat digerakkan.

  1. Pengembangan Bahasa Lisan Anak Usia TK

Kemampuan berbahasa lisan yang dapat dikembangkan melaui kegiatan bermain bertujuan untuk:

  1. Menguasai bahasa resetif: memahami perintah, menjawab pertanyaan dan mengikuti urutan peristiwa.
  2. Menguasai bahasa ekspresif yang meliputi: menguasai kata-kata baru dan menggunakan pola bicara orang dewasa.
  3. Berkormunikasi secara verbal dengan orang lain: berbicara sendiri atau berbicara kepada orang lain.
  4. Keasyikan menggunakan bahasa secara lisan.
  1. Pengembangan Sosial Anak Usia TK

Kemampuan sosial yang dapat dikembangkan melaui kegiatan bermain yang bertujuan untuk membina hubungan dengan anak lain dan belajar bertingkah laku yang dapat diterima dan sesuai dengan harapan anak. Bahan dan peralatan yang dapat digunakan untuk kegiatan ini adalah tempat air yang digunakan secara bergiliran, buku cerita buku bergambar, bahan teka teki, kuda-kudaan, sepeda roda tigan bersadel rangkap, telepon mainan, beberapa topi pemadam kebakaran, dan sebagainya.

  1. Pengembangan Emosi Anak Usia TK

Pengembangan emosi anak TK adalah:

  1. Kemampuan memahami perasaan
  2. Kemampuan berlatih membuat pertimbangan
  3. Kemampuan memahami perubahan
  4. Menyenangi diri sendiri

            Sedangkan bahan dan peralatan yang dipergunakan untuk mengembangkan keterampilan emosi ini antara lain: tanah liat atau lumpur, balok balok memelihara hewan peliharaan, bermain drama, cerita dan buku-buku yang menggambarkan perwatakan dan situasi dalam rentangan perasaan yang sangat luas.

 

  1. 4.      Nilai-nilai Bermain

            Para peneliti telah menemukan bahwa nilai bermain bagi anak sangat luas dan meliputi seluruh aspek perkembangan anak, baik fisik, kognitif bahasa sosial emosional maupun kreativitas. Berikut ini akan diuraikan nilai-nilai bermain bagi tiap-tiap aspek perkembangan anak, yaitu bagi aspek pertumbuhan dan perkembangan fisik, kognitif dan bahasa, sosial dan emosional (Montolalu, 2007:112).

  1. Nilai Bermain Bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik

Melalui permainan, aspek motorik kasar anak dapat dikembangkan. Kegiatan bermain dapat merangsang anak untuk menggunakan anggota-anggota tubuhnya. Kegiatan dalam bentuk bermain bebas, seperti berjalan, berlari, melompat, merangkak, melempar, mendorong, berayun, meluncur, meniti dan sebagainya sangat besar nilainya bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. Dalam kegiatan fisik ini seluruh tubuh anak aktif. Otot-otot besar dan otot-otot kecil memperoleh latihan, termasuk koodinasi otot-otot tersebut. Anak dapat menyalurkan energinya yang berlebihan melalui bermain yang mengandung gerakan-gerakan kasar dan kuat. Peredaran darah, kerja pencernaan makanan dan pernapasan anak menjadi teratur. Disamping itu kegiatan anak yang mempergunakan banyak tenaga dapat menimbulkan nafsu makan dan tidur yang sehat dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.

  1. Nilai Bermain Bagi Perkembangan Kognitif

Bermain merupakan media yang amat diperlukan untuk proses berfikir karena menunjang perkembangan intelektual melalui pengalaman yang memperkaya cara berfikir anak. Bermain merupakan kesempatan bagi anak untuk bereksplorasi, mengadakan penelitian-penelitian, melakukan  percobaan-percobaaan untuk memperoleh pengetahuan. Bermain juga membuka kesempatan bagi anak untuk berkreasi, menemukan serta membentuk dan membangun saat mereka menggambar, bermain air, bermain dengan tanah liat atau plastisin dan bermain balok.

  1. Nilai Bermain Bagi Perkembangan Sosial

TK didirikan dengan maksud sebagai pengantar anak memasuki SD dengan memberikan kesempatan pada anak bersosialisasi melaui cara yang sesuai dengan sifat alamiah anak yaitu bermain. Itu sebabnya di TK kegiatan bermain tidak bisa dikurangkan apalagi ditiadakan dengan sengaja atau tidak sengaja sering terjadi di TK. Dalam situasi bermain anak-anak akan belajar menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan keadaan kadang-kadang jumlah alat permainan yang sedikit memakasa anak untuk saling berbagi dengan temannya. Anak belajar menunggu giliran/antri, belajar bekerja sama, saling tolong menolong dan juga belajar menaati peraturan-peraturan bermain yang dimainkan bersama.

 

  1. Nilai Bermain Bagi Perkembangan Emosional

Bermain bersama anak mengalami pertengkaran dan berebut mainan. Hal ini biasa terjadi dalam proses menyesuaikan diri. Secara berangsur-angsur anak mendapat kesempatan unfuk mengontrol emosinya, belajar menahan diri dan bersabar. Disamping itu dari pengalaman pertengkaran yang terjadi, anak akan memperoleh konsep moral, seperti salah, benar, baik, buruk, jujur, adil, curang, fair dan sebagainya.

 

  1. Proses/Tahap Bermain

            Sri Ratna Dyah (2009:6) menerangkan bahwa proses bermain itu kaya akan makna, disitulah terjadi tranformasi dari jati diri objek serta situasi mejadi sifat-sifat pribadi, objek serta kejadian-kejadian yang hanya ada dalam khayalan anak-anak. Proses bermain anak diberi kegiatan yang sangat berharga untuk mempraktekkan keterampilan sosial dan kognitif. Pelaksanaan kelompok bermain ialah suatu kegiatan yang menerapkan fungsi-fungsi perencanaan, pengaturan, dan pelaksanaan kepada unsur-unsurnya (uang, orang dan barang) yang kegiatannya mengarah pada tujuan kelompok bermain yang hendak dicapai.

            Montolalu (2007:214) mengatakan bahwa agar dapat memberi bimbingan kepada anak TK dengan sebaik-baiknya guru perlu mengetahui bahwa pada umunnya anak-anak melalui tingkatan-tingkatan atau tahap-tahap (proses) bermain sebagai berikut:

  1. Tahap Manipulatif

Yaitu, suatu proses pada saat anak berusia 2-3 tahun. Dengan menggunakan alat-alat atau benda yang ia pegang, anak akan melakukan penyelidikan dengan cara membolak-balik meraba, bahkan menjatuhkan lalu melempar dan memungut kembali, dan sebagainya.

  1. Tahap Simbolis

Tahap dari manipulatif ke tahap simbolis hampir tidak terlihat. Tahap ini, anak melakukan kembali apa yarng pernah ia lakukan pada tahap manipulatif, contohnya kadang berbicara sendiri.

  1. Tahap Eksplorasi

Pada tahap ini anak bermain sendiri, ia lebih senang tidak berteman dalam bermain. Permainannya lebih banyak ke arah yang berhubungan dengan pasir, seperti mengayak pasir, menuangkannya dan meletakkan kembali dalam wadah.

  1. Tahap Eksperimen

Tahap ini, dimana anak mulai melakukan percobaan, yang berarti mereka memasuki tahap eksperirnen.

  1. Tahap dapat Dikenal

Anak usia 5-6 tahun pada umumnya telah mencapai tahapan bermain ini, yaitu membangun bentuk-bentuk yang realistis, bentuk-bentuk yang sudah dikenal atau dilihat anak dalam kehidupannya.

 

 

 

 

 

 

  1. C.          Permainan Permata Tersembunyi

            Permainan permata tersembunyi dapat dilakukan dengan perlengkapan sebagai berikut:

  1. Pasir di wadah plastik yang besar atau kotak pasir di halaman (pilihan lain: beras, kacang, atau pasir ukuran kecil di dalam karung, plastik besar di dalam baskom,  jika aktivitas ini lakukan di dalam ruangan).
  2. Kotak kecil yang berbentuk permata dari plastik
  3. Gambar-gambar yang disesuaikan dengan tema pembelajaran

Adapun cara melaksanakan permainan tersebut adalah sebagai berikut:

a)      Sembunyikan seluruh permata yang berisikan gambar-gambar di dalam pasir dan mulailah pencarian dengan menggali untuk menemukan permata tersembunyi

b)      Katakan (jika diperlukan, gunakan isyarat dengan jari) jumlah permata yang tersembuyi di dalam pasir. Kemudian katakan “ada lima permata tersembunyi di dalam pasir, Arsya bisakah kamu temukan semuanya?”

c)      Berikan dorongan kepada anak untuk menyusupkan tangannya ke dalam pasir, alih-alih menyingkirkan pasir itu, untuk mencari permata itu

d)     Menyuruh anak menceritakan sesuatu mengenai permata yang telah ditemukannya

e)      Mintalah anak meletakkan permata yang ditemukannya ke dalam sebuah wadah supaya dia dapat menghitung, dan menyebutkan nama-nama gambar yang terdapat di dalam permata tersebut.

            Menurut Tara Delaney (2010:38) jika guru melakukan permainan di dalam ruangan dan tak punya kesempatan untuk membuat kotak pasir maka sembunyikan permata yang sangat menarik bagi anak itu ke dalam wadah plastik yang sangat cekung, isi setengahnya dengan beras atau kecang, atau yang lainnya dan sembunyikan permata di dalamnya, jika ruangan mencukupi, guru dapat menggunakan wadah yang cukup besar sehingga anak dapat duduk di dalamnya sambil mencari permata tersebut.

            Adapun tujuan dari permainan ini adalah:

  1. Anak dapat menjawab pertanyaan dari guru tentang gambar yang ditemukan dalam permata.
  2. Anak dapat berbicara dengan kalimat sederhana ketika bercerita tentang permainan permata tersembunyi yang dilakukannya
  3. Anak dapat bercerita tentang isi permata yang tersembunyi
  4. Anak dapat mengucapkan sajak tentang gambar yang didapatkannya dalam permata.
  5. Anak dapat menyebutkan sebanyak-banyaknya kegunaan dari gambar yang ditemukan dalam permata.

 

  1. D.      Kerangka Berpikir

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa kreativitas anak adalah berkaitan dengan imajinasi atau manifestasi kecerdasan dalam pencarian yang bernilai. Proses kreatif berlangsung mengikuti tahap-tahap tertentu, tidak mudah mengindentifikasi secara persis pada tahap manakah suatu proses kreatif itu sedang berlangsung, yang dapat diamati adalah gejalanya berupa perilaku yang ditampilkan oleh individu. Salah satu kreativitas yang perlu ditingkatkan adalah kreativitas anak dalam berbahasa lisan. Menurut Ali Nugraha dan Yeni Rachmawati (2006:7.12) kreativitas berbahasa  ditunjukkan dengan keterampilan berkomunikasi secara efektif, mendengarkan, berkomunikasi dengan berbicara, menulis dan membaca.

Kreativitas berbahasa lisan dapat ditingkatkan melalui permainan Permata Tersembunyi. Permainan Permata Tersembunyi adalah sebuah aktivitas terobosan, dalam hal linguistik. Adapun kerangka berpikir pada penelitian ini meliputi 2 indikator, yaitu indikator yang berkaitan dengan permata tersembunyi dan indikator kreativitas berbahasa lisan yang meliputi item berikut ini.

Tabel 2.1 : Indikator Variabel Penelitian

Permata Tersembunyi

Kreativitas Berbahasa Lisan

-    Anak memasukkan tangannya ke dalam bak pasir

-    Anak dapat menjawab pertanyaan dari guru tentang gambar yang didapatkannya dalam permata

-    Anak mencari permata di dalam pasir

-      Anak dapat berkomunikasi, berbicara lancar ketika menceritakan isi permata

-    Anak dapat menemukan permata yang tersembunyi di dalam pasir

-      Anak mengucapkan sajak tentang gambar yang didapatkannya dalam permata

-      Anak dapat bekerja sendiri untuk menemukan permata yang tersembunyi di dalam pasir

-      Anak berani mengungkapkan pendapat dan keyakinannya dalam permainan permata tersembunyi

-       Anak menikmati permainan permata tersembunyi yang ditandai dengan keasyikan anak dalam bermain

-      Anak kritis terhadap pendapat orang lain dalam permainan permata tersembunyi

 

-        Anak dapat menyebutkan nama-nama gambar dan kegunaannya yang terdapat di dalam permata

 

 

 

 

 

  1. E.     Hipotesis

            Hipotesis dalam penelitian ini adalah kemampuan berbahasa lisan anak usia 5-6 Tahun dapat ditingkatkan melalui permainan permata tersembunyi di TK Tunas Baru Ranah – Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar.

 

 

 

 

 


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.          Jenis Penelitian

            Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, sebagaimana dikemukakan oleh Wardani (2002:14) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga kemampuan anak dalam berbahasa lisan dapat ditingkatkan.

            Rochiati (2005:24) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil tindakan-tindakan yang telah ditetapkan.

 

  1. B.           Variabel Penelitian dan Defenisi Operasional Variabel

            Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu :

  1. Permainanan permata tersembunyi (Variabel Y), merupakan permainan di dalam ruangan dan tidak punya kesempatan untuk membuat kotak pasir.
  2. Kreativitas Berbahasa lisan (Variabel X), kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang anak yang kreatif berbahasa secara lisan.

            

 

  1. C.          Rencana dan Prosedur Penelitian

            Penelitian ini terdiri dari 2 siklus, adapun setiap siklus dilakukan dalam 4 kali pertemuan. Adapun  tahapan-tahapan yang dilalui dalam penelitian tindakan kelas, yaitu: 1) Perencanaan atau persiapan tindakan, 2) Pelaksanaan tindakan, 3) Observasi dan interpretasi, 4) Analisis data, refleksi. Tempat dilaksanakan penelitian ini adalah di TK Tunas Baru Ranah. Jumlah anak sebanyak 50 orang anak.

            Suharsimi Arikunto dkk (2006:16) mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki atau meningkatkan mutu praktik pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan berbahasa lisan anak, dan diamati oleh observer. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, daur siklus penelitian tindakan kelas (PTK) menurut Suharsimi Arikunto (2006:16) adalah sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Daur Siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

a)      Perencanaan

            Rencana tindakan kelas, berisikan kegiatan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau perubahan tingkah laku dan sikap sebagai solusi. Perencanaan ini dimulai dengan menetapkan kelas sebagai tempat penelitian. Menyiapkan perangkat pembelajaran mulai dari silabus, Rencana Kegiatan harian, lembaran observasi guru dan anak, tes kemampuan berbahasa lisan.

b)     Pelaksanaan

            Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan melakukan mempelajari kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator setiap bidang pengembangan untuk masing-masing kelompok usia, mengidentifikasi tema dan sub tema dan memetakannya dalam jaring tema, mengidentifikasi indikator pada setiap kompetensi bidang pengembangan melalui tema dan sub tema, menentukan kegiatan pada setiap bidang pengembangan dengan mengacu pada indikator yang akan dicapai dan subtema yang dipilih. Pelaksanaan pembelajaran dengan kreativitas berbahasa lisan dilaksanakan guru dengan cara:

  1. Sembunyikan seluruh permata (terkubur) di dalam pasir dan mulailah pencarian dengan menggali untuk menemukan “permata” tersembunyi.
  2. Katakan (jika diperlukan, gunakan isyarat dengan jari) jumlah permata yang tersembunyi di dalam pasir. Kemudian katakan “ada lima permata tersembunyi di dalam pasir, Arshya, bisakah kamu temukan semuanya?”.
  1. Berikan dorongan kepada anak untuk menyusupkan tangannya ke dalam pasir, alih-alih menyingkirkan pasir itu, untuk mencari permata itu
  2. Menyuruh anak menceritakan sesuatu mengenai permata yang telah ditemukannya
  3. Mintalah anak meletakkan permata yang ditemukannya ke dalam sebuah wadah supaya dia dapat menghitung, dan menyebutkan nama-nama gambar yang terdapat di dalam permata tersebut.

c)      Pengamatan

Mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap anak. Tujuannya untuk mengetahui kualitas pelaksanaan tindakan. Waktu pelaksanaan observasi dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dengan melibatkan seorang guru lain sebagai pengamat yang menggunakan lembaran observasi.

d)     Refleksi

            Peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari berbagai kriteria. Tujuannya adalah mengetahui kekuatan dan kelemahan dari tindakan yang dilakukan untuk dapat diperbaiki pada siklus berikutnya. Untuk merencanakan perbaikan pada siklus I terlebih dahulu perlu dilakukan identifikasi masalah serta analisis dan perumusan masalah. Identifikasi masalah dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri tentang pembelajaran yang dikelola. Setelah masalah teridentifikasi, masalah perlu dianalisis dengan cara melakukan refleksi dan menelaah berbagai dokumen terkait. Dari hasil analisis, dipilih dan dirumuskan masalah yang paling mendesak dan mungkin dipecahkan oleh guru. Masalah kemudian dijabarkan secara operasional agar dapat memandu usaha perbaikan pada siklus ke II. Setelah masalah dijabarkan, langkah berikutnya adalah mencari, mengembangkan cara perbaikan, yang dilakukan dengan mengkaji teori, berdiskusi dengan teman sejawat dan pakar, serta menggali pengalaman sendiri.

 

  1. D.          Subjek Penelitian

            Dalam penelitian ini subjek adalah anak  TK Tunas Baru Ranah – Air Tiris Kecamatan Kampar Kabupaten Kampar dengan jumlah anak 50 orang pada tahun ajaran 2012/2013 yang terdiri dari 2 kelas, adapun 2 kelas tersebut adalah kelompok B1, berjumlah 23 anak dan kelompok B2 berjumlah 27 anak.

 

  1. E.           Teknik Pengumpulan Data

Adapun data dalam penelitian ini adalah data tentang kreativitas berbahasa lisan yang diperoleh dari hasil pengamatan (lembaran observasi).

Tabel.3.1

Kategori Penilaian Kreativitas Berbahasa Lisan Anak

Aspek yang dinilai

BB

MB

BSH

BSB

-       Anak dapat menjawab pertanyaan dari guru tentang gambar yang didapatkannya dalam permata

-       Anak dapat berkomunikasi, berbicara lancar ketika menceritakan isi permata

-       Anak mengucapkan sajak tentang gambar yang didapatkannya dalam permata

-       Anak berani mengungkapkan pendapat dan keyakinannya dalam permainan permata tersembunyi

-       Anak kritis terhadap pendapat orang lain dalam permainan permata tersembunyi

-       Anak dapat menyebutkan nama-nama gambar dan kegunaannya yang terdapat di dalam permata

 

 

 

 

 

Kemudian untuk menilai permainan permata tersembunyi anak dapat diperhatikan pada tabel berikut ini.

 

Tabel.  3.2

Kategori Penilaian Aktivitas Anak dalam

Pelaksanaan Permainan Permata Tersembunyi

Aspek yang dinilai

BB

MB

BSH

BSB

-       Anak memasukkan tangannya ke dalam bak pasir

-       Anak mencari permata di dalam pasir

-       Anak dapat menemukan permata yang tersembunyi di dalam pasir

-       Anak dapat bekerja sendiri untuk menemukan permata yang tersembunyi di dalam pasir

-       Anak menikmati permainan permata tersembunyi yang ditandai dengan keasyikan anak dalam bermain

 

 

 

 

 

Keterangan:

  1. BB = Belum berkembang, diberi skor 1 apabila anak tidak memiliki kreativitas berbahasa lisan dengan baik dengan simbol bintang
  2. MB = Mulai berkembang, diberi skor 2 apabila anak kurang kreativitas berbahasa lisan dengan baik dengan simbol bintang
  3. BSH = Berkembang sesuai harapan, diberi skor 3 apabila anak memiliki kreativitas berbahasa lisan dengan baik dengan simbol bintang
  4. BSB = Berkembang sangat baik, diberi skor 4 apabila anak memiliki kreativitas berbahasa lisan dengan baik sekali dengan simbol bintang

 

 

 

 

  1. F.           Analisis Data

            Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah data tentang kemampuan berbahasa lisan, diolah dengan teknik analisis deskriptif yang bersifat kuantitatif. Analisis data yang dilakukan secara deskriptif bertujuan untuk menggambarkan data tentang aktivitas guru dan anak selama proses pembelajaran, dan data peningkatan kemampuan berbahasa lisan pada anak, selanjutnya penelitian terhadap kreativitas berbahasa lisan anak menggunakan ketentuan penilaian menurut Pedoman Penilaian Taman Kanak-kanak dengan menggunakan simbol bintang sebagaimana telah dijelaskan di atas.

            Kemudian, menurut Anas Sudijono (2004:43) untuk menentukan keberhasilan aktivitas guru dan kreativitas berbahasa lisan anak selama proses pembelajaran diolah dengan menggunakan rumus persentase, yaitu sebagai berikut : 

 

Keterangan:

F          = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya

N         = Number of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu)

p          = Angka persentase

100%   = Bilangan Tetap

            Dalam menentukan kriteria, maka dilakukan pengelompokkan atas 4 kriteria penilaian (Arikunto: 2002.246) sebagai berikut:

  1. 76% – 100% tergolong baik
  2. 56% – 75% tergolong cukup baik
  3. 40% – 55% tergolong kurang baik
  4. 40% kebawah tergolong tidak baik”.

Leave a comment

Filed under CONTOH PROPOSAL

CONTOH PROPOSAL BK (INDIKATOR EMOSI MARAH, SENANG, SEDIH, DAN TAKUT)

MENGALAMI KESULITAN MEMBUAT PROPOSAL, HUBUNGI 081337999117 (PEKANBARU)

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A. Latar Belakang Masalah

Bagi sebagian orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, masa remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja adalah kenangan yang tidak mudah dilupakan sebaik atau seburuk apapun pada saat itu. Sementara itu banyak orang tua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orang tua dan remaja itu sendiri. Banyak orang yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi. Sebaliknya bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari identitas atau jati diri yang mandiri dari pengaruh orang tua dan guru.Masa remaja merupakan pula masa berkembangnya rasa kebangsaan,karena itu pada masa peka ini dipergunakan sebaik-baiknya untuk menanamkan semangat patriotic kepada mereka (Sumadi Suryabrata, 1984:23).

G. Stanley Hall adalah ahli psikologi dan pendidikan yang merupakan salah seorang “Father of Adolesence”. Dia meyakini melalui mekanisme evolusi,remaja dapat memperoleh sifat-sifat tertentu melalui pengalaman hidupnya yang kritis.Sifat-sifat tersebut dapat ditransmisi (diteruskan) melalui keturunan pada masa konsepsi. Apabila remaja berkembang dalam lingkungan yang kondusif,mereka akan memperoleh sifat-sifat yang mengembangkan nilai-nilai insaninya.       

Hall berpendapat bahwa remaja merupaka masa “Strum and Drung” yaitu sebagai periode yang berada dalam 2 (dua) situasi antara kegoncangan, penderitaan, asmara,   dan pemberontakan dengan otoritas orang dewasa, (Syamsu Yusuf, 2002: 195).  

Apabila remaja kurang mendapat bimbingan keagamaan dalam keluarga,kondisi keluarga yang kurang harmonis, orang tua yang kurang memberikan kasih sayang dan berteman dengan kelompok teman sebaya yang kurang menghargai nilai-nilai agama maka kondisi diatas akan menjadi pemicu berkembangnya sikap dan perilaku remaja yang kurang baik atau asusila seperti pergaulan bebas (free sex),minum-minuman ke  ras, mengisap ganja dan menjadi trouble maker (pengganggu ketertiban/ pembuat onar) dalam masyarakat.

Remaja sebagai individu sedang berada dalam proses berkembang atau menjadi  (becoming) yaitu berkembang kearah kematangan atau kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, remaja memerlukan bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan tentang dirinya dan lingkungannya,juga pengalaman dalam menentukan arah kehidupannya.

Iklim lingkungan yang tidak sehat cendrung memberikan dampak yang kurang baik bagi perkembangan remaja dan sangat mungkin mereka akan mengalami kehidupan yang tidak nyaman, stress, dan depresi.Dalam kondisi seperti inilah banyak remaja yang meresponnya dengan sikap dan perikalu yang kurang wajar dan bahkan amoral seperti kriminalitas,penyalah gunaan obat terlarang,tawuran dan minum-minuman keras.

Kehidupan sosial pada jenjang remaja ditandai dengan menonjolnya fungsi inte lektual dan emosional (H. Sunarto dan B. Agung Hartono.1995:129)

Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/ kasih sayang,gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih dan lain-lain. Perbedaan terletak pada macam dan derajat ransangan yang membangkitkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.

Emosi adalah pengalaman efektif yang disertai penyesuaian diri dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.      Mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan yang sangat su lit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Apabila  lingkungan tersebut kondusif,dalam arti kondisinya diwarnai oleh hubungan yang  harmonis, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, maka  remaja cenderung dapat mencapai kematangan emosionalnya. Sebaliknya apabila kurang dipersiapkan untuk memahami peran-perannya dan kurang mendapatkan perhatian  dan kasih sayang dari orang tua atau pengakuan dari teman sebaya, mereka cenderung akan mengalami kecemasan, perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional.

Dalam menghadapi emosional tersebut,tidak sedikit remaja yang mereaksinya se cara defensif, sebagai upaya untuk melindungi kelemahan dirinya.Reaksi itu tampil  galam tingkah laku malasuai, seperti:

  1. Agresif :melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi, dan senang mengganggu.
  2. Melarikan diri dari kenyataan :melamun, pendiam, senang menyendiri, dan meminum minuman keras atau obat-obatan terlarang.

Berdasarkan pengamatan penulis di SMP N 25 .Pekan Baru terlihat/terdapat ber macam-macam emosional anak yang menunjukkan perkembangan anak yang dalam proses perkembangannya.yaitu sebagai berikut:

  1. Sering marah terhadap keinginan atau rencana dan niat yang ingin dilakukannya mendapat rintangann
  2. Sering sedih apabila kehilangan sesuatu yang dicintainya.
  3. Senang apabila mendengar atau adanya sesuatu yang datangnya tiba-tiba atau tidak diduga.
  4. Sering takut dalam berbagai hal yang berhubungan dengan diri atau status seperti takut gagal,takut dicemoohkan dan sebagainya.
  5. Sering malu seperti dalam penarikan diri dengan orang lain yang tidak dikenal atau tidak sering berjumpa.
  6. Sering cemburu dan tidak tentram dalam hubungannya dengan orang yang dicintai dan takut kehilangan status dalam hubungan kasih sayang. Dan sebagainya.

Berdasarkan fenomena-fenomena diatas ,maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan juduL:

 

            SURVEY TENTANG JENIS-JENIS EMOSI PADA REMAJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN KELAS VIII PADA SMP NEGERI 25 PEKANBARU TAHUN PELAJARAN 2009 – 2010.

 

 

 

 

B.PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah,maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Jenis-jenis emosi senang apa sajakah yang dialami oleh remaja  laki Laki dan perempuan di SMP NEGERI 25 Pekan Baru.
  2. Jenis-jenis emosi sedih apa sajakah yang dialami oleh remaja laki-laki dan     perempuan di SMP N 25 Pekan Baru.
  3. Jenis-jenis emosi takut apa sajakah yang dialami oleh remaja laki-laki dan perempuan di SMP NEGERI 25 Pekan Baru.
  4. Jenis-jenis emosi marah apa sajakah yang dialami oleh remaja laki-laki dan perempuan    di SMP NEGERI 25 Pekan Baru.
  5. Bagaimanakah gambaran latar belakang keluarga dari remaja tersebut.

       

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui gambaran jenis emosi senang pada remaja laki-laki dan perempuan di SMP NEGERI 25 Pekan Baru.
  2. Untuk mengetahui gambaran jenis emosi sedih pada remaja laki-laki dan perempuan di SMP NEGERI 25  Pekan Baru.
  3. Untuk mengetahui gambaran jenis emosi takut pada remaja laki-laki dan perempuan di SMP NEGERI 25 Pekan Baru.
  4. Untuk mengetahui gambaran jenis emosi marah pada remaja laki-laki dan perempuan di SMP NEGERI  Pekan Baru.25 Pekan Baru.
  5. Untuk mengetahui gambaran latar belakang keluarga remaja tersebut.

D. DEFINISI OPERASIONAL

Untuk kemudahan memahami dan menghindari penafsiran yang keliru terhadap   istilah istilah yang digunakan dalam penelitian ini ,maka penulis merasa perlu untuk mem berikan definisi operasional sebagai berikut:           

 

PENGERTIAN EMOSI

Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan senang. Perasaan senang atau tidak senang yang terlalui menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna efektif. Warna efektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas (samar-samar). Dalam warna efektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan-perasaan seperti ini disebut EMOSI (Sarlito, 1982:59). Di samping perasaan senang atau tidak senang, beberapa contoh macam emosi yang lain adalah, cinta, marah, takut, cemas dan benci.

 

JENIS-JENIS EMOSI

            Dalam penelitian ini jenis- jenis emosi yang dipakai sebagai landasan teori adalah pendapat Zulfan Saam (2009 : 98 ).

Menurut ZULFAN SAAM ,Emosi dasar digolongkan menjadi empat golongan yakni: 1. senang. 2. sedih. 3. takut. 4 marah

1.Emosi senang adalah gambaran rasa senang yang dialami seseorang. Emosi  senang ini terdiri dari misalnya: gembira, bahagia, cinta, suka, riang, sayang takjub, kagum, dan damai.

2.Emosi sedih adalah gambaran rasa tidak senang yang dialami seseorang.Emosi Ini seperti :pilu, duka, lara, kecewa, hampa, merana, putus asa, galau, gundah,  frustasi, dan rindu.

3.Emosi takut adalah gambaran rasa tidak senang yang dialami seseorang , baik ter

hadapobjek dari luar diri maupun dari dalam diri orang tersebut.Objek dari luar diri misalnya: takut pada pencuri, takut pada harimau, dan perampok.Sedang kan rasa takut yang objeknya dalam diri orang tersebut misalnya:takut tidak lu lus, takut berbuat salah, dan sebagainya.

4.Emosi marah merupakan gambaran perasaan terhadap sesuatu objek seperti peris Tiwa, perilaku orang, hubungan sosial, dan keadaan lingkungan.

Emosi Dasar (Zulfan Saam 2009  :98)

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

C. PENGERTIAN REMAJA

Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia antara 11 tahun sampai 24 tahun dan belum menikah..

Menurut Hurlock. 1964. Prof. Dr. H .Sunarto. Dra.Ny. B.Agung Hartono:57). Rentangan usia remaja itu antara 13- 21 tahun,yang dibagi pula dalam usia remaja awal 13 atau 14 sampai 17 tahun, dan remaja akhir 17 sampai 21 tahun.Kemudian dalam penelitian remaja yang diteliti adalah berusia antara 12- 16 tahun (remaja awal.)

D. LATAR BELAKANG KELUARGA.

            Dalam penelitian ini latar belakang keluarga yang diteliti terdiri dari:

  1. Tingkat pendidikan orang tua

-tamat SD/tidak tamat SD, tamat SMP/tidak tamat SMP, tamat SMA/tidak                             tamat SMA,tamat perguruan tinggi/tidak tamat perguruan tinggi, pasca sarjana/tidak tamat pasca sarjana

  1. Jenis pekerjaan orang tua.

-PNS ( pegawai pemda / pegawai pemko / ABRI / guru / kandepag / dinas pendidikan )

-Wiraswasta  ( buruh, pedagang, petani)

  1. Keluarga utuh atau keluarga tidak utuh.

- masih utuh, kedua orang tua masih ada

- keluarga tidak utuh / salah satu orang tua sudah meninggal

- keluarga broken home ( orang tua sudah bercerai )

  1. Anak keberapa dalam keluarga tersebut.

- anak pertama / anak kedua / anak ketiga / anak bungsu

            5.   Status anak dalam keluarga.

-anak kandung / anak tiri / anak angkat / anak tunggal

  1. Keluarga besar atau keluarga kecil.

-Didalam keluarga tersebut ada nenek, kakek, tante, paman dan yang lainnya

  1. Keluarga yang  sibuk dan keluarga yang tidak sibuk.

-orang tua selalu pulang kerja larut malam / pulang seminggu sekali / pulang sebulan sekali / 6 bulan sekali / setahun sekali.

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A. PENGERTIAN REMAJA

Masa remaja dapat dipandang sebagai suatu masa remaja individu dalam proses  pertumbuhannya yang telah mencapai kematangan. Masa ini menunjukkan suatu masa  kehidupan dimana kita sulit untuk memandang remaja itu sebagai kanak-kanak, tapi tidak juga sebagai orang dewasa. Masa ini disebut periode transisi atau peralihan dari kehidupan masa kanak-kanak kemasa dewasa.

Masa remaja merupakan periode yang meliputi masa pertumbuhan seseorang atau masa transisi dari anak-anak kemasa dewasa.(Zakiah darajat,1993:23).

Masa remaja dapat ditinjau sejak seseorang menunjukkan tanda-tanda pubertas  dan belum berlanjut hingga tercapainya  kematangan seksual.

Masa remaja menurut Mappiare 1982, M. Ali. M . Asrori:9),berlangsung antara umur 12 thn sampai dengan 21 thn bagi wanita, dan 13 – 22 tahun bagi pria.

Remaja yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa latin Adolescere yang artinya”tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”.

Perkembangan lebih lanjut,istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik(Hurlock 1991,M. ali M. Asrori: 9). Pandangan ini didukung oleh Piaget(Hurlock, 1991,)yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi kedalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama,atau paling tidak Sejajar.

Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak ter masuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk termasuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu , remaja seringkali dikenal dengan fase”mencari jati diri” atau fase” topan dan badai” Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan  secara maksimal

   fungsi fisik maupun psikisnya(Monks dkk. Dalam M. Ali. M Asrori :10).

Istilah asing yang sering dipakai untuk menunjukkan makna remaja, antara lain adalah Puberteit, Adolecentia, dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering pula dikatakan Pubertas atau Remaja. Istilah  puberty (Inggris) atau puberteit (Belanda) berasal dari bahasa latin: Pubertas yang berarti usia kedewasaan (the age of manhood). Istilah

Ini berkaitan dengan kata latin lainnya Pubercere yang berarti masa pertumbuhan rambut di daerah tulang “pusic” (diwilayah kemaluan). Pubercere dan puberty sering diar tikan sebagai masa tercapainya kematangan seksual .

Di Indonesia baik istilah pubertas maupun adolescentia dipakai dalam arti umum dengan istilah yang sama yaitu Remaja.

Remaja itu sulit didefinisikan secara mutlak. Oleh karena itu,dicoba untuk memahami remaja menurut berbagai menurut berbagai sudut pandangan, antara lain menurut hukum, perkembangan fisik, WHO, sosio psikilogi, dan pengertian remaja menurut pandangan masyarakat Indonesia.

  1. Remaja menurut hukum.                                                                                            

Dalam hubungan dengan hukum, tampaknya hanya undang-undang perkawinan sa

Ja yang mengenal konsep “remaja” walaupun tidak secara terbuka.Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (pasal 7 undang-undang No. 1/ 1974 tentang perkawinan.

  1. Remaja ditijau dari sudut perkembangan fisik

Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait, remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Pada pematangan fisik ini berjalan lebih kurang 2 tahun dan biasanya dihitung mulai menstruasi pertama pada anak wanita ata sejak anak pria mengalami mimpi basah yang pertama.

  1. Batasan remaja menurut Who

Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:

  1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
  2. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
  3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri
  4. Remaja ditinjau dari faktor sosial psikologis.

Salah satu ciri remaja disamping tanda-tanda seksualnya adalah : “perkembangan psokologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa”. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya prosesperubahan dari kondisi “entropy” ke kondisi “negentropy.(Sarlito 1991:11).( H. Sunarto. Ny

B. Agung Hartono)

Entropy adalah keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi.Isi kesadaran saling bertentangan ,saling tidak berhubungan sehingga mengurangi kerjanya dan menimbulkan pengalaman yang kurang menyenangkan buat orang yang bersangkutan.

Selama masa remaja, kondisi entropy ini secara bertahap disusun ,diarahkan, distrukturkan kembali, sehingga lambat laun terjadi kondisi “negentropy”

Kondisi negetropy adalah keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik,pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap.Orang dalam keadaan negentropy merasa dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan tujuan yang jelas,ia tidak perlu dibimbing lagiuntuk bisa mempunyai tanggung jawab dan semangat kerja yang tinggi.

  1. Definisi remaja untuk Masyarakat Indonesia

Tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional.Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku,adat, dan tingkatan sosial ekonomi,maupun pendidikan.(Sarlito 1991 : 11 )

. H. Sunarto. Ny. B. Agung Hartono)

Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah.

Menurut Hurlock 1964.rentang usia remaja itu antara 13 – 21 tahun,yang dibagi pula dalam usia remaja awal 13, 14 sampai 17 tahun, dan remaja akhir 17 – 21 tahun.

Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Atau tubuhnya kelihatan sudah dewasa, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menunjukkan kedewasaannya.

Para remaja sering terlihat adanya:

  1. Kegelisahan : Keadaan yang tidak tenang menguasai diri siremaja.
  2. Pertentangan :Pertentangan yang menimbulkan kebingungan bagi diri mereka.
  3. Berkeinginan besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahuinya.
  4. Keinginan untuk menjajaki ke alam sekitar yang lebih luas,seperti melibatkan   diri dalam kegiatan-kegiatan pramuka atau himpunan pencinta alam.(HPA).
  5. Menghayal dan berfantasi: Khayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karir.
  6. Aktifitas kelompok:Untuk menemukan  jalan keluar dari kesulitan-kesulitannyadengan berkumpul melakukan kegiatan bersama. Keinginan berkelompok ini tumbuh sedemikian besar dan dapat dikatakan merupakan ciri masa remaja.

 

B. PENGERTIAN EMOSI.

Perbuatan atau perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai oleh perasaan-   perasaan tertentu,seperti perasaan senang atau tidak senang. Perasaan senang atau tidak senang yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut warna efektif.Warna efektif ini kadang-kadang kuat,kadang-kadang lemah,atau kadang-kadang tidak jelas (samar-samar). Dalam hal warna efektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih dalam,lebih luas dan lebih terarah. Perasaan-perasaan ini disebut emosi. (Sarlito ,1982:59)

Emosi dan perasaan adalah dua hal yang berbeda.Tetapi perbedaan antara keduanya tidak dapat dinyatakan dengan tegas.Emosi dan perasaan merupakan suatu gejala emosional yang secara kualitatif berkelanjutan, akan tetapi tidak jelas batasnya.

Chaplin 1989(M. Ali. M. Asrori:62 membedakan emosi dengan perasaan,dan dia mendefinisikan perasaan(feeling)adalah pengalaman disadari yang diaktifkan oleh peransang eksternal maupun oleh bermacam-macam keadaan jasmaniah.

Emosi adalah suatu respon terhadap suatu peransang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus.Rwspon demikian terjadi baik terhadap peransang eksternal maupun internal. (Soegarda Poerbakawaca,1982. M Ali. M. Asrori:630

Dengan definisi ini semakin jelas perbedaan antara emosi dengan perasaan,bahkan tampak jelas bahwa perasaan termasuk ke dalam emosi atau menjadi bagian dari emosi.

Sesungguhnya ada ratusan emosi bersama dengan variasi, campuran, mutasi, dan nuansanya sehinggamakna yang dikandung lebih banyak,lebih kompleks, dan lebih halus dari pada kata dan definisi yang digunakan untuk menjelaskan emosi.

 

C. JENIS-JENIS EMOSI

DANIEL GOLEMAN 1995. M.Ali. M.Asrori (2004 : 63)Mendefinisika sejumlah kelompok emosi, yaitu:1.Amarah. 2.Kesedihan. 3.Rasatakut. 4.Kenikmatan. 5.Cinta. 6.Terkejut. 7.Jengkel. 8.Malu.

Jadi emosi adalah Setiap pergolakan pikiran ,perasaan dan nafsu atau setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap.Karena berada pada masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa,status remaja agak kabur,baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya.

Conny Semiawan 1989.(M. A li. M. Asrori (2004 :67 ) )mengibaratkan :Terlalu besar untuk serbet,terlalu kecil untuk taplak meja. Karena sudah bukan anak-anak lagi,tetapi juga belum dewasa.masa remaja biasanya memiliki energi yang besar,emosi berkobar- kobar,sedangkan pengendalian diri belum sempurna.Remaja juga sering mengalami  perasaan tidak aman, tidak tenang dan khawatir kesepian.

 

BAB III

  PROSEDUR PENELITIAN

 

 A.  ASUMSI

 

            Asumsi yang dapat disajikan dalam penelitian ini antara lain:

  1. Masing-masing remaja mempunyai jenis emosi yang berbeda-beda.
  2. Jenis-jenis emosi bisa diukur dan di dentifikasi.
  3. Siswa remaja laki-laki dan perempuan berada pada periode perkembangan yang sama.

 

  1. POPULASI DAN SAMPEL.
  2. POPULASI

Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek penelitian . dalam penelitian ini populasi penulis adalah siswa kelas VIII SMP NEGERI 25 Pekanbaru tahun pelajaran 2009 / 2010 dengan jumlah 270 orang.

 

2.  SAMPEL

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Teknik Total Sampling ( teknik sampel jenuh ) artinya seluruh anggota populasi dalam penelitian ini dijadikan sebagai anggota sampel ( Suharsini Arikunto 2002 : 112 ).

Dalam penelitian ini jumlah sampel sama dengan jumlah anggota populasi yaitu berjumlah 270 orang.

 

 

 

 

Populasi dan Sampel Penilitian

No

Jenis Populasi

Populasi

Sampel

Keterangan

L

P

L

P

 

Remaja Kelas VIII SMP N 25

Pekan Baru

114

156

114

156

 

 

Jumlah

114

156

114

156

270

 

C.  METODE PENELITIAN

             Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yaitu penelitian yang dimaksudkan

       untuk mendapatkan informasi tentang karakter suatu kenyataan sebagaimana adanya

      ( Suharsini Arikunto :1992 :10 )          

 

D..DATA DAN ALAT PENGUMPULAN DATA

 

            Sesuai dengan permasalahan pada penelitian ini, maka data yang diperlukan sebagai berikut :

  1. Jenis-jenis emosi marah, sedih, senang, dan takut pada remaja laki-laki dan perempuan pada SMP NEGERI 25 Pekanbaru yang terdiri dari 29 indikator.
  2. Latar belakang keluarga

              1. Tingkat pendidikan orang tua

              2. Jenis pekerjaan orang tua

              3. Keluarga utuh atau keluarga tidak utuh

              4. Anak keberapa

              5. Status anak dalam keluarga : anak kandung/anak tiri/anak angkat/anak tunggal

              6. Keluarga besar atau keluarga kecil

              7. Keluarga yang orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaan

 

 

Variabel Penelitian

Indikator

Deskriptor

No item

 

Jumlah

1.Jenis-jenis 

   Emosi

 

 

 

 

 

 

 

 

1. Senang

 

 

 

 

 

 

 

2. Sedih

 

 

 

 

 

 

 

3. Takut

 

 

 

 

 

4. Marah

 

Gembira

Bahagia

Cinta

Suka

Riang

Sayang

Kagum

Damai

Pilu

Duka

Lara

Kecewa

Putus asa

Galau

Frustasi

Rindu

Cemas

Cemburu

Malu

Ragu-ragu

Khawatir

Gelisah

Jengkel

Jijik

Dendam

Dongkol

Kesal

Benci

muak

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

29

 

 

 

 

 

 

 

2.Latar  

   Belakang

   Keluarga

1.Tingkat

   Pendidikan

  orang tua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Jenis

    Pekerjaan

   Orang tua

 

 

 

 

 

3.keluarga utuh/

   Keluarga tidak

   Utuh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.Anak keberapa

   Dalam keluarga

   Tersebut

 

 

5.Status anak

   Dalam keluarga

 

 

 

 

6.Keluarga

   Besar atau kecil

 

 

 

 

 

 

7. Keluarga yang

    Sibuk /

    Keluarga yang

    Tidak sibuk

 

tamat SD/ tidak tamat SD, tamat SMP/tidak tamat SMP, tamat SMA/tidak                    tamat SMA, tamat perguruan tinggi/tidak tamat perguruan tinggi, pasca sarjana/tidak tamat pasca sarjana

-PNS (pegawai pemda / pegawai pemko / ABRI / guru / kandepag / dinas pendidikan)

 

 

-masih utuh, kedua orang tua masih ada

-keluarga tidak utuh / salah satu orang tua sudah meninggal

-keluarga broken home (orang tua sudah bercerai )

 

-anak pertama / anak kedua / anak ketiga / anak bungsu

 

-anak kandung / anak tiri / anak angkat / anak tunggal

 

 

-Didalam keluarga tersebut apakah  ada nenek, kakek, tante, paman dan yang lainnya

 

-orang tua selalu pulang kerja larut malam / pulang seminggu sekali / pulang sebulan sekali / 6 bulan sekali / setahun sekali.

 

 

 

 

E.  TEKNIK ANALISA DATA

            1. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik persentase yaitu untuk mencari gambaran tentang jenis-jenis emosi pada remaja laki-laki dan perempuan pada SMP NEGERI 25 Pekanbaru Tahun Pelajaran 2009/2010. dengan rumus      

                    F

             P =  x 100%

                   N

  Keterangan :

                       P : persentase

                       F : frekuensi jawaban

                       N : jumlah sampel ( Anas Sudjiono, 2001 : 40 )

Leave a comment

Filed under CONTOH PROPOSAL

CONTOH PROPOSAL BK

MENGALAMI KESULITAN MEMBUAT PROPOSAL, HUBUNGI 081337999117 (PEKANBARU)

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Belakang

Pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan disetiap negara. Menurut Undang-Undang No 20 tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, memiliki kecerdasan berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara.[1] Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

1

 

Dari semua itu tujuan dari setiap anak didik datang ke sekolah tidak lain kecuali untuk belajar di kelas agar mendapatkan ilmu pengetahuan. Sebagian besar waktu yang tersedia harus digunakan oleh anak didik untuk belajar, tidak mesti ketika di sekolah, di rumah pun harus ada waktu yang disediakan untuk kepentingan belajar. Tiada hari tanpa belajar adalah ungkapan yang tepat bagi anak didik.

Kenyataan yang terjadi menurut Syaiful Bahri Djamarah bahwa prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, permasalahan, hambatan dan gangguan. Namun, sayangnya ancaman, permasalahan, hambatan, dan gangguan dialami oleh anak didik tertentu. Sehingga mereka mengalami permasalahan belajar. Pada tingkat tertentu memang ada anak didik yang dapat mengatasi permasalahan belajarnya, tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, karena anak didik belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh anak didik.

Lebih lanjut, menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya Psikologi Belajar edisi 2 disebutkan bahwa permasalahan belajar yang dirasakan oleh anak didik bermacam-macam, yang dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut:

  1. Dilihat dari jenis permasalahan belajar
    1. Ada yang berat
    2. Ada yang ringan
  2. Dilihat dari mata pelajaran yang dipelajari
    1. Ada yang sebagian mata pelajaran
    2. Ada yang sifatnya sementara
  3. Dilihat dari sifat kesulitannya
    1. Ada yang sifatnya menetap
    2. Ada yang sifatnya sementara
  4. Dilihat dari segi faktor penyebabnya
    1. Ada yang karena faktor intelegensi
    2. Ada yang karen faktor non-intelegensi[2]

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen pendidikan, mengingat bahwa bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan bantuan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa pada khususnya dalam rangka mengembangkan kepribadian dan potensi-potensinya. Secara umum bimbingan dan konseling itu pada dasarnya bertujuan untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan. Dalam kaitan ini, bimbingan dan konseling membantu individu khususnya siswa untuk menjadi manusia yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian dan lain-lain sesuai dengan diri individu tersebut.

Berdasarkan SK Mendikbud No. 025/01/1995 tentang petunjuk teknis ketentuan pelaksanaan jabatan fungsional dan angka kreditnya Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk siswa baik secara optimal dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.[3]

           

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa tugas seorang guru pembimbing adalah melaksanakan layanan bimbingan baik dalam bimbingan belajar, pribadi, sosial dan karir. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan adanya guru pembimbing yang profesional terasa lebih lengkap jika dibandingkan tanpa guru pembimbing yang belum profesional.

Sebagaimana dikemukakan oleh Syaiful Bahri untuk mengatasi permasalahan di atas diperlukan treatment yang tepat sesuai dengan gejala yang ada. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:

  1. Bimbingan belajar individual
  2. Bimbingan belajar kelompok dalam kelas
  3. Remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu
  4. Bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah psikologis
  5. Bimbingan cara belajar yang baik secara umum, dan
  6. Bimbingan cara belajar yang baik sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran.[4]

 

Menurut Prayitno bimbingan atau guidence pada prinsipnya adalah sebagai bantuan untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaian yang baik.[5]

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri I Tambang, pada saat kegiatan belajar antara lain ditemui fenomena sebagai berikut:

  1. Guru melaksanaan tugasnya dengan memberikan pemahaman tentang diri siswa
  2. Guru mengembangkan pemahaman tentang sikap yang baik bagi siswa baik di sekolah, rumah maupun masyarakat.
  3. Guru mengembangkan pemahaman tentang kebiasaan belajar yang baik, baik di rumah maupun di sekolah.
  4. Guru mengembangkan bakat dan minat siswa dalam belajar

Berdasarkan gejala-gejala atau fenomena yang telah disebutkan penulis tertarik ingin melakukan suatu penelitian ilmiah dengan judul upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.

  1. B.     Penegasan Istilah

Sesuai dengan judul penelitian yaitu “Upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar” maka ada beberapa istilah penting dalam penelitian ini yang dapat diperjelas masksudnya, yaitu:

Upaya                    :    Upaya adalah usaha, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya).[6] Dalam penelitian ini yang dimaksud upaya adalah upaya memberikan pelayanan bimbingan dalam belajar di SMPN 1 Tambang.

Guru pembimbing  :    Dalam SK Mendikbud dan Kepala BAKN no 0433/p/1993 no 25 tahun 1993 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya diatur pada pasal 1 ayat 4 bahwa guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.Kompetensi Guru pembimbing dalam Proses Bimbingan dan konseling.[7]

Pelayanan               :    Sampara (dalam Sinambela, 2007:5) berpendapat bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antar seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan.[8]

Bimbingan belajar  :    Bimbingan belajar Menurut Prayitno dan Amti bimbingan belajar adalah salah satu bentuk bimbingan yang diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi, seringkali kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.[9]

 

  1. C.    Permasalahan

1.   Identifikasi Masalah

  1. Masalah apa saja yang terdapat dalam bidang bimbing belajar?
  2. Upaya apa saja yang dilakukan siswa dalam menghadapi masalah belajar?
  3. Upaya apa saja yang dilakukan guru bidang studi dalam bimbingan belajar?
  4. Upaya apa saja yang dilakukan guru pembimbing dalam bimbingan belajar?
  5. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi upaya guru pembimbing dalam bimbingan belajar?

 

2. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya permasalahan yang perlu diteliti maka penulis membatasi masalah yang dikaji yaitu tentang upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar dan faktor yang mempengaruhi upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.

 

 

 

  1. 2.      Rumusan Masalah

 Sesuai judul dan latar belakang maka dapat peneliti rumuskan permasalahannya yaitu:

  1. Bagaimana upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar?
  2. Apa faktor yang mempengaruhi upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar?

 

  1. D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
    1. 1.      Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang ingin peneliti capai antara lain adalah

  1. Untuk mengetahui upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar
  2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar

 

 

 

 

  1. 2.      Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian  sebagai berikut.

  1. Sebagian bahan masukan bagi guru pembimbing untuk lebih memperhatikan tugas-tugas dan kewajibannya terhadap kegiatan belajar mengajar terutama dalam mengatasi permasalahan siswa dalam ujian nasional.
  2. Masukan bagi sekolah untuk lebih dapat mengembangkan layanan yang lebih baik lagi menyangkut kegiatan dan proses belajar mengajar terlebih menjelang ujian nasional.
  3. Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk lebih mengenal dan mengatahui tugas dan usaha guru pembimbing dalam menjalankan kewajibannya.
  4. Sebagai bahan pertimbangan untuk merancang program bimbingan  konseling di SMP Negeri I Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar terutama dalam bidang belajar.


BAB II

KAJIAN TEORITIS

 

  1. A.    Konsep Teori
  2. 1.      Pengertian Guru Pembimbing

Dalam SK Mendikbud dan Kepala BAKN no 0433/p/1993 no 25 tahun 1993 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya diatur pada pasal 1 ayat 4 bahwa guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.[10]

Menurut Syaiful Sagala bahwa guru pembimbing (teaching counselor) ialah guru yang dipilih dari sekolah yang bersangkutan, yang diberikan beban beban tambahan untuk melaksanakan layanan bimbingan di sekolah, disamping tugas rutinnya mengajarkan bidang studi tertentu.[11] Jadi guru pembimbing berfungsi sebagai petugas bimbingan yang ‘partime’ membantu konselor sekolah dalam melaksanakan layanan bimbingan di sekolah.

 

  1. 2.      Tugas Guru Pembimbing

9

 

Adapun tugas seorang guru pembimbing di sekolah adalah membantu kepala sekolah dalam menyelenggarakan kesejahteraan sekolah secara keseluruhan. Sebagaimana dikemukakan oleh Bimo Walgito bahwa sudah selayaknya bila bidang geraknya tidak terbatas kepada pemberian bimbingan dan konseling kepada anak didik saja, akan tetapi juga meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung.[12]

Berarti guru pembimbing adalah seorang guru sebagaimana guru pada umumnya, namun mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling kepada sejumlah peserta didik. Maka guru pembimbing, selain tugasnya menjadi pembimbing, juga diberi tanggung jawab menjadi seorang konselor terhadap peserta didik.

Selain itu, menurut Bimo Walgito, supaya guru pembimbing dapat menjalankan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya, maka guru pembimbing harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Mempunyai pengetahuan yang cukup luas, baik dari segi teori maupun dari segi praktik.
  2. Dapat mengambil tindakan yang bijaksana, yaitu adanya kemantapan atau kestrabilan di dalam psikisnya, terutama dalam segi emosi.
  3. Sehat jasmani maupun psikis.
  4. Cinta terhadap pekerjaan dan terhadap siswa yang dihadapinya.
  5. Mempunyai inisiatif yang baik.
  6. Supel, ramah tamah, sopan santun, dan dapat bekerjasama.[13]

 

 

  1. 3.      Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan salah satu layanan bimbingan belajar yang dilakukan melalui tahap pengenalan siswa yang mengalami masalah dalam belajar, pengungkapan sebab timbulnya masalah belajar dan pemberian bantuan pengentasan masalah belajar siswa.

Seperti pendapat Prayitno bahwa Bimbingan belajar adalah salah satu bentuk bimbingan yang diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi, seringkali kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.[14]

Selain itu menurut Slameto bahwa untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka diperlukan suatu perhatian yang serius dan agar siswa dapat belajar dengan baik maka usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobby dan bakatnya.[15]

            Hal senada juga dikemukakan oleh Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono bahwa kesulitan belajar yang dialami oleh siswa tidak terlepas dari peran orang tua dalam memberikan bimbingan dirumah,memperhatikan anak dalam mengejakan tugas,mengatur disiplin anak dan sebagaimya. Peranan orang tua terhadap anak ini sering dipengaruhi oleh sikap orang tua dalam memberikan bimbingan dan pembinaan kepada anak.[16]

            Berdasarkan penjelasan diatas,dapat dipahami bahwa hasil belajar anak disekolah sangat dipengaruhi oleh adanya perhatian,bimbingan dan pengawasan dari orang tua terhadap belajar anak. Orang tua harus mempunyai kepedulian terhadap belajar anak dirumah dan berusaha membantu belajar anak sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

            Lebih lanjut Dewa Ketut Sukardi (2000:46) mengungkapkan layanan bimbingan belajar adalah layanan yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik,materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya,serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu,teknologi dan kesenian.[17]

 

  1. 4.      Apek-Aspek Bimbingan Belajar

 

Menurut Surya bimbingan merupakan terjemahan dari istilah guidance dalam bahasa Inggris. Sesuai dengan istilahnya,maka bimbingan dapat diartikan secara umum sebagai suatu bantuan. Namun dalam pengertian yang sebenarnya tidak setiap bantuan adalah bimbingan. Misalnya jika seorang guru membisikkan jawaban suatu soal ujian pada waktu ujian agar siswanya lulus, tentu saja “bantuan” ini bukan bentuk bantuan yang yang dimaksud dengan bimbingan. Bentuk bantuan dalam arti bimbingan membutuhkan syarat tertentu,bentuk tertentu,prosedur tertentu,pelaksanaan tertentu sesuai dengan dasar,prinsipdan tujuannya.[18]

Sedangkan aspek-aspek yang terdapat dalam bimbingan belajar menurut Dewa Ketut Sukardi adalah:[19]

  1. Mengembangkan pemahaman tentang diri, terutama pemehaman skap, sifat, kebiasaan, bakat, minat, kekuatan-kekuatan dan penyalurannya, kelemahan-kelemahan dan penanggulangannya, dan usaha-usaha pencapaian cita-cita atau perencanaan masa depan.
  2. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bertingkah laku dalam hubungan sosial dengan teman sebaya, guru dan masyarakat luas.
  3. Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih secra efektif dan efisien.
  4. Teknik penguasaan materi pelajaran, baik ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian.
  5. Membantu memantapkan pilihan karier yang hendak dikembangkan melalui orientasi dan informasi karier, orientasi dan informasi dunia kerja dan perguruan tinggi yang sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.
  6. Orientasi belajar di perguruan tinggi
  7. Orientasi hidup berkeluarga.

 

  1. 5.      Fungsi dan Tujuan Bimbingan Belajar

Fungsi utama dari bimbingan adalah membantu murid dalam masalah-masalah pribadi dan sosial yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran atau penempatan dan juga menjadi perantara dari siswa dalam hubunganya dengan para guru maupun administrasi.[20]

Adapun fungsi bimbingan ada 4 yaitu :

  1. Preservatif adalah memelihara dan membina suasana dan situasi yang baik dan tetap diusahakan terus bagi lancarnya belajar mengajar.
  2. Prefentif adalah mencegah sebelum terjadi masalah
  3. Kuratif adalah mengusahakan “penyembuhan” pembentukan dalam mengatasi masalah.
  4. Rehabilitas adalah mengadakan tindak lanjut secara penempatan sesudah diadakan treatmen yang memadai.

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004:112) bahwa pelayanan bimbingan belajar adalah untuk membantu siswa yang mengalami masalah di dalam memasuki proses belajar dan situasi belajar yang dihadapinya. Didalam memasuki proses belajar dan situasi supaya anak dapat belajar dengan baik,kebutuhan yang diperlukan dalam belajar harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan itu diantaranya adalah sebagai berikut :[21]

  1. Memiliki kondisi fisik yang tetapsehat
  2. Memiliki jadwal belajar dirumah yang disusun dengan baik dan teratur
  3. Memiliki disiplin terhadap diri sendiri, patuh dan taat dengan rencana belajar yang telah dijadwalkan
  4. Memiliki kamar/ tempat belajar yang sesuai dengan seleranya sendiri dan mendorong kegiatan belajarnya
  5. Menyiapkan peralatan sekolah dengan baik sebelum belajar
  6. Memiliki kamar/ tempat belajar yang sesuai dan tidak mengganggu kesehatan mata
  7. Harus bisa memusatkan perhatian dan berkosentrasi dalam belajar
  8. Memiliki kepercayaan terhadap kemampuan sendiri dalam belajar

 

  1. 6.      Usaha Guru Pembimbing dalam Implementasi Bimbingan Belajar

 

Menurut Prayitno dan Erman Amti bahwa di samping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal, seperti angka rapor rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya. Secara umum, siswa yang seperti itu dapat dipandang sebagai siswa yang mengalami masalah belajar. Secara lebih luas masalah belajar tidak hanya terbatas pada hal yang disebutkan di atas. Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, yang pada umumnya dapat digolongkan pada keterlambatan akademik, ketercepatan dalam belajar, sangat lambat dalam belajar, kurang motivasi dalam belajar, dan bersikap atau kebiasaan buruk dalam belajar.[22]

Kenyataan yang terjadi menurut Syaiful Bahri Djamarah bahwa prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan. Namun, sayangnya ancaman, hambatan, dan gangguan dialami oleh anak didik tertentu. Sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar atau permasalahan belajar. Pada tingkat tertentu memang ada anak didik yang dapat mengatasi permasalahan belajarnya, tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, karena anak didik belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh anak didik.[23]

Melihat keadaan yang telah dipaparkan di atas, maka sudah sewajarnya dalam proses belajar mengajar di sekolah, baik guru, orang tua maupun siswa pasti mengharapkan agar siswa mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Untuk itu terkadang diperlukan adanya bimbingan belajar.

Menurut Prayitno dan Erman Amti upaya yang dapat dilakukan guru dalam membantu siswa salah satunya adalah pengajaran perbaikan di samping kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.[24]

Maka dalam melaksanakan kegiatan bimbingan dalam belajar diperlukan adanya implementasi yang riil agar bimbingan belajar dapat dirasakan oleh peserta didik. Sebagaimana menurut pendapat Dewa Ketut Sukardi dikemukakan sebagai berikut.

Adapun materi yang dapat diangkatkan melalui layanan pembelajaran ada berbagai macam, yaitu meliputi:

  1. Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar tentang kemampuan, motivasi, sikap dan kebiasaan belajar
  2. Pengembangan motivasi, sikap dan kebiasaan belajar yang baik
  3. Pengembangan keterampilan belajar: membaca, mencatat, bertanya dan menjawab dan menulis
  4. Pengajaran perbaikan
  5. Program pengayaan[25]

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan. Maka upaya yang dapat dilakukan guru dalam membantu siswa salah satunya adalah pengajaran perbaikan di samping kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Sedangkan pelaksanaan bimbingan belajar dilaksanakan dengan merencanakan program bimbingan, melaksanakan segenap layanan bimbingan, melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan, menilai proses dan hasil pelayanan bimbingan dan kegiatan pendukungnya, melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian, mengadministrasikan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakannya, dan mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan.

 

  1. B.     Penelitian yang Relevan

Setelah penulis membaca dan mempelajari beberapa karya ilmiah sebelumnya, penelitian ini sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saudara Sumarlin dengan judul penelitian “Perbedaan Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa Kelas IV Yang Mendapat Bimbingan Belajar Dengan Yang Tidak Di SDN 012 Sungai Rawa Kec.Sungai Apit Kab. Siak”. Letak kesamaan dalam penelitian ini adalah bahwa penelitian tersebut sama-sama mempunyai variabel yang sama yaitu sama-sama meneliti tentang bimbingan belajar yang diberikan oleh guru pembimbing, namun penelitian saudara Sumarlin lebih terfokus pada studi eksperimen. Bimbingan belajar yang diberikan pada semua siswa menjawab hipotesis penelitian yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar bahasa Inggris siswa kelas IV yang mendapat dengan yang tidak mendapat bimbingan belajar. Populasi dan sekaligus sampel dalam penelitian ini siswa kelas IV A dan IV B SDN 012 Sungai Rawa berjumlah 49 orang.

 Penelitian Yustina Girsang dengan judul “Usaha Guru Dalam Membimbing Siswa Melalui Remedial Teaching di SD Negeri Tapung Kabupaten Kampar”. Penelitian tersebut mempunyai variabel yang hampir sama yaitu sama-sama membahas tentang bimbingan belajar. Letak perbedaannya adalah hanya terfokus meneliti pembelajaran remedial. Berdasarkan kriteria penilaian yang ditetapkan maka dapat disimpulkan bahwa usaha guru dalam membimbing siswa melalui Remedial Teaching di SD Negeri Tapung Kabupaten Kampar ditinjau dari seluruh aspek yang dianalisa tergolong cukup tinggi.

 

  1. C.    Konsep Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman, maka konsep operasional dalam penelitian ini dijelaskan bahwa upaya guru bimbingan dan konseling dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar akan dikaji dari aspek-aspek berikut ini:

  1. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar untuk mencari informasi dari berbagai sumber belajar.
  2. Bersikap terhadap guru dan nara sumber lainnya, mengembangkan keterampilan belajar, mengerjakan tugas-tugas pelajaran, dan menjalani program penilaian hasil belajar.
  3. Pengembangan dan pemantapan disiplin belajar dan berlatih, baik secara mandiri maupun kelompok.
  4. Pemantapan penguasaan materi program belajar di sekolah sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian.
  5. Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya yang ada di sekolah, lingkungan sekitar dan masyarakat untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan serta pengembangan pribadi.
  6. Orientasi dan informasi tentang pendidikan yang lebih tinggi dan pendidikan tambahan.[26]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

METODE PENELITIAN

 

 

  1. A.    Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SMP Negeri 1 di Kecamatan Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar. Alasan penelitian di lokasi tersebut didasari adanya persoalan-persoalan yang ingin dikaji oleh penulis ada di daerah tersebut. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan selama 4 bulan dimulai dari pengajuan sinopsis sampai ujian skripsi.

  1. B.     Subjek dan Objek Penelitian

 Subjek utama penelitian ini adalah guru pembimbing di SMP Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar sebanyak 1 orang, dan subjek pendukung adalah siswa sebanyak 2 orang di SMP Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar sebanyak 1 orang. Sedangkan objek penelitian ini adalah upaya guru pembimbing  dalam bidang bimbingan belajar.

  1. C.    Informan Penelitian

Subjek utama penelitian ini adalah guru pembimbing di SMP Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar sebanyak 1 orang, dan subjek pendukung adalah 2 orang siswa di SMP Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar sebanyak 1 orang.

  1. D.    Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

  1. 20

     

    Wawancara. Wawancara digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang Upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.

  1. Dokumentasi. Adapun studi dokumentasi adalah dengan cara meminta keterangan kepada guru pembimbing tentang jadwal bimbingan belajar dan yang relevan dengan bimbingan belajar.

 

  1. E.     Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik deskriptif dengan pendekatan kualitatif.


[1] Undang-Undang Sisdiknas. UU RI. No. 20. th. 2003. Jakarta. Sinar Grafika. Hal 3

[2] Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2008. hal 234

[3] Ditjen Dikdasmes, Pelayanan Bimbingan dan Konseling SMU, Padang: Ditjen Dikdasmes,  1997. halaman 11

[4] Syaiful Bahri Djamarah. Op cit. hal. 253

[5] Prayitno dan Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. PT. Rineka Cipta. 2004. hal 94

[6] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,  2002, hlm. 125 

[7] Prayitno, Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 2001, halaman 8

[8] Lijan Poltak Sinambela. Reformasi Pelayanan Publik. Jakarta. Bumi Aksara, 2007, halaman 5

[9] Prayitno dan Erman Amti. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2004. hlm 279

[10] SKB Menbud dan Kepala BAKN (dalam Amirah Diniyaty), Evaluasi dalam Bimbingan dan Konseling, Pekanbaru: Suska Press, hal 6

[11] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung: Alfabeta, 2009, hal 232

[12] Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005, hlm 45

[13] Bimo Walgito, Op cit, hlm 40

[14] Prayitno dan Erman Amti. Loc cit

[15] Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2003, halaman 56

[16] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2004, halaman 77

[17] Dewa Ketut Sukardi. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002, halaman 46

[18] Surya. Kapita Selekta Kependidikan SD. Jakarta .UT. 2001. hlm 9.18

[19] Dewa Ketut Sukardi, Ibid, halaman 41

[20] Abu Ahmadi,  Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta,  2001. hl, 118

[21] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta. Rineka Cipta. 2004. hlm 112

[22] Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta, 2004, hal. 279

[23] Syaiful Bahri Djamarah. Op cit. hal 233

[24] Prayitno dan Erman Amti. Op cit. hal 284

[25] Hallen, Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Ciputat Pers, 2002 hal. 85

[26] Hallen, Loc cit. 79

Leave a comment

Filed under CONTOH PROPOSAL

TEORI AKTIVITAS BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

MENGALAMI KESULITAN MEMBUAT PROPOSAL, HUBUNGI 081337999117 (PEKANBARU)

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.                Latar Belakang

Pembelajaran merupakan salah satu kunci utama dalam mencapai tujuan pendidikan. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berlangsung secara efektif dan efisien sehingga dapat mencapai suatu tujuan. Menurut Sagala penbelajaran adalah interaksi pendidik dan peserta didik dalam mempelajari suatu materi pelajaran yang telah tersusun dalam suatu kurikulum. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komponen pembelajaran  tersebut antara lain guru dan siswa.[1]

Guru merupakan yang paling bertanggung jawab untuk melaksanakan pembelajaran di kelas. Baik tidaknya proses pembelajaran disuatu kelas tergantung kepada kemampuan guru dalam melakukan pengajaran secara professional. Berhasilnya atau tidaknya pembelajaran yang dilakukan guru dapat dilihat dari sudut proses dan sudut hasil yang dicapai.

Materi yang diajarkan sekolah dasar terbagi atas beberapa disiplin ilmu. Salah satu bidang ilmu yang diajarkan di sekolah dasar adalah Matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang tingkat keberhasilan dari sudut hasil masih kurang. Banyak ditemui di lapangan siswa harus mendapat nilai kecil pada mata pelajaran ini, siswa malas menyelesaikan tugas-tugas mata pelajaran matematika dengan alasan tidak mengerti dan sulit ataupun disaat proses pembelajaran keluar masuk kelas serta melaksanakan aktivitas yang tidak mendukung proses pembelajaran matematika.[2]

Tujuan pembelajaran matematika adalah untuk menekan pada konsep matematika, penataan nalar dan pembentukan sikap, kemampuan memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan untuk mengubah tingkah laku siswa. Perubahan tingkah laku siswa terlihat pada akhir pembelajaran dan diharapkan perubahan itu mengarah pada hasil belajar.

Aktivitas belajar itu sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima dari pengajar, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu, diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang baru saja diterima dari guru. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak.  Mengapa demikian? Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama. Kenyataan ini sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof kenamaan dari Cina, Konfusius sesuai yang dikutip Hisyam Zaini. Dia mengatakan: Apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat dan apa yang saya lakukan saya faham. [3]

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa dengan adanya aktifitas belajar yang baik maka siswa akan belajar lebih aktif dan pada akhirnya hasil belajar dapat dicapai secara maksimal. Untuk itu keaktifan sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, terutama pada mata pelajaran Matematika.

Hal ini sangat sejalan yang dinyatakan oleh Oemar Hamalik bahwa penggunaan asas aktifitas besar nilainya bagi pengajaran para siswa, karena :

  1. Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri,
  2. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral,
  3. Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa,
  4. Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri,
  5. Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis,
  6. Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru,
  7. Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalistis dan
  8. Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.[4]

 

Oemar Hamalik mengemukakan kemampuan-kemampuan yang selama ini harus dikuasai guru juga akan lebih dituntut aktualisasinya. misalnya kemampuannya dalam: 1) merencanakan pembelajaran dan merumuskan tujuan, 2) mengelola kegiatan individu, 3) menggunakan multi metode, dan memanfaatkan media, 4) berkomunikasi interaktif dengan baik, 5) memotivasi dan memberikan respons, 6) melibatkan siswa dalam aktivitas, 7) mengadakan penyesuaian dengan kondisi siswa, 8) melaksanakan dan mengelola pembelajaran, 9) menguasai materi pelajaran, 10) memperbaiki dan mengevaluasi pembelajaran, 11) memberikan bimbingan, berinteraksi dengan sejawat dan bertanggungjawab kepada konstituen serta, 12) mampu melaksanakan penelitian.[5]

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu hal ini dapat menciptakan suasana aktif dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh pengunaan metode pembelajaran yang tepat. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis akan menggunakan penerapan strategi pembelajaran berdiri dan berhitung untuk meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru.

Adapun indikator aktivitas belajar menurut Djamarah antara lain adalah

  1. Mendengarkan
  2. Memandang
  3. Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap
  4. Menulis atau mencatat
  5. Membaca
  6. Membuat ikhtisar atau ringkasan
  7. Mengamati tabel-tabel, diagram, dan bagan-bagan
  8. Menyusun paper atau kertas keja
  9. Mengingat
  10. Berfikir
  11. Latihan atau praktek.[6]

 

Namun berdasarkan pengamatan peneliti di MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru masih ditemui gejala-gejala di kelas III pada pelajaran Matematika sebagai berikut:             

  1. Dalam aktivitas mendengarkan, siswa kurang aktif mendengarkan penjelasan guru
  2. Dalam aktifitas memandang, siswa kurang mau memandang ke depan
  3. Siswa kurang aktif menulis atau mencatat
  4. Siswa kurang aktif membaca
  5. Siswa kurang rajin membuat ikhtisar atau ringkasan
  6. Siswa kurang aktif mengamati tabel-tabel, diagram, dan bagan-bagan
  7. Siswa masih lemah dalam mengingat
  8. Siswa kurang aktif berfikir
  9. Dalam mengerjakan latihan atau praktek, siswa masih belum maksimal

Berdasarkan gejala-gejala di atas, dapat dikatakan bahwa aktifitas belajar siswa dalam proses pembelajaran Matematika cenderung rendah. Untuk itu, melalui penelitian ini penulis berusaha untuk memperbaiki aktifitas belajar siswa dalam proses pembelajaran. Dari permasalahan diketahui bahwa siswa dianggap kurang aktif, kurang memperhatikan pelajaran yang dijelaskan guru, lamban dalam menjawab apa yang ditanyakan guru, bahkan tidak terjawab dan kemampuan siswa dalam menganalisis, hal ini sangat sesuai dengan strategi yang dipilih penulis. Salah satu usaha untuk memperbaiki proses pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan strategi pembelajaran Berdiri dan berhitung. Kelebihan strategi tersebut adalah, bahwa strategi berdiri sambil berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa.

Sebagaimana dijelaskan oleh Melvin, bahwa strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.[7] Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa, khususnya dalam kegiatan pembelajaran yang agak rumit seperti matematika.

 

Oleh sebab itu peneliti tertarik ingin melakukan suatu penelitian tindakan sebagai upaya dalam melakukan perbaikan terhadap pembelajaran melalui strategi berdiri dan berhitung dengan judul “Penerapan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung untuk meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru”.

 

  1. B.                 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah Penerapan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung dapat meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru?

 

  1. C.                Defenisi Istilah
  2. Aktivitas adalah kegiatan: kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan di tiap bagian.[8] Yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas.
  3. Belajar adalah merupakan intraksi individu terhadap lingkungannya.[9] Pendapat mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[10]
  4. Aktifitas belajar adalah kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan di tiap bagian dalam suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku.
  5. Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.
  6. D.                Tujuan dan Manfaat Penelitian
    1. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini yaitu: meningkatkan aktivitas belajar Matematika Siswa Kelas III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru dengan menggunakan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung.

  1. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan memperoleh manfaat antara lain:

  1. Bagi Siswa

1)        Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mata pelajaran Matematika pada khususnya, dan semua mata pelajaran pada umumnya.

2)        Memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran.

  1. Bagi Guru

1)        Memberikan suatu pengalaman yang berharga bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pembelajaran melalui Penggunaan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung, sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.

2)        Diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu strategi tambahan serta bahan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran.

  1. Bagi Sekolah

Hasil dari penelitian ini nantinya dapat menjadi masukan dalam menentukan kebijakan tentang strategi pembelajaran yang cocok untuk mata pelajaran Matematika di berbagai jenjang pendidikan umumnya, khususnya di sekolah dasar.

  1. Bagi Peneliti

1)        Menambah pengetahuan khususnya tentang model-model atau teknik-teknik pembelajaran yang baru.

2)        Sebagai landasan dalam melakukan penelitian dengan objek penelitian yang lebih luas.

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

  1. A.      Kerangka Teoretis
  2. 1.      Aktivitas Belajar

a)      Pengertian

Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan.[11] Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dipahami bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku pada diri sendiri berkat adanya interaksi individu dengan lingkungannya.

Sedangkan aktivitas belajar adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan sedemikian rupa agar menciptakan:

  1. Peserta didik aktif bertanya,
  2. Mempertanyakan, dan
  3. Mengemukakan gagasan.[12]

Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengagn aktif, berarti mereka mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang adala dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.[13]

Belajar aktif itu sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasir, atau hanya menerima dari guru, ada kecenderungagn untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu, diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat infomrasi yang baru saja diterima dari guru. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Mengapa demikian? Karena salah satu factor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah factor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama. Kenyataan ini sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof kenamaan dari Cina, Konfusius. Dia mengatakan: apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat, saya ingat, apa yang saya lakukan, saya paham.[14]

Menurut Agus Suprijono, pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang harus menumbuhkan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan proses aktif dari si pembelajaran dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Pembelajaran aktif adalah proses belajar yang menumbuhkan dinamika belajar bagi peserta didik. Dinamika untuk mengartikulasikan dunia idenya dalam mengkonfrontif ide itu dengan dunia ralitas yang dihadapinya.[15]

 

b)     Komponen-Komponen Aktifitas Belajar

Menurut Rahmayulis aktivitas mencakup aktivitas jasmani dan rohani[16]. Kegiatan jasmani dan rohani yang dapat dilakukan di sekolah menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Paul B. Diedrich meliputi :

  1. Visual activities
  2. Oral activities
  3. Listening aktivities
  4. Writing activities
  5. Drawing activities
  6. Motor activities
  7. Mental aktivities
  8. Emotional activities
    1. membaca
    2. memperhatikan gambar
    3. demontrasi
    4. percobaan
    1. menyatakan
    2. merumuskan
    3. bertanya
    4. memberi saran
    5. mengeluarkan pendapat
    6. interviu
    7. diskusi dan sebagainya
    1. mendengarkan uraian
    2. percakapan diskusi
    3. musik
    4. pidato
    5. ceramah dan sebagainya.
    1. menulis cerita
    2. karangan
    3. laporan
    4. angket
    5. menyalin dan sebagainya.
    1. Mengambarkan
    2. membuat grafik
    3. peta dan sebagainya.
    1. melakukan percobaan
    2. membuat kontruksi
    3. model mereparasi
    4. bermain
    5. berkebun
    6. memelihara bintang dan sebagainya.
    1. Menangkap
    2. Mengingat
    3. memecahkan soal
    4. menganalisis
    5. mengambil keputusan dan sebagainya.
    1. menaruh minat
    2. gembira
    3. berani
    4. tenang
    5. gugup
    6. kagum dan sebagainya.[17]

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang terdiri dari aktivitas jasmani dan rohani menyangkut aktivitas atau kegiatan siswa dalam belajar sebagaimana kegiatan siswa pada umumnya, yaitu aktivitas visual, oral, mendengarkan, mencatat, menggambar, bergerak, mental dan aktivitas emosional.

Lebih lanjut dapat dijelaskan indikator keaktifan siswa dalam proses pembelajaran adalah :

  1. Siswa tidak hanya menerima informasi tetapi lebih banyak mencari dan memberikan informasi.
  2. Siswa banyak mengajukan pertanyaan baik kepada guru maupun kepada siswa lainnya.
  3. Siswa lebih banyak mengajukan pendapat terhadap informasi yang disampaikan oleh guru atau siswa lain.
  4. Siswa memberikan respon yang nyata terhadap stimulus belajar yang dilakukan guru.
  5. Siswa berkesempatan melakukan penilaian sendiri terhadap hasil pekerjaannya, sekaligus memperbiki dan menyempurnakan hasil pekerjaan yang belum sempurna.
  6. Siswa membuat kesimpulan pelajaran dengan bahasanya sendiri.
  7. Siswa memanfaatkan sumber belajar atau lingkungan belajar yang ada disekitarnya secara optimal.[18]

 

Dapat disimpulkan indikator keaktifan siswa yang dikemukakan oleh Sudjana meliputi siswa lebih banyak mencari informasi tentang pelajaran, memecahkan permasalahan sendiri serta membuat ringkasan pelajar dengan bahasa sendiri yang dipahaminya.

Bertolak dari beberapa teori tentang aktivitas di atas, Djamarah mengemukakan aktivitas belajar mencakup beberapa aspek yaitu :

  1. Mendengarkan
  2. Memandang
  3. Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap
  4. Menulis atau mencatat
  5. Membaca
  6. Membuat ikhtisar atau ringkasan
  7. Mengamati tabel-tabel, diagram, dan bagan-bagan
  8. Menyusun paper atau kertas keja
  9. Mengingat
  10. Berfikir
  11. Latihan atau praktek.[19]

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang terdiri dari aktivitas jasmani dan rohani, menyangkut aktivitas atau kegiatan siswa dalam belajar sebagaimana kegiatan siswa pada umumnya, yaitu aktivitas visual, oral, mendengarkan, mencatat, menggambar, bergerak, mental dan aktivitas emosional.

c)      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pada diri seseorang, menurut Ngalim Purwanto terdiri atas dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Secara rinci kedua faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:[20]

  1. Faktor Internal

Faktor internal adalah seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu yang belajar, baik aspek fisiologis (fisik) maupun aspek psikologis (psikhis).

a)        Aspek Fisik (Fisiologis)

Orang yang belajar membutuhkan fisik yang sehat. Fisik yang sehat akan mempengaruhi seluruh jaringan tubuh sehingga aktivitas belajar tidak rendah. Keadaan sakit pada pisik/tubuh mengakibatkan cepat lemah, kurang bersemangat, mudah pusing dan sebagainya. Oleh karena itu agar seseorang dapat belajar dengan baik maka harus mengusahakan kesehatan dirinya.[21]

b)        Aspek Psikhis (Psikologi)

Menurut Sardiman A.M, sedikitnya ada delapan faktor psikologis yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan aktivitas belajar. Faktor-faktor itu adalah perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat dan motif. Secara rinci faktor-faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:[22]

(1)     Perhatian

Perhatian adalah keaktipan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu obyek, baik didalam maupun di luar dirinya.[23] Makin sempurna perhatian yang menyertai aktivitas maka akan semakin sukseslah aktivitas belajar itu. Oleh karena itu, guru seharusnya selalu berusaha untuk menarik perhatian anak didiknya agar aktivitas belajar mereka turut berhasil.

(2)     Pengamatan

Pengamatan adalah cara mengenal duia riil, baik dirinya sendiri maupun lingkungan dengan segenap panca indera. Karena fungsi pengamatan sangat sentral, maka alat-alat pengamatan yaitu panca indera perlu mendapatkan perhatian yang optimal dari pendidik, sebab tidak berfungsinya panca indera akan berakibat terhadap jalannya usaha pendidikan pada anak didik. Panca indera dibutuhkan dalam melakukan aktivitas belajar (Sardiman, 2008:45)[24]

(3)     Tanggapan

Tanggapan adalah gambaran ingatan dari pengamatan, dalam mana obyek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan. Jadi, jika prosese pengamatan sudah berhenti, dan hanya tinggal kesan-kesannya saja.[25]

(4)     Fantasi

Fantasi adalah sebagai kemampuan jiwa untuk membentuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan, keadaan-keadaan yang akan mendatang. Dengan pantasi ini, maka dalam belajar akan memiliki wawasan yang lebih longgar karena dididik untuk memahami diri atau pihak lain.[26]

(5)     Ingatan

Ingatan (memori) ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan-kesan. Jadi ada tiga unsur dalam perbuatan ingatan, ialah : menerima kesan-kesan, menyimpan, dan mereproduksikan. Dengan adanya kemampuan untuk mengingat pada manusia ini berarti ada suatu indikasi bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali dari sesuatu yang pernah dialami.[27]

(6)     Bakat

Bakat adalah salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan intelegensia yang merupakan struktur mental yang melahirkan :kemampuan” untuk memahami sesuatu. Kemampuan itu menyangkut: achievement, capacity dan aptitude (Sardiman, 2008:46).

(7)     Berfikir

Berfikir adalah merupakan aktivitas mental untuk dapat merumuskan pengertian, mensintesis dan menarik kesimpulan.

(8)     Motif

Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Apabila aktivitas belajar itu didorong oleh suatu motif dari dalam diri siswa, maka keberhasilan belajar itu akan mudah diraih dalam waktu yang relative tidak cukup lama.[28]

  1. Faktor Eksternal

Menurut Ngalim Purwanto, faktor eksternal terdiri atas: 1), keadaan keluarga, 2) guru dan cara mengajar 3), alat-alat pelajaran, 4) motivasi sosial, dan 5) lingkungan serta kesempatan. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan dibawah ini:

a)        keadaan keluarga

Siswa sebagai peserta didik di lembaga formal (sekolah) sebelumnya telah mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga. Di keluargalah setiap orang pertama kali mendapatkan pendidikan. Pengaruh pendidikan di lingkungan keluarga, suasana di lingkungan keluarga, cara orang tua mendidik, keadaan ekonomi, hubungan antar anaggota keluarga, pengertian orang tua terhadap pendidikan anak dan hal-hal laainnya di dalam keluarga turut memberikan karakteristik tertentu dan mengakibatkan aktif dan pasifnya anak dalam mengikuti kegiatan tertentu.

b)        guru dan cara mengajar

Lingkungan sekolah, dimana dalam lingkungan ini siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar, dengan segala unsur yang terlibat di dalamnya, seperti bagaimana guru menyampaikan materi, metode, pergaulan dengan temannya dan lain-lain turut mempengaruhi tinggi rendahnya kadar aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.

c)        alat-alat pelajaran

Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak-anak.

d)       motivasi sosial

Dalam proses pendidikan timbul kondisi-kondisi yang di luar tanggung jawab sekolah, tetapi berkaitan erat dengan corak kehidupan lingkungan masyarakat atau bersumber pada lingkungan alam. Oleh karena itu corak hidup suatu lingkungan masyarakat tertentu dapat mendorong seseorang untuk aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar atau sebaliknya.

e)        lingkungan dan kesempatan

Lingkungan, dimana siswa tinggal akan mempengaruhi perkembangan belajar siswa, misalnya jarak antara rumah dan sekolah yang terlalu jauh, sehingga memerlukan kendaraan yang cukup lama yang pada akhirnya dapat melelahkan siswa itu sendiri. Selain itu, kesempatan yang disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap hari, pengaruh lingkungan yang buruk dan negative serta factor-faktor lain terjadi di luar kemampuannya. Faktor lingkungan dan kesempatan ini lebih-lebih lagi berlaku bagi cara belajar pada orang-orang dewasa.[29]

Aktifitas belajar yang merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku si subjek belajar, banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhinya itu, secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor intern (dalam diri) si subjek belajar dan faktor ekstern (dari luar diri) si subjek belajar.

Slameto mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan  menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.[30] Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang Kadang-kadang belajar. Yang termasuk dalam faktor intern seperti, faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Kadang-kadangkan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu, faktor keluarga, faktor sekolah (organisasi) dan faktor masyarakat.

 

  1. 9.      Strategi Pembelajaran Berdiri dan Berhitung
    1. a.      Pengertian

Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.[31] Kelebihan strategi tersebut adalah, bahwa strategi berdiri sambil berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa.

Sebagaimana dijelaskan oleh Melvin, bahwa strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.[32] Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa, khususnya dalam kegiatan pembelajaran yang agak rumit seperti matematika.

 

  1. b.      Langkah-Langkah Pelaksanaan

Langkah-langkah Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung sebagai berikut:

1)        Guru menjelaskan tentang materi pembelajaran

2)        Guru memberikan apersepsi dan motivasi

3)        Jelaskan kepada peserta bahwa anda ingin mengadakan sebuah survey cepat, untuk membantu semua peserta mengenal “siapa yang ada di sini hari ini?”

4)        Mintalah kepada peserta untuk beridri dan berhitung jika pernyataan yang anda buat berlaku untuk mereka

5)        Kembangkan pernyataan-pernyataan yang akan menjadi minat berdasarkan kategori-kategori seperti

  1. Jabatan (“Berdirilah jika anda adalah seorang supervisor utama”)
  2. Status (“Berdirilah jika anda adalah seorang baru di perusahaan ini.”)
  3. Lokasi (“Berdirilah jika anda pernah tinggal di luar Negara ini.”)
  4. Pengalaman (“Berdirilah jika anda baru-baru ini bertemu seseorang yang terkenal.”)
  5. Keyakinana (“Berdirilah jika anda yakin bahwa pelanggan selalu benar.”)
  6. Opini (“Berdirilah jika anda piker bahwa program-program pelatihan memiliki dampak yang kecil setelah program tersebut selesai.”)
  7. Pilihan (“Berdirilah jika anda lebih memilih telepon dibandingkan e-mail.”)Prioritas (“Berdirilah jika anda piker bahwa penting menghabiskanlebih banyak waktu untuk mempertahankan jumlah pegawai dari pada mengembangkan produk.”)
  8. Hobi (“Berdirilah jika andamemiliki hobi memainkansebuah alat music.”)
  9. Bakat (“Berdirilah jika anda mahir menggunakan excel.”)

6)        Gunakan lima sampai dua puluh pertanyaan. Tetap berada dalam satu kategori atau campurkanlah kategori diatas. Lakukan apapun  yang mungkin menarik minat para peserta anda. Kegiatan tersebut akan berjalan dengan sangat baik  jika sebagian dari pernyataan anda berlaku pada hamper seluruh peserta dan sebagian berlaku pada sebagian kecil peserta. Mungkin juga akan berakhir dengan seluruh audiens berdiri, seperti. “Berdirilah jika anda hidup!” atau “Berdirilah jika anda senangmelakukan latihan ini.”[33]

  1. 10.  Hubungan Strategi Pembelajaran Berdiri dan Berhitung dengan Peningkatan Aktivitas Belajar

 

Menurut Melvin strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar. Artinya, pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan pembelajaran yang menitikberatkan fokusnya pada proses pembelajaran. Jika dalam pembelajaran siswa aktif, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya.

Hal tersebut sangat dimungkinkan karena metode atau strategi pembelajaran ini menekankan siswa pada percobaan-percobaan secara langsung. Selain itu siswa diajak untuk memahami teori dengan cara melakukan/merasakan langsung dan secara pribadi. Dengan mengalami secara langsung maka siswa diajarkan untuk dapat berpikir secara lebih kritis. Sehingga pemahaman siswa terhadap pelajaran akan semakin kompleks, yaitu mereka mendapatkan ilmu pengetahuan, mereka mendapatkan rasa senang, dan mereka juga dapat menerapkannya secara langsung di lapangan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada kaitan ataupun hubungan yang sangat erat antara strategi pembelajaran berdiri dan berhitung dengan aktivitas belajar siswa, dimana berdiri dan berhitung sebagai upaya-upaya atau cara yang dilakukan demi tercapainya tujuan pembelajaran yaitu aktivitas belajar yang optimal.

 

  1. B.       Kerangka Berpikir

Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar. Dengan demikian siswa diajak bukan hanya memahami teori (teoritis) tetapi juga diajari untuk melakukan/merasakan langsung. Dengan mengalami secara langsung maka siswa diajarkan untuk dapat berpikir secara lebih kritis dari temuan-temuan yang mereka dapatkan.

Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung memungkinkan siswa untuk berpikir aktif, kreatif serta dinamis. Siswa belajar mempraktekkan teori-teori yang mereka dapatkan selama pembelajaran berlangsung di ruang kelas. Pada kenyataannya, pembelajaran matematika di SD masih cenderung menggunakan metode ceramah dan penugasan atau latihan-latihan dari guru. Materi pelajaran disampaikan langsung kepada siswa dan siswa hanya mendengarkan serta mencatat penjelasan dari guru. Guru hanya menginformasikan fakta dan konsep melalui metode ceramah dan meminimalkan keterlibatan siswa. Siswa diberi pertanyaan yang lebih cenderung berupa hafalan. Pertanyaan yang berkaitan dengan kemampuan berpikir yang lebih tinggi seperti melakukan suatu percobaan kemudian menyimpulkan sendiri hasil percobaan jarang dilakukan oleh guru.

Siswa dianggap kurang aktif, kurang memperhatikan pelajaran yang dijelaskan guru, lamban dalam menjawab apa yang ditanyakan guru, bahkan tidak terjawab dan kemampuan siswa dalam menganalisis, hal ini sangat sesuai dengan strategi yang dipilih penulis. Salah satu usaha untuk memperbaiki proses pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan strategi pembelajaran Berdiri dan berhitung. Kelebihan strategi tersebut adalah, bahwa strategi berdiri sambil berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa. Sebagaimana dijelaskan oleh Melvin, bahwa strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.[34]

Siswa yang aktif dalam belajar, merupakan siswa yang mendapatkan modal pertama untuk meraih tujuan pembelajaran, yaitu mendapatkan hasil yang baik dalam pembelajaran. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui strategi pembelajaran berdiri dan berhitung akan dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Matematika.

 

 

 

  1. C.      Penelitian Relevan

Penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh A. Hamid dari UIN Suska Riau tahun 2011 dengan judul “Meningkatkan Aktivitas Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung materi Membaca Ayat-ayat Pendek Al-Qur’an pada Siswa Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 009 Siak Kecamatan Siak Kabupaten Siak”[35]. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan berjudul: Penerapan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung untuk meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru.

Dari dua judul di atas, terdapat kesamaan yaitu, sama-sama penerapkan Strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung dalam proses pembelajaran, sama-sama meningkatkan aktivitas belajar siswa, sedangkan perbedaannya terletak pada mata pelajaran, kelas, yaitu jika penelitian A.Hamid pada kelas IV maka penelitian yang dilakukan oleh peneliti berada di kelas III, selain itu juga tempat penelitian yang juga berbeda. Adapun hasil peneltian yang dilakuan oleh A.Hamid adalah diperoleh hasil penelitian dengan aktivitas siswa pada siklus III rata-rata sebesar 72% dengan kategori baik.

 

  1. D.      Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan merupakan kriteria-kriteria yang ditetapkan sebagai dasar penilaian apakah aktivitas ataupun tindakan telah berhasil dilakukan atau tidak. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini terdiri dari indikator kinerja guru dan siswa, serta hasil belajar.

  1. Indikator aktivitas guru
    1. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa anda ingin mengadakan sebuah survey cepat, untuk membantu semua peserta mengenal “siapa yang ada di sini hari ini?”
    2. Guru meminta siswa untuk beridri dan berhitung
    3. Guru mengembangkan pernyataan-pernyataan yang akan menjadi minat berdasarkan kategori-kategori seperti

1)             Jabatan (“Berdirilah jika anda adalah seorang supervisor utama”)

2)             Status (“Berdirilah jika anda adalah seorang baru di perusahaan ini.”)

3)             Lokasi (“Berdirilah jika anda pernah tinggal di luar Negara ini.”)

4)             Pengalaman (“Berdirilah jika anda baru-baru ini bertemu seseorang yang terkenal.”)

5)             Keyakinan (“Berdirilah jika anda yakin bahwa pelanggan selalu benar.”)

6)             Opini (“Berdirilah jika anda piker bahwa program-program pelatihan memiliki dampak yang kecil setelah program tersebut selesai.”)

7)             Pilihan (“Berdirilah jika anda lebih memilih telepon dibandingkan e-mail.”) Prioritas (“Berdirilah jika anda piker bahwa penting menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempertahankan jumlah pegawai dari pada mengembangkan produk.”)

8)             Hobi (“Berdirilah jika anda memiliki hobi memainkan sebuah alat musik.”)

9)             Bakat (“Berdirilah jika anda mahir menggunakan excel.”)

  1. Guru menggunakan lima sampai dua puluh pertanyaan.
  2. Indikator aktivitas siswa

Untuk lembaran observasi aktivitas siswa dinilai berdasarkan indikator berikut ini:

  1. Siswa memperhatikan penjelasan guru dengan seksama
  2. Siswa aktif bertanya
  3. Siswa mempertanyakan
  4. Siswa mengemukakan gagasan
  5. Indikator Hasil

Indikator kinerja guru merupakan aktivitas-aktivitas guru yang akan dinilai selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan strategi pembelajaran berdiri dan berhitung minimal mendapatkan persentase ketercapaian dari seluruh indikator sebesar 80% atau paling kurang berada pada kategori ‘baik’

Indikator  kinerja siswa juga dianggap berhasil dengan menggunakan strategi pembelajara berdiri dan berhitung minimal mendapatkan persentase ketercapaian dari seluruh indikator sebesar 80% atau paling kurang berada pada kategori ‘baik’.

  1. E.       Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dibuat untuk menjawab perumusan masalah penelitian, adapun hipotesis tindakan dalam penelitan ini adalah, melalui Penerapan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung dapat meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa kelas III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah guru serta siswa kelas III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru dengan siswa sebanyak 15 orang. Adapun objek dalam penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas belajar Matematika dengan menggunakan strategi pembelajaran berdiri dan berhitung.

 

  1. B.     Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di  kelas III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru dengan siswa sebanyak 15 orang, tahun pelajaran 2013-2014.

 

  1. C.    Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classrom based action research), yaitu suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.  Peneliti dalam penelitian ini sebagai pelaksana penelitian, pengumpul data, penganalisis data dan pelapor hasil penelitian.[36]

Rancangan penelitian dilakukan dengan 2 siklus. Siklus pertama dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan dan siklus kedua juga dilaksanakan dengan 2 kali, pertemuan, sehingga ada 4 kali pertemuan dalam dua siklus.

20

 

Siklus penelitian tindakan kelas dapat digambarkan seperti di bawah ini:

Gambar. 1

Alur Pelaksanaan Tindakan

 
   

 

  1. 2.       
  2. 3.       
  3. 4.       
  4. 5.       
  5. 6.       
  6. 7.       
  7. 8.       
  8. 9.       
  9. 10.   
  10. 11.   
  11. 12.   
  12. 13.   
  13. 14.   
  14. 15.   

 

 

                          Sumber: Arikunto.[37]

Agar penelitian tindakan kelas ini berhasil dengan baik tanpa hambatan yang mengganggu kelancaran penelitian, peneliti menyusun tahapan-tahapan yang dilalui dalam penelitian tindakan kelas, yaitu:

  1. Tahap perencanaan
  2. Mempersiapkan bahan pelajaran.

Sebelum strategi pembelajaran berdiri dan berhitung diterapkan maka guru perlu mempersiapkan terlebih dahulu materi pelajaran.

  1. Menetapkan jumlah siklus.

Peneliti merencanakan penelitian ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus saja, dimana dalam setiap siklusnya tersebut terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan.

  1. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari :

1)      Menyiapkan RPP

2)      Menyiapkan lembar observasi aktivitas guru.

3)      Menyiapkan lembar observasi aktivitas siswa.

4)      Meminta kesediaan salah satu guru untuk menjadi observer.

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan merujuk pada langkah-langkah yang tertuang dalam RPP, adapun tindakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa anda ingin mengadakan sebuah survey cepat, untuk membantu semua peserta mengenal “siapa yang ada di sini hari ini?”
  2. Guru meminta siswa untuk beridri dan berhitung
  3. Guru mengembangkan pernyataan-pernyataan yang akan menjadi minat berdasarkan kategori-kategori seperti

1)             Jabatan (“Berdirilah jika anda adalah seorang supervisor utama”)

2)             Status (“Berdirilah jika anda adalah seorang baru di perusahaan ini.”)

3)             Lokasi (“Berdirilah jika anda pernah tinggal di luar Negara ini.”)

4)             Pengalaman (“Berdirilah jika anda baru-baru ini bertemu seseorang yang terkenal.”)

5)             Keyakinana (“Berdirilah jika anda yakin bahwa pelanggan selalu benar.”)

6)             Opini (“Berdirilah jika anda piker bahwa program-program pelatihan memiliki dampak yang kecil setelah program tersebut selesai.”)

7)             Pilihan (“Berdirilah jika anda lebih memilih telepon dibandingkan e-mail.”)Prioritas (“Berdirilah jika anda piker bahwa penting menghabiskanlebih banyak waktu untuk mempertahankan jumlah pegawai dari pada mengembangkan produk.”)

8)             Hobi (“Berdirilah jika andamemiliki hobi memainkansebuah alat musik.”)

9)             Bakat (“Berdirilah jika anda mahir menggunakan excel.”)

  1. Guru menggunakan lima sampai dua puluh pertanyaan.
  2. Observasi

Dalam pelaksanaan penelitian ini juga melibatkan observer atau pengamat. Tugas dari observer tersebut adalah untuk melihat atau mengamati aktivitas guru dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu dengan menggunakan lembar observasi. Hal ini dilakukan untuk memberi masukan dan pendapat terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan, sehingga masukan-masukan dari pengamat dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus II. Pengamatan ditujukan untuk melihat aktivitas guru dan siswa ketika proses pembelajaran.

 

 

  1. Refleksi

Hasil yang didapat dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis, dari hasil observasi guru dapat merefleksi diri dengan melihat data observasi guru dan murid selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan refleksi dapat dilakukandengan langkah sebagai berikut:

a)      Memperhatikan hasil yang telah dicapai

b)      Mengkomunikasikan dengan observer

c)      Membuat langkah perbaikan selanjutnya

 

  1. E.       Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data di lapangan penulis menggunakan beberapa teknik, yaitu:

  1. Observasi

Mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yaitu meningkatkan aktivitas belajar Matematika melalui strategi pembelajaran berdiri dan berhitung. Adapun prosedur observasi adalah sebagai berikut:

a)    Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.

b)   Pengamat tinggal memberikan tanda cek (√) pada kolom yang dikehendaki pada format tersebut.

  1. Dokumentasi

Mengumpulkan informasi dan data yang diperoleh dari sekolah. Baik itu data mengenai jumlah siswa, perkembangannya selama proses belajar mengajar berlangsung maupun nilai yang diperoleh siswa sebelum dan sesudah digunakan strategi pembelajaran berdiri dan berhitung  dalam mengajar. Adapun prosedur dokumentasi adalah sebagai berikut:

a)      Mengidentifikasi dokumen sumber yang akan digunakan.

b)      Menggambarkan bagaimana dokumen-dokumen di buat, diproses dan digunakan.

c)      Menambahkan catatan yang akan memberikan keterangan mengenai suatu simbol atau kegiatan contohnya foto.

  1. F.       Teknik Analisis Data

Analisa data dilakukan dengan melihat aktiviatas guru dan aktivitas siswa. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi  dilakukan untuk mengamati aktivitas guru dan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung menggunakan metode point of view. Observasi dilakukan dengan kolaboratif, yaitu dibantu dengan teman sejawat. Setelah data terkumpul melalui observasi, data tersebut diolah dengan menggunakan rumus persentase sebagai berikut: [38]

                  

 

Keterangan:

f           = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya

N         = Number of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu)

P          = Angka persentase

100%   = Bilangan Tetap

Dalam menentukan kriteria penilaian tentang hasil penelitian yaitu keaktifan siswa, maka dilakukan pengelompokkan atas 5 kriteria berikut:

  1. 86 – 100 “Baik Sekali”
  2. 71 – 85 “Baik”
  3. 56 – 70 “Cukup”
  4. 41 – 55 “Kurang”
  5. < 40 “Sangat Kurang” [39]

 

Jadwal Pelaksanaan Penelitian

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Ahmadi, Psikologi Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 2003

 

Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, Bandung : Alfabeta. 2009

 

Anas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

 

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa undonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

 

Depddikbud. Buku Laporan Pendidikan SD. Jakarta: Depdikbud. 2011

 

Hartono, PAIKEM Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, Pekanbaru: Zanafa, 2008

 

Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, Insan Madani CTSD, Edisi Revisi, Yogyakarta, 2008

 

Jurnal Teknologi Pendidikan, Padang: Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang, 2008

 

Melvin L. Silberman, Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: Pustaka Insani Madani, 2009

 

Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2008

 

Nana Sudjana, CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru 1989

 

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya, 2004

 

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. Bandung. Rosda. 2004

 

Rahmayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalamulia, 2002

 

Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008

 

Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, 2011,

 

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Jakarta: Rineka Cipta. 2003

 

Zakiah Daradjat,  Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Akasara, 2008


[1] Jurnal Teknologi Pendidikan, Padang: Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang, 2008, hal. 57

[2] Ibid, hal. 58

[3] Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, Insan Madani CTSD, Edisi Revisi, Yogyakarta, 2008, hal. xiv

[4] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. Bandung. Rosda. 2004. hlm 175

[5] Ibid,  hlm 117       

[6] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit, h. 38-45

[7] Melvin L. Silberman. Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insani Madani, 2009, hal. 1

[8] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa undonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005, hlm. 23

[9] Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, Bandung : Alfabeta. 2009, hlm. 12

[10] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Jakarta: Rineka Cipta.2003 hlm 2

[11] Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2008, hlm. 14

[12] Hartono, PAIKEM Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, Pekanbaru: Zanafa, 2008, hlm.11

[13] Hisyam Zaini, dkk, Pembelajaran Aktif, Jakarta: CTSD, 2011, hlm. XVI

[14] Ibid., hlm. XVII

[15] Agus Suprijono, Cooperative Learning, Jakarta: CTSD, 2010, hlm. x

[16] Rahmayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalamulia, 2002, hlm 35

[17] Zakiah Daradjat,  Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Akasara, 2008, hlm. 138

[18] Nana Sudjana, CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru 1989), h. 110

[19] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit, h. 38-45

[20] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya, 2004, hlm. 107

[21] Ngalim Purwanto, Op cit, hlm. 107

[22] Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008, hlm. 45

[23] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, hlm. 145

[24] Sardiman, Op cit, hlm. 45

[25] Abu Ahmadi, Op cit, hlm. 64

[26] Ibid., hlm. 78

[27] Ibid., hlm. 70

[28] Ibid., hlm. 46

[29] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya, 2004, hlm. 102-106

[30] Slameto, Op.Cit, h. 54-60

[31] Melvin L. Silbermen, Op.Cit, hal. 1

[32] Melvin L. Silberman. Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insani Madani, 2009, hal. 1

[33]Ibid. hal. 1

[34] Melvin L. Silberman. Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insani Madani, 2009, hal. 1

[35] A. Hamid, Meningkatkan Aktivitas Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung materi Membaca Ayat-ayat Pendek Al-Qur’an pada Siswa Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 009 Siak Kecamatan Siak Kabupaten Siak, Pekanbaru: UIN Suska Riau, 2011.

[36] Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 16

[37] Ibid.

[38] Anas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004). h  43

[39] Depddikbud. Buku Laporan Pendidikan SD. (Jakarta: Depdikbud. 2011), h. 2

Leave a comment

Filed under CONTOH PROPOSAL

BEBERAPA JUDUL BUKU PENUNJANG

Abdul Aziz wahab, Metode dan Model-Model Mengajar IPS, Bandung: Alfabeta, 2007

Abdul Majid. Perencanaan Pembelajaran

Abdul Rachman Saleh. 2006. Madarasah Dan Pendidikan Anak Bangsa Visi, Misi dan Aksi. Jakarta. Rajawali pers

Abu Ahmadi .2003. Psikologi Sosial. Jakarta . PT Raja Grafindo Persada:.

Abu Ahmadi dan Joko Tri Pasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Pustaka Setia. Bandung.

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati .2001.Ilmu Pendidikan . Jakarta. Rineka Cipta

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. 2001.Psikologi Belajar . Jakarta. Rineka Cipta

Abu Ahmadi,  Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta,  2001

Abu Ahmadi. 1986. Tekhnik Belajar Dengan Sistem SKS. Surabaya. Bina Ilmu

Abu Ahmadi. 2003. Psikologi Sosial. Jakarta. Rineka Cipta

Abuddin Nata. 2006. Akhlak Tasawuf. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Abuddin Nata. 2006. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta. Raja Grafindo Persada

Agus Mahendra. 2001. Pembelajaran Senam di Sekolah Dasar. Jakarta. Depdiknas

Agus Mukholid. 2007. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Surakarta. Yudistira

Ahjosumidjo. 1999. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta. Raja Grafindo Persada

Ahmad Rohani. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta. PT. Rineka Cipta

Ahmad Rohani. Media Instruksional Edukatif.

Ahmadi, Abu dan Joko Tri Pasetya. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Pustaka Setia. Bandung.

Aladi,1999. Buku Panduan Penulisan Skripsi FKIP UIR. Pekanbaru

Alex Sobur. 2003. Psikologi Umum. Bandung. CV. Pustaka Setia.

Anas Sudijono. 2004. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta. Raja Grafindo Persada

Angkowo, 2002, Optimaslisasi Media Pembelajaran, Gramedia, Jakarta.

Ariesandi. 2008. Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses Dan Bahagia. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama

Arikunto, dkk,  Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta:  Bumi Aksara, 2006

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.     Jakarta:  Asdi Mahasatya.

Arlizon. 1995. Kontribusi Kreativitas Terhadap Prestasi Belajar. Pekanbaru. Lembaga Penelitian UNRI

Arsyad Azhar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta. Rajawali Perss.

Ary H. Gunawan. 2002. Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro). Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Asmara Jaya. Futsal, Gaya Hidup, Peraturan Dan Tips-Tips Permainan. Yokyakarta. Pustaka Timur

Asmaran. 2002. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta. Raja Grafindo Persada. 

Badul Azis Wahab.2007. Metode Dan Model-Model Mengajar. Bandung. Alfabeta

Baharudin dan Nur Wahyudi. Teori Belajar dan Pembelajaran.

Bambang Sujiono dan Yuliani Nuraini. 2005. Mencerdaskan Perilaku Anak Usia Dini. Jakarta. PT Elex Media Komputindo.

Bertens. 2004. Etika. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.

Bimo Walgito. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta. Andi

BPKB Riau. 2007. Manajemen PKBM. Pekanbaru. Ampujari

Buchari Alma. 2000. Kewirausahaan. Bandung Alfabeta

Budiardjo, Meriam, 1981.  Partisipasi dan Partai Politik.  Jakarta. Perintis Gramedia

Buku Ajar. 1998. Acuan Pengayaan Bahasa Indonesia SD Kelas IV. Solo: CV. Shindunata.

Burhanuddin Salam. 2000. Etika Individual. Jakarta. Rineka cipta

Carin, AA, 1993, Teaching Modern Science, Sixth edition, Merril Publishers, New York.

Chairinniza Graha. 2007. Keberhasilan Anak Tergantung Orang Tua. Jakarta.PT. Gramedia

Charles Schaefer. 2003. Bagaimana Mendidik dan Mendisiplinkan Anak. Jakarta. Restu Agung.

Cheppy. 2000. Strategi Ilmu Pengetahuan Sosial. Surabaya. Karya Anda

Conny R. Semiawan. Pendidikan Keluarga Dalam Era Global. Jakarta. PT. Preenhalindo.

Coony. S. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Dadang A. Primana, 2008. Pemenuhan Energi pada Olahraga ((Metabolisme energi pada berbagai jenis olahraga). Makalah (tidak diterbitkan)

Daeng Ayub Natuna. 2007. Konsep Pelaksanaan Pendidikan Luar Sekolah. Pekanbaru. Universitas Riau

Dalyono. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta.

Darwin, 2001, Pengajaran IPA dengan Menggunakan PendekatanPembelajaran Terpadu pada Siswa kelas I SLTP 21 Pekanbaru, Universitas Riau, Pekanbaru.

Dasri Al-Mubary. Puisi dan Prossa.

Daud, D, 2004, Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam di Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, UNRI, Pekanbaru.

Declan Treacy. 2003. Manajemen Waktu Yang Sukses. Jakarta. Kesaint Blanc

Dede Rosyada. 2004. Paradigma Pendidikan Demokratis. Jakarta. Prenada Media.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka

Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Menebar Teladan Melalui Karya Nyata. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Depdikbud 1993. Pedoman Pengajaran Senam Di Sekolah Dasar. Jakarta

Depdikbud, Kamus Besar  Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002.

Depdikbud. 1981. Pedoman Pembinaan Program Bimbingan di Sekolah. Jakarta

Depdikbud. 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Depdikbud 

Depdikbud. 1996. Buku Panduan Pemasyarakatan Buku dan Minat Baca. Jakarta. Dirjen Dikdasmen.

Depdikbud. 2001. Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan dan Pengembangan Olahraga. Jakarta: Balai Pustaka.

Depdiknas 2006. Standar Kompetensi Mata Pelajaran IPS. Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas 2006.Pusat Pengembangan Kurikulum. Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas, 2001. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan pada Taman Penitipan Anak. Jakarta.

Depdiknas, 2003, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains Dan MI, Depdiknas Jakarta.

Depdiknas, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Tingkat SD dan MI, Pekanbaru:  Dispora, 2006

Depdiknas, Undang-Undang Sitem Pendidikan Nasiona No 20 Tahun 2003. Jakarta: Depdiknas, 2003

Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran IPA Dan MI. Depdiknas Jakarta.

Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi mata Pelajaran Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal. Jakarta. Balitbang

Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains Dan MI. Depdiknas Jakarta.

Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Sains Dan MI. Depdiknas Jakarta.

Depdiknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Science  Dan MI. Depdiknas Jakarta.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan. Jakarta: Depdiknas

Depdiknas. 2006. Perangkat Pembelajaran Untuk SD/MI kls 1 s/d 6. Pekanbaru.  KKG Penjas Orkes.

Depsos, 1995. Pedoman Penyelenggaran Usaha Kesejahteraan Anak Melalui Taman Pendidikan Anak. Jakarta.

Depsos. 1997. Petunjuk Tekhnis Penyelenggaraan Kelompok Bermain. Jakarta. Dirjen Bina Kesejahteraan sosial.

Depsos. 1998. Standar Pelayanan Panti Sosial Taman Penitipan Anak. Jakarta.

Desi Anwar, Kamus Bahasa Indonesia,  Surabaya: PT Amelia, 2002

Diktat. Ketentuan Pengetikan Proposal dan Skripsi.

Diktat. Membina Keterampilan Menulis Paragraf Dan Pengembangannya.

Diktat. Model Pembelajaran Kooperatif dan Aplikasinya Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas

Dimyati dan Midjiono, Belajar dan Pembelajaran,  Jakarta: Rineka Cipta,  2006

Dinas Pendidikan Provinsi Riau. 2007. Manajemen PKBM. Pekanbaru. Dinas Pendidikan Provinsi Riau.

Dinata,Marta.2007. Dasar-Dasar Mengajar Sepak Bola.Jakarta.Cerdas Jaya

Dirjen Padu. 2000. Buletin Padu Jurnal Ilmiah Anak Dini Usia Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta. 

Dirjen Pembangunan Desa. 1986. Buku Pegangan Kader pengelola program/penyuluh PKK tingkat Kecamatan. Jakarta. Tim Penggerak PKK Pusat

Djaali dan Pudji Waluyo. Pengukuran Dalam Bidang Pendidikan

Djaali. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara

Djamarah dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta 

Djamarah, S.B. 2000. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta. Rineka Cipta

Djamarah, S.B. 2002.Psikologi belajar. Jakarta. Rineka Cipta

E. Koswara. 1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung. PT. Eresco.

Elida Prayitno. 1989. Hasil Dalam Belajar. Depdikbud. Jakarta

Elida Prayitno.1989.  Motivasi dalam belajar. Jakarta. P2LPTK.

Elizabet B. Hurlock. 1980. Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta. Erlangga.

Elly M. Setiadi, Kama A. Hakam dan Ridwan Effendi. 2006, Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar. Jakarta. Kencana Prenada Media Group.

Ellys. 2005. Kiat-Kiat Meningkatkan Potensi Belajar Anak. Bandung . pustaka Hidayah

Erni Tisnawati dan Kurniawan Saefulllah. 2006. Pengantar Manajemen. Jakarta. Prenada media.

Etin Solihatin, Kooperative Learning,  Jakarta: Bumi Aksara, 2007

Firdaus. 2006. Komunikasi Organisisasi Ikatan Remaja Mesjid di SMU Muhamadiyah Kota Pekanbaru. Skripsi. UIN. (Tidak diterbitkan)

Gimin, Dkk. (2005). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa. FKIP. UNRI.

Gimin, Dkk. 2008. Instrumen dan Pelaporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas. Pekanbaru. Makalah Pelatihan

H.M. Surya. 2001. Kapita Selekta Kependidikan SD. Jakarta .UT

Hadi Subroto, T, 1998, Pembelajaran Terpadu, Materi Pokok PGSD, Universitas Terbuka, Jakarta.

Hamzah B. Uno. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta. Bumi aksara

Hamzah B. Uno. 2006. Perencanaan Pendidikan. Jakarta. Bumi Aksara

Hamzah B. Uno. 2007. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Bandung. Bumi Aksaara

Hamzah B. Uno. 2007. Profesi Kependidikan. Jakarta. Bumi aksara

Hamzah B. Uno. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta. Bumi aksara

Harahap, Sahrin.2000. Pemilu Yang Jurdil, PT. Tiara Wawancara, Jakarta.

Harsono.1988. Coaching Dan Aspek-Aspek Psikologis Dalam Choaching.. Jakarta: CV. Tambak Kusuma

Harsuki. 2002. Perkembangan Olahraga Terkini. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Hartono, Strategi Pembelajaran. Pekanbaru: LSFK2P, 2007.

Haryanto . 2006.Sains untuk Sekolah Dasar kelas VI. Erlangga . Jakarta

Haryanto., 1982. Sistem Politik Suatu Pengantar. Yogyakarta. Liberty

Haryati.M. 2006. Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi. Gaung Persada Press. Jakarta.

Hasbullah. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Heidjarahman dan Suad Husnan. 2000. Managemen Personalia. Yogyakarta. BPFE

Hendrojogi.2004. Koperasi. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada

Hibana S Rahman. 2005. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta. PHTKL Pers.

Hisyam Zaini,dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: CTSD, Edisi Revisi  2007

I.G.A.K. Wardani dkk. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. UT.

Ibrahim Bafadal, 2006, Dasar-Dasar Manajemen Dan Supervisi Taman Kanak-Kanak, Jakarta, PT, Bumi Aksara.

Ibrahim dan Nana Syaodih. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta. Rineka Cipta.

Ibrahim. M. 2005. Asesmen Berkelanjutan. Unesa University Press-IKAPI. Surabaya.

Imawan. 1986. Teori Political Realigment, PT. Remaja Rosda Jaya, Bandung.

Irawati Istadi. 2005. Istimewakan Setiap Anak. Jakarta. Pustaka Inti

ISBN . 2007. Panduan Lengkap KTSP. Pustaka Yustisia. Jakarta.

Isjoni. 2007. Cooperative Learning Efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung. Alfabeta

Isjoni. 2007.Pembelajaran Visioner. Jakarta. Pustaka pelajar

Iskandar, 1997, Pendidikan Pengetahuan Alam, Depdikbud Dirjen Dikti P3GSD, Jakarta,

Ismaryati. 2008. Tes & Pengukuran Olahraga. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.

J. Winardi. 2004.  Motivasi Pemotivasian. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

Jhon D. Tenag. 2008. Mahir Bermain Futsal. Bandung. Mizan Media Utama

Jhon F. Echols dan Hasan Sadhily. 2003. Kamus Indonesia-Inggris. Jakarta. Gramedia

Jochen Ropke (2003). Ekonomi  Koperasi  teori dan manajemen. Jakarta. Salemba Empat.

Kahono. 1984. Metode Drum Band Marching Band. Solo. Tiga Serangkai. 

Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga

Kardi, Soeparman. 2000. Pengajaran Langsung. Unversitas Negeri Surabaya

Karim, S, K, A, 1998, Panduan Pembelajaran Fisika SLTP, Depdikbud, Jakarta.

Kartini Kartono. 1992. Psikologi Wanita (jilid 2) Mengenal Wanita Sebagai Ibu dan Nenek. Bandung. Mandar maju

Kartini Kartono. 1992. Psikologi Wanita. Mengenal Gadis Remaja dan Wanita Dewasa. Bandung. Mandar Maju

Kartini Kartono. 2000. Hygiene Mental.  Bandung, Mandar Maju.

Kasihani Kasbolah. 198. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Depdikbud

Khalid Ahmad .2005. Rumah Pilar Utama Pendidikan Anak. Robbani Press. Jakarta

Khalid Ahmad asy-Syantut. 2005. Rumah Pilar Utama Pendidikan Anak. Jakarta. Robbani Press.

Kosasih, Engkos. 1993. Olahraga Teknik & Program Latihan. Jakarta: Akapres.

KTSP. 2007. Panduan Lengkap KTSP. Yokyakarta. Pustaka Yudhistira

Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Kusnadi .2003. Masalah Kerjasama, Konflik, dan Kinerja (Kontemporer dan Islam). Malang. Torada

Larry Hodges, 1996.  Tenis Meja Tingkat Pemula. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada

Lexy J. Moleong. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Lie, Anita. 2002, Cooperative Learning, Jakarta. Grasindo,.

Lutan, Rusli.1991. Manusia dan Olahraga. Jakarta. Rineka Cipta

M. Ayub. 1996. Manajemen Masjid. Jakarta. Gema Insani Press

M. Dalyono. 1996. Psikologi Pendidikan. Semarang. Rineka cipta

M. Shochib.1998. Pola Asuh Orang Tua Dalam Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta Rineka Cipta.

M.Dalyono. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Made Pidarta .2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta. Rineka cipta

Made Wena. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta. Bumi Aksara

Malayu Hasibuan. 2005. Organisasi dan Motivasi. Bandung. Bumi Aksara

Malik, Abdul dan Shanty. 2003. Kemahiran Menulis. Pekanbaru: Unri Press.

Maliki, Zainudin. 2001. Demokrasi Tersandra, Galang Press, Yogyakarta.

Manulang, M (1981).  Manajemen Personalia. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Mariun. 1979. Azas-Azas Ilmu Pemerintahan. Yogyakarta. Badan Penelitian dan Pengaembangan. Fakultas Sospol UGM

Martinis Yamin. 2007. Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta. Gaung Persada Press

Masnur Muslich. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual Panduan Bagi Guru Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Jakarta. Bumi aksara.

May Sumarya. 2005. Pendidikan Jasmani Untuk Sekolah Dasar kelas II. Jakarta. Arya duta. 

May Surya. 2004. Pendidikan Jasmani 2. Depok. Arya Duta

Melvin L. Silberman. 2006. Active Learning. Bandung. Nusamedia

MichaeL Leboeuf. 2000. Kiat Kerja. Jakarta. Mitra Utama.

Mirdianto, (2009),”Lempar Cakram” (http://dfmirdianto. blogspot.com/2009/11/ lempar -cakram.html) download tanggal 04/01/2010

Mitri Irianti. 2007. Pengembangan Program Pengajaran Fisika. Pekanbaru. Cendikia Insani

Moch. Idochi Anwar. 2004. Administrasi Pendidikan dan Manajemen Biaya Pendidikan. Bandung.Alfabeta

Moekijat. 2002. Dasar-Dasar Motivasi. Bandung. Pioner jaya.

Moenir. 2006. Manajemen Pelayanan Umum di Indonesia. Jakarta. Bumi Aksara

Moeslichatoen. 1999. Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak. Jakarta. Aneka cipta

Moh. As’ad. 1987. Psikologi industri. Yogyakarta. Liberty.

Muchdarsyah Sinungan. Produktivitas.

Muhaimin. 2007. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Madrasah, dan Perguruan Tinggi. Jakarta. Rajawali pers

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar,  Bandung: Remaja Rosda Karya,  1996

Muhibbin Syah. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung. Remaja rosda karya.

Mukholid, . 2007. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Surakarta. Yudistira

Mukholid, A. (2007), Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Jakarta: Yudhistira

Mukholid, Agus. 2007. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Surakarta. Yudistira

Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Rosda. Bandung.

Mulyasa. 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung. Rosda

Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Rosda. Bandung.

Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah.

Mulyasa.2002. Managemen Berbasis Sekolah. Bandung. Rosda

Murhananto. 2006. 

Musaheri. Pengantar Pendidikan.

Muslich, Masnur, KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

Muslim Ibrahim. Pembelajaran Kooperatif

Mustafa dan Lana, Agusli. 1986. Keterampilan Berbicara. Padang. FPBS IKIP Padang.

Mustafa, Dkk. 2006. Berbicara. Pekanbaru. FKIP UNRI

Mustofa, .1999. Memilih Partai Mendambakan Presiden, PT. Remaja Rosda Karya,     Bandung.

Mutis, Thoby. 1992.Pengembangan Koperasi. Jakarta. Gramedia

Muzaqi. 2005. Pengaruh Pendampingan Tutor Terhadap Motivasi Belajar Warga Belajar PKBM Taman Belajar Kecamatan Kenjeran Surabaya. www.google.com

Nana Sudjana, 2005. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo. Bandung.

Nana Syaodih Sukmadinata. 1994. Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia. Kurikulum untuk abad ke 21. Jakarta

Nanang Fattah,. 2004. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Dewan Sekolah. Bandung. Bani Quraisy

Ndraha, Taliziduhu. 2005. Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan. Jakarta. Rineka Cipta.

Nitisesmito, Alex (1982). Manajemen Personalia. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Nur, M, 1998, Teori Pembelajaran Kognitif, Surabaya: IKIP Surabaya.

Nurcholis. 2006. Saya Senang Berbahasa Indonesia Untuk Sekolah Dasar Kelas VI. Jakarta: Erlangga.

Nurhadi,  Membaca Cepat dan Efektif,  Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005.

Nurhasan. 2001. Tes Dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta. Depdiknas.

Nurhasan. 2001. Tes Dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta. Depdiknas.

Nurhasan. 2001. Tes Dan Pengukuran Dalam Pendidikan Jasmani. Jakarta. Depdiknas.

Oemar Hamalik. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi aksara

Pandji Anoraga. 2001. Psikologi Kerja. Jakarta. Rineka cipta.

Poerwadarminta, W.J.S. (1958). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta Balai Pustaka.

Prabowo, 2000, Pembelajaran Fisika Dengan Pendekatan Terpadu Dalam Menghadapi Perkembangan IPTEK Millenium III, Himpunan Fisika Indonesia, Jakarta.

Prayitno & Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling. Jakarta. Rineka Cipta

Priyono dan Titik Sayekti, (2006),

Pusdiknas. (1989). Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-Kanak. Jakarta : Depdiknas.

Rahim, Farida, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar, Jakarta: Bumi Aksara, 2007

Rais, Amien. 1992. Menyembuhkan Bangsa Yang Sakit, Yayasan Benang Budaya, Yogyakarta.

Ramayulis. 2004. Psikologi Agama. Jakarta. Kalam Mulia

Rani Andriani Koswara. 2007. Panduan Lengkap Berbisnis Kue Kering. Jakarta. Transmedia Pustaka

Razak, 2003. Bahasa Indonesia Versi Perguruan Tinggi. Pekanbaru, Autografika.

Razak, Abdul, Membaca Pemahaman teori dan Aplikasi Pengajaran. Pekanbaru: PT. Autogragi, 2007.

Razak, Abdul. 2003. Bahasa Indonesia Versi Perguruan Tinggi. Pekanbaru: Autografika.

Retno S. Satmoko. 1995. Pengantar Pendidikan. Jakarta : Universitas Terbuka-Depdikbud.

Riduwan, 2007, Pengantar Statistika Untuk Penelitian Pendidikan, Sosial, Ekonomi, Komunikasi dan Bisnis, Bandung, Alfabeta

Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung Alfabeta

Rochiati, 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Roestiyah, 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta

Roji. 2006. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk SMP Kelas VIII. Jakarta. Erlangga.

Ronald Nangoi. 1996. Pengembangan Produksi Dan Sumberdaya Manusia. Jakarta. Raja grafindo Pdersada.

Rubertus Angkowo dan A. Kosasih. 2007.  Optimalisasi Media Pembelajaran. Jakarta. PT. Grasindo

Ruky, S,Ahmad. (2002). Sistem Manajemen Kinerja. Jakarta : PT.Gramedia Pustaka Utama.

Rusli Ibrahim. 2001. Landasan Psikologi Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Olahraga Depdiknas.

Sadiman, Arief, dkk. 2006. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta. Rajawali Perss.

Safari. 2005. Penulisan Butir Soal Berdasarkan Penilaian Berbasis Kompetensi. Jakarta. Apsi Pusat.

Sajoto.1995.Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Semarang: Dahara Prize

Saleh Marzuki. 1994. Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia. Kurikulum untuk abad ke 21. Jakarta

Samego, Indria. 1999. Korupsi Politik Pemilu Dan Legitiminasi Pasca Orde Baru, PT. Pustaka Cidesindo.

Samsudin, 2008. Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan Sekolah Dasar. Jakarta:  Putra Grafika.

Samsul Nizar. 2007. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta. Kencana.

Sanjaya, Wina,  Strategi Pembelajaran,  Jakarta: PT. Kencana, 2007

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana, Jakarta.

Santosa, Puji dkk. 2005. Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta: UT

Sardiman , A.M.2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar . Jakarta. Rajawali, Pers

Sarlito Wirawan Sarwono. 1982. Pengantar Umum Psikologi. Jakarta. Bulan Bintang.

Sarlito Wirawan Sarwono. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta. Rajawali press

Sastrohadiwiryo, Siswanto. (2002). Manajemen Tenaga Kerja Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.

Saydam, Gouzali. 1998. Dari Balik Suara Ke Masa Depan Indonesia, PT. Raja Grapindo Persada, Jakarta.

Sedarmayanti. 1996. Tata Kerja dan Produktivitas kerja. Bandung. Mandar Maju

Sembiring, Sentosa. 2008. Undang-Undang Keolahragaan No 3 tahun 2005. Bandung Nuansa Aulia

Shanty, dkk.. 2006. Modul Menulis. Pekanbaru: Cendikia Insani.

Siagian, Sondang P.. 2005. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta. Rineka Cipta.

Silbermen, Active Learning (101 Cara Belajar Siswa Aktif),  Bandung: Nusa Media, 2006

Silbermen, Active Learning, Bandung: Nusa Media, 2006.

Singarimbun, Masri. 1995.  Metode Penelitian Survai. Jakarta. LP3ES

Singarimbun, Masri. 1995.  Metode Penelitian Survai. Jakarta. LP3ES.

Siswanto (2005), Pengantar Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta

Sitio, Arifin. 2001. Koperasi Teori dan Pratik. Jakarta. Erlangga

Sjarkawi .2006. Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta. Bumi Aksara.

Slamet, Dasar-dasar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah dasar.. Surakarta:  Penerbitan dan Percetakan UNS Press, 2007.

Slameto. 2003. Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta. Rineka cipta

Slavin, Robert E, 2008. Cooperative learning Theori Reseach and Practice, Allyn and Bacod Boston

Soemiarti Patmonodewo. 1995. Pendidikan Anak Prasekolah. Jakarta. Rineka Cipta

Soeparman Kardi. 2000. Pengajaran Langsung. Unversitas Negeri Surabaya

Soerjono Soekanto. Sosiologi Keluarga

Soetjipto dan Raflis Kosasi. 2004.  Profesi Keguruan. Jakarta. Rineka Cipta.

Solihatin, Etin,. 2007. Cooperatif Learning Analisis Pembelajaran IPS. Jakarta. Bumi Aksara.

Sondang P. Siagian. 1995. Teori Motivasi dan Aplikasinya. Jakarta. Rineka Cipta.

Sri Dandi Tumbel & Ondi Sukmara. Etika Komunikasi dan Pengembangan Diri.

Sri Sunarsih, dkk. 2006.  Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan Penjas Orkes untuk SD Kelas IV. Jakarta. Erlangga

Stephen P. Robbins. 2003. Perilaku Organisasi. Jakarta. Gramedia

Strategi Kebijakan Manajemen.

Subangun, Emanuel. 1999. Politik Anti Kekerasan Pasca Pemilu 1999, Yayasan Alocita, Yogyakarta.

Sudarwan Danim. 2004. Motivasi, Keemimpinan dan Efektivitas Kelompok Jakarta. PT. Rhineka Cipta.

Sudibyo, M. 1995. Pemilihan Umum 1992 Suatu Evaluasi. Jakarta. Rajawali Press.

Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung. Alfabeta.

Suharsimi Arikunto, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara

Sujana. 2004. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Remaja Rodakarya. Bandung.

Sukamdiyo. 1996. Manajemen Koperasi. Jakarta. Erlangga 

Sukarna. 1979. Sistem Politik. Bandung. Alumni

Sumarjan, Selo. 1999. Kisah Perjuangan Reformasi. Pustaka Sinar Harapan Jakarta.

Sumarya, May 2005. Pendidikan Jasmani untuk Sekolah dasar Kelas V. Jakarta. Arya Duta

Sunarsih Sri, dkk. 2006.  Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan Penjas Orkes untuk SD Kelas IV. Jakarta. Erlangga

Sunarto dan Agung Hartono. 2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta. Rineka cipta

Supriatna, Ayi.1995.Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 3. Bandung. Ganeca

Suroso, dkk. 2003. Ensiklopedi Sains dan Kehidupan.Jakarta:Tarity Samudra Berlian

Surya. 2001. Kapita Selekta Kependidikan SD. Jakarta .UT

Surya. 2001. Kapita Selekta Kependidikan SD. Jakarta .UT

Surya. 2001. Kapita Selekta Kependidikan SD. Jakarta .UT

Suryabrata, Suryadi. 2006. Metodologi Penelitian. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Suryosubroto, B, 2002, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, Jakarta: Rhineka Cipta,

Suwardi, MS & Syaiful Anwar. Pendidikan Nilai, Norma dan Moral.

Suyadi. 1985.  Ilmu Budaya Dasar. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Suyono. 2002. Citra Pesona Wanita Karier. Jakarta. Gramedia

Syah, Muhibbin 2007. Psikolgi Belajar. Jakarta. Rajawali pers..

Syaiful Bahri Djamarah . 2002. Rahasia Sukses Belajar. Jakarta. Rineka cipta.

Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta 

Syaiful Bahri Djamarah. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta. Rineka cipta.

Syamsu Mappa. 1994. Teori Belajar Orang Dewasa. Dikti-Depdikbud.

Sylvia Rimm. 2003. Mendidik Dan Menerapkan Disiplin Pada Anak Prasekolah. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama

Tamat, Tisnowati .2002. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta. UT

Tarigan, 1979. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.  Bandung. Angkasa.

Tarigan, Henry, G. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung: Angkasa, 1998.

Terry, George, R. (1986). Azas-azas Manajemen. Bandung :  Diterjemahkan Oleh Paloepi Tyas Rahadjeng ,PT. Alumni .

Thoby Mutis. 1992.Pengembangan Koperasi. Jakarta. Gramedia

Thoha, Miftah. (1989). Perilaku Organisasi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Tim Abdi Guru, 2007. Pendidikan Jasmani Olahraga dan kesehatan, Jakarta. Erlangga

Tim Abdi Guru. 2007. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelas VI, Erlangga

Tim abdi guru. 2007. Pendidikan Jasmani, Olahraga Dan Kesehatan Penjas Orkes Untuk SD Kelas VI. Jakarta. Erlangga

Tim Abdi Guru. 2007. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Semarang. Erlangga

Tim Abdi Guru. 2007. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Semarang. Erlangga

Tim Penggerak PKK. 1987. Buku Pegangan Kader Pengelola/Penyuluh Lapangan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Tingkat Kecamatan. Jakarta.

Tim Penjas SD. 2004. Pendidikan Jasmani.Jakarta. Yudhistira

Tim Penjas SD. 2005. Pendidikan Jasmani Mari Berolahraga dan Berprestasi. Bogor. Yudistira

Tim Penjas SD. 2005. Pendidikan Jasmani Mari Berolahraga dan Berprestasi. Bogor. Yudistira

Tim Penjas SD. 2007. Pendidikan Jasmani  Olahraga Dan Kesehatan 4. Surakarta. Yudhistira

Tim Penjas. 2007. Pendidikan Jamani Olahraga Dan Kesehatan 6. Jakarta. Yudhistira

Tim Pustaka Yustisia. 2007. Panduan Lengkap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Yogyakarta. Pustaka Yutisia.

Tim Pustaka Yustisia. 2007. Panduan Lengkap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Yogyakarta. Pustaka Yutisia.

Tisnowati Tamat,.2002. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta. UT

Tisnowati Tamat. 2002. Pendidikan Jasmani Olahrag dan Kesehatan. Jakarta. Erlangga

Trianto. 2006. Model pembelajaran inovatif berorientasi kontruktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka

Tu,u. 2004, Peran Disiplin Pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta.  Grasindo

Udin S. Winasaputra. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. UT

Umar Tirtarahardja. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta

Umar, Husein.(1998). Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Umberto Sihombing. 2000. Pendidikan Luar Sekolah Manajemen Strategi. Jakarta.  PD. Mahkota

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992, pasal 17 ayat 1 Hukum Koperasi Indonesia. Jakarta. Kelapa Gading Permai

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992. Tentang Perkoperasian. Surabaya. Arkola

Undang-Undang Republik Indonesia No 3 Tahun 2005 Tantang Sistem Keolahragaan Nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia, No 3 Tahun 2005. Tentang Ke olahragaan Nasional. Jakarta: Mendipnas.

Usmara. 2006. Motivasi Kerja Proses, Teori dan Praktik. Yogyakarta. Asmara Books.

UU No. 20 tahun 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta

Wardani dkk. 2004. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. UT.

Wasty Soemanto. Pendidikan Wiraswasta.

Werkanis. 2005. Strategi Mengajar Dalam Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pekanbaru: Sutra Benta Perkasa.

Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran,  Jakarta: Kencana,  2007

Winardi. 2004. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta. Raja

Zahara Idris. 1992. Pengantar Pendidikan. Jakarta. Gramedia

Zahruddin dan Hasanuddin. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta. Raja Grafindo Persada

Zahruddin. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta. Raja wali Pers. 

Zainal Aqib. Penelitian Tindakan Kelas.

Zaini, Hisyam dkk,  Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: CTSD,  2005.

Zuhdi MF. 2006. Startegi Belajar Mengajar Sains. Pekanbaru. Cendikia Insani

Zulkarnain & Susda Heleni. Penelitian Tindakan Kelas.

Zulkarnain. Kewirausahaan.

Leave a comment

Filed under CONTOH PROPOSAL

JUDUL SKRIPSI PAUD, EKONOMI, PLS, PGSD, DLL

PAUD

  1. MOTIVASI ORANG TUA MEMASUKKAN ANAKNYA BERSEKOLAH
  2. MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA 5 – 6 TAHUN MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK BERBICARA BERPASANGAN
  3. ANALISIS KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK USIA 5 – 6 TAHUN MELALUI METODE BERMAIN PERAN
  4. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIG SAW UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ANAK DALAM MENGENAL BILANGAN
  5. ANALISIS KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  6. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK KELILING KELAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ANAK DALAM MENGENAL BILANGAN
  7. MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR BERHITUNG DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BERGAMBAR PADA ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  8. PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR ANAK DALAM PEMBELAJARAN PENGURANGAN DENGAN METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) USIA 5 – 6 TAHUN
  9. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK BERBICARA BERPASANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  10. HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA 4-6 TAHUN
  11. PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR ANAK DALAM PEMBELAJARAN PENGURANGAN DENGAN MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) USIA 5 – 6 TAHUN
  12. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK MENCARI PASANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  13. MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA 4 – 6 TAHUN DALAM MENYEBUTKAN URUTAN KATA MELALUI MEDIA GAMBAR
  14. KORELASI ANTARA MINAT BELAJAR DAN AKTIVITAS BELAJAR DALAM MATA PELAJARAN AGAMA ISLAM SISWA
  15. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE GIVING QUESTION AND GETTING ANSWER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR EKONOMI
  16. PENINGKATAN KREATIVITAS ANAK MELALUI MEDIA KARTU BERGAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
  17. UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI CERITA DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG
  18. HUBUNGAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH DENGAN MOTIVASI KERJA GURU TK
  19. PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ANAK USIA 4-5 TAHUN DALAM MENGENAL BILANGAN
  20. PENGGUNAAN MEDIA FLASH CARD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGENAL HURUF ABJAD PADA ANAK USIA 4 – 5 TAHUN
  21. PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MELALUI METODE BERCERITA ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  22. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA YANG MENGIKUTI DAN YANG TIDAK MENGIKUTI PAUD
  23. PENINGKATAN KEMAMPUAN MENYIMAK CERITA MELALUI KEGIATAN  STORY READING ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  24. MENINGKATKAN MINAT BACA ANAK MELALUI PERMAINAN ACAK KARTU SIMBOL BERBASIS LINGKUNGAN ANAK USIA 5-6 TAHUN
  25. HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA DENGAN AGRESIVITAS ANAK USIA 5–6 TAHUN
  26. MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN USIA 5–6 TAHUN
  27. PENGGUNAAN METODE MONTESSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AWAL ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  28. HUBUNGAN BIMBINGAN BELAJAR OLEH ORANG TUA DENGAN KEMAMPUAN KOGNITIF ANAK USIA 5-6 TAHUN
  29. PENGAJARAN GERAK  TARI PADA ANAK USIA DINI
  30. PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  31. MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN PENGGUNAAN KARTU BERGAMBAR/FLASHCARD UNTUK ANAK USIA 5-6 TAHUN
  32. ANALISIS KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA 5 – 6 TAHUN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF 
  33. MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA 5 – 6 TAHUN MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK BERBICARA BERPASANGAN
  34. PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MELALUI STORY READING ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  35. PENGEMBANGAN  MOTORIK KASAR ANAK USIA 5 – 6 TAHUN  MELALUI PERMAIANTRADISIONAL 
  36. ANALISIS KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA 5 – 6 TAHUN
  37. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA KEMAMPUAN MENGENAL BILANGAN ANAK USIA 4 – 6 TH MELALUI PERMAINAN KARTU ANGKA
  38. PENINGKATAN PERILAKU MORAL MELALUI METODE BERCERITA DENGAN GAMBAR PADA ANAK USIA 5-6 TAHUN
  39. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERCERITA ANAK
  40. MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR BERHITUNG DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BERGAMBAR
  41. KEMAMPUAN BAHASA ANAK USIA 5–6 TAHUN DALAM BAHASA LISAN DALAM TANYA JAWAB POLA 5W + 1H
  42. PENGETAHUAN GURU TAMAN KANAK-KANAK TENTANG MUSIK INSTRUMENTAL TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK
  43. PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR ANAK DALAM PEMBELAJARAN PENGURANGAN DENGAN METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) USIA 5 – 6 TAHUN
  44. PERBANDINGAN POLA PEMBIASAAN PRILAKU MORAL ANAK DI SEKOLAH DAN DI RUMAH
  45. HUBUNGAN ANTARA POLA ASUH ORANG TUA OTORITER DENGAN AGRESIVITAS ANAK USIA 5–6 TAHUN
  46. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN TEKNIK BERBICARA BERPASANGAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA ANAK USIA 5 – 6 TAHUN

 

FAKULTAS EKONOMI

  1. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP SIMPANAN WADI’AH YAD AL AMANAH DAN WADI’AH YAD ADH DHAMANAH

 

 

PAI (PENDIDIKAN AGAMA ISLAM)

  1. KERJASAMA ORANGTUA SISWA DENGAN GURU SMPN
  2. PENGGUNAAN STRATEGI PORTOFOLIO PADA MATERI MENCERITAKAN KISAH NABI UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MURID KELAS V
  3. PENGARUH AKTIVITAS ORANGTUA TERHADAP HASIL BELAJAR AGAMA ISLAM SISWA

 

PGMI (PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH)

  1. PENGARUH KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN KEPALA SEKOLAH TERHADAP KUALITAS MANAJEMEN KELAS GURU KELAS
  2. MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA KELAS III TENTANG MENGENAL SILSILAH KELUARGA PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MELALUI MEDIA BAGAN
  3. MENINGKATKAN MOTIVASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN PKN MELALUI METODE TANYA JAWAB
  4. PENINGKATAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA MELALUI METODE KERJA KELOMPOK PADA PELAJARAN AL-QUR’AN HADIST KELAS IV
  5. MENINGKATKAN PENYELESAIAN TUGAS SISWA PADA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI PORTOFOLIO DI KELAS IV
  6. MENINGKATKAN DISIPLIN BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL SISWA KELAS V MELALUI PEMBERIAN  HADIAH
  7. UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPS MELALUI MEDIA GAMBAR PADA MURID KELAS V
  8. MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI METODE ACTIVE KNOWLEDGE SHARING DI KELAS V
  9. UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA DALAM BELAJAR MEMBACA PADA BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA MELALUI METODE STAD KELAS V
  10. MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MURID DALAM MENGHARGAI KEPUTUSAN BERSAMA PADA MATA PELAJARAN PKN MELALUI METODE PEMECAHAN MASALAH DI KELAS V
  11. MENINGKATKAN MINAT MEMBACA SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI STRATEGI MEMBACA NYARING SISWA KELAS IV 
  12. UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN PETA KONSEP PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI
  13. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS MURID KELAS III SD NEGERI
  14. MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FIQIH SISWA VI DENGAN MENGGUNAKAN METODE DISKUSI 
  15. MENINGKATKAN KEMAMPUAN MELAKSANAKAN SHALAT DALAM KEADAAN SAKIT MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA SISWA  KELAS VII MTS
  16.  MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SYNERGETIC TEACHING PADA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS III SDN
  17. MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR AKIDAH AKHLAQ SISWA MELALUI PENEREPAN TEKNIK PEMBELAJAAN MASTER-PLAN PADA TOKOH BERAKHLAK TERCELA SISWA KELAS V MADRASAH
  18. PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE SYNERGETIC TEACHING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA MATERI PERJUANGAN PARA TOKOH SAAT DIJAJAH BELANDA DAN JEPANG SISWA KELAS V SDN
  19. PENERAPAN PEMBELAJARAN COOPERATIVE TIPE GROUP RESUME UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPS PADA MATERI MENGENAL PERMASALAHAN SOSIAL DI DAERAHNYA MURID KELAS IV MI
  20. UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI CERITA (KARANGAN NARASI ) DENGAN MENERAPKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE PRACTICE REHEARSAL PAIRS DALAM PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS IIIB SDN
  21. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)  UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V MI
  22. PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SAINS PADA SISWA KELAS IV  SD NEGERI
  23. MENINGKATKAN INTERAKSI BELAJAR SISWA TENTANG ADAB KEPADA ORANG TUA PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN CLASSROOM MEETING PADA SISWA KELAS V MADRASAH IBTIDAIYAH
  24. PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN QUIK ON THE  DRAW  UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SAINS SISWA KELAS V SDN
  25. MENINGKATKAN AKTIFITAS BELAJAR SISWA TENTANG ADAB BERIBADAH PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK SISWA KELAS IV MADRASAH IBTIDAIYAH
  26. PENERAPAN MODEL PEMBALAJARAN COOPERATIVE TIPE QUICK ON THE DRAW UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI PECAHAN SISWA KELAS III MI
  27. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBER HEAD TOGETHER UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SHOLAT FARDHU DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SISWA KELAS IIIA  SEKOLAH DASAR
  28. PENGGUNAAN STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIVE TIM PENDENGAR UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS IIIA  SD NEGERI
  29. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CARD SORT UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS II SDN
  30. UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR AGAMA DENGAN PEMBERIAN HADIAH  PADA SISWA KELAS III SD NEGERI 
  31. PENERAPAN STRATEGI COOPERATIVE  LEARNING TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PKN SISWA KELAS
  32. UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN INSTAN ASSESSMENT PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA PADA SISWA KELAS III SD NEGERI
  33. PENGGUNAAN TEKNIK PEMBELAJARAN DREADLINES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA KELAS III A SDN
  34.  MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI STRATEGI ACTIVE KNOWLEDGE SHARING DI KELAS III SDN
  35. MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI STRATEGI THINK-PAIR-SQUARE (TPS) DI KELAS IV SD NEGERI
  36. PENERAPAN MOTODE PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA  KELAS III SD N
  37. UPAYA PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE INDEX CARD MATCH  PADA SISWA KELAS III SD NEGERI 
  38. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS V SDN
  39. PENINGKATAN HASIL BELAJAR IPA MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN INTEGRATED PADA POKOK BAHASAN BUMI DAN ALAM SEMESTA PADA SISWA KELAS IV MI
  40. PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM DENGAN MENGGUNAKAN PETA KONSEP PADA SISWA KELAS V  SD NEGERI
  41. UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI METODE STAD PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS V MI
  42. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF TIPE COOPERATIVE SCRIPT DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKN) MURID KELAS IV SD NEGERI
  43. UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN SCRAMBLE PADA SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR NEGERI
  44. MENINGKATKAN AKTIFITAS BELAJAR SISWA TENTANG ADAB BERTAMU PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE PADA SISWA KELAS III MI
  45. UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MENYIMAK MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TIM PENDENGAR PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA  SISWA  KELAS V  SD NEGERI
  46. PENERAPAN METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE EVERYONE IS A  TEACHER HERE  UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI PECAHAN SISWA KELAS IV SD NEGERI
  47. MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENCERITAKAN KEMBALI WACANA ATAU CERITA MELALUI TEKNIK BERGANTIAN SISWA KELAS III MI
  48. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEKNIK LINGKARAN KECIL LINGKARAN BESAR UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SISWA KELAS III. A SD NEGERI 
  49. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRODUCTION  (PBI) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI CERITA SISWA KELAS V SDN
  50. PENERAPAN PEMBELAJARAN QUANTUM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SD NEGERI

 

PLS (PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH)

  1. STUDI PARTISIPASI ANGGOTA KOPERASI A DI DESA A KECAMATAN A
  2. MOTIVASI WARGA BELAJAR MEMASUKI A DI KECAMATAN A
  3. STUDI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK A
  4. MOTIVASI PARA DROP OUT SLTP BELAJAR PAKET B PADA PKBM A
  5. PENGARUH PEMBERDAYAAN PEMERINTAH KELURAHAN TERHADAP KINERJA PEMERINTAH KELURAHAN ( SURVEI DI KELURAHAN-KELURAHAN DALAM KECAMATAN A)
  6. MOTIVASI KERJA WANITA SEBAGAI PRAMUNIAGA PADA PUSAT PERBELANJAAN RAMAYANA
  7. HUBUNGAN ANTARA HARAPAN WARGA BELAJAR DALAM MENGIKUTI PELATIHAN SEKRETARIS DENGAN HASIL BELAJAR DI A
  8. PERSEPSI MANTAN PEKERJA SEKS KOMERSIAL (PSK) TERHADAP KEHIDUPANNYA DI MASA DEPAN
  9. MOTIVASI BURUH PELABUHAN BARANG SEMBAKO DI PELABUHAN A DALAM MENYEKOLAHKAN ANAKNYA
  10. PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PENYEBAB KENAKALAN REMAJA DI A
  11. UPAYA-UPAYA ORANG TUA DALAM MEMBENTUK PERILAKU DISIPLIN ANAK
  12. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA PRODUKTIVITAS KERJA PETANI SAYUR TRADISONAL
  13. MOTIVASI PEMUDA MENGIKUTI PEMBINAAN SEPAK BOLA
  14. USAHA MENINGKATKAN PRODUKTIFITAS (STUDI TERHADAP TUKANG JAHIT)
  15. TINJAUAN HUKUM TERHADAP HAK DAN KEWAJIBAN PEMBERI DAN PENERIMA GADAI DALAM PERJANJIAN GADAI PADA PERUM PEGADAIAN
  16. PENYEBAB RENDAHNYA MOTIVASI GURU-GURU  MENGIKUTI KKG
  17. PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP KESULITAN BELAJAR ANAK DI BIDANG MATEMATIKA
  18. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB ANAK PUTUS SEKOLAH
  19. PERSEPSI IBU RUMAH TANGGA TERHADAP PELAYANAN  KADER POSYANDU DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN POSYANDU
  20. MOTIVASI ORANG TUA UNTUK MENITIPKAN ANAKNYA
  21. FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA MINAT BACA SISWA
  22. KEMAMPUAN  DALAM MENCERITAKAN GAMBAR SERI
  23. PERSEPSI SISWA TERHADAP PROGRAM ACARA EDUKASI YANG DITAYANGKAN RIAU TELEVISI (RTV)
  24. KEBIASAAN BELAJAR ANAK PEDAGANG KAKI LIMA DI RUMAH
  25. PERSEPSI ANAK PANTI TERHADAP POLA ASUH PENGELOLA PANTI ASUHAN
  26. STUDI TERHADAP KEHIDUPAN SUKU LAUT
  27. PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP PELAKSANAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
  28. UPAYA ORANG TUA DALAM MENCIPTAKAN LINGKUNGAN BELAJAR YANG KONDUSIF BAGI ANAK REMAJANYA
  29. FAKTOR PENYEBAB KURANGNYA PARTISIPASI ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK
  30. PERSEPSI WARGA BELAJAR TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PAKET B
  31. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP ANAK YANG TIDAK TAMAT SEKOLAH
  32. PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP ETIKA DAN ESTETIKA BERBUSANA KULIAH MAHASISWA PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU
  33. POLA ASUH ORANG TUA YANG TERGOLONG MAMPU TERHADAP ANAKNYA YANG PUTUS SEKOLAH
  34. PARTISIPASI ORANG TUA DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR ANAK
  35. ANALISIS PENGARUH PARTISIPASI ANGGOTA TERHADAP LABA KOPERASI
  36. MOTIVASI ORANG TUA MEMASUKKAN ANAKNYA
  37. PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP CARA BELAJAR ANAK DI RUMAH
  38. FAKTOR PENYEBAB KURANGNYA PARTISIPASI ANGGOTA IRMI DALAM PELAKSANAAN KEGIATAN KEAGAMAAN
  39. FAKTOR PENGHAMBAT WARGA BELAJAR MENGIKUTI PROGRAM PAKET B
  40. PERBEDAAN PRESTASI BELAJAR SISWA YANG MENGIKUTI DAN YANG TIDAK MENGIKUTI PAUD
  41. PENYEBAB ANAK TIDAK SEKOLAH
  42. FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN
  43. PEMIKIRAN ORANG TUA EKONOMI LEMAH TERHADAP PENDIDIKAN ANAKNYA 
  44. MOTIVASI  REMAJA PUTRI MENGIKUTI KETERAMPILAN MENJAHIT
  45. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT WARGA BELAJAR MENGIKUTI PAKET B
  46. STUDI TENTANG BANTUAN ORANG TUA DALAM BIMBINGAN BELAJAR DI RUMAH PADA ANAK USIA 6 – 12 TAHUN
  47. POLA ASUH ORANG TUA DALAM MEMBENTUK PERILAKU MORAL PADA ANAK REMAJANYA
  48. HARAPAN PEMUKA MASYARAKAT TERHADAP PEMUDA
  49. CARA JANDA MENDIDIK REMAJA PUTRINYA
  50. USAHA ORANG TUA MEMBINA ANAK DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA

 

BK

  1. USAHA GURU DALAM MEMBIMBING SISWA MELALUI REMEDIAL TEACHING
  2. PENGETAHUAN GURU-GURU PEMBIMBING SMP/MTS TENTANG LIRAUSA LAYANAN ORIENTASI
  3. PERSEPSI SISWA TERHADAP KOMPETENSI GURU PEMBIMBING
  4. USAHA GURU PEMBIMBING DALAM MENGATASI PERMASALAHAN SISWA DALAM UJIAN NASIONAL
  5. PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN BELAJAR SISWA LAKI-LAKI DENGAN SISWA PEREMPUAN
  6. PERBEDAAN HASIL BELAJAR BAHASA INGGRIS SISWA KELAS IV YANG MENDAPAT BIMBINGAN BELAJAR DENGAN YANG TIDAK
  7. SURVEY TENTANG JENIS-JENIS EMOSI PADA REMAJA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN KELAS VIII
  8. UPAYA-UPAYA YANG DILAKUKAN GURU DALAM MENGATASI HASIL BELAJAR SISWA YANG RENDAH
  9. PERBEDAAN PERCAYA DIRI SISWA YANG MENGIKUTI DAN TIDAK MENGIKUTI KEGIATAN PRAMUKA
  10. HUBUNGAN KEBIASAAN BELAJAR DENGAN PRESTASI BELAJAR KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI
  11. STUDI CARA BELAJAR SISWA BERPRESTASI DALAM BIDANG AKADEMIS
  12. PERBEDAAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA LAKI-LAKI DENGAN SISWA PEREMPUAN KELAS IV
  13. PERBEDAAN TINGKAT KEMANDIRIAN YANG DIALAMI OLEH SISWA YANG BERASAL DARI ORANG TUA (IBU) YANG BERKARIR DENGAN YANG TIDAK BERKARIR
  14. SURVEY TENTANG JENIS-JENIS EMOSI YANG DI ALAMI OLEH GURU WANITA PRA MENOPAUSE DAN CARA MENGATASINYA
  15. PROFIL CARA BELAJAR DI SEKOLAH DAN DI RUMAH PADA SISWA YANG BERPRESTASI TINGGI DAN BERPRESTASI RENDAH KELAS X DAN X1 SMA
  16. KURANGNYA PARTISIPASI ORANG TUA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK
  17. HUBUNGAN ANTARA PERLAKUAN ORANG TUA ACCEPTANCE DENGAN DISIPLIN SISWA
  18. SURVEY TENTANG MINAT BELAJAR SISWA TERHADAP PELAJARAN SAINS
  19. USAHA ORANG TUA DI RUMAH DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DITINJAU DARI PERSEPSI SISWA
  20. SURVEY TENTANG KEPRIBADIAN YANG SEHAT PADA SISWA SMP
  21. SURVEY TENTANG PERHATIAN ORANG TUA TERHADAP CARA BELAJAR SISWA (STUDI DESKRIPTIF TERHADAP SISWA KELAS XI IPA
  22. SURVEY TENTANG KEBIASAAN BELAJAR SISWA KELAS V SD
  23. PERBEDAAN PENYESUAIAN SOSIAL DI LINGKUNGAN KELUARGA ANTARA SISWA PEREMPUAN DAN SISWA LAKI-LAKI
  24. STUDI TENTANG PERBEDAAN KESEHATAN MENTAL GURU LAKI-LAKI DAN GURU PEREMPUAN
  25. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR SISWA KELAS VI
  26. PERBEDAAN USIA MULAI MENARCHE DENGAN MIMPI BASAH SISWA KELAS VI
  27. STUDI TENTANG BANTUAN ORANG TUA DALAM BIMBINGAN BELAJAR DI RUMAH

 

 

TESIS

  1. HUBUNGAN IKLIM ORGANISASI ANTARA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DENGAN KEPUASAN KERJA GURU
  2. HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI DAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI
  3. HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN ORGANISASI DAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN PRESTASI KERJA PEGAWAI
  4. HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN DAN IKLIM ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI
  5. HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN DAN IKLIM ORGANISASI DENGAN KEPUASAN KERJA PEGAWAI
  6. PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA TEKS DRAMA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF  TIPE STAD SISWA
  7. PENGGUNAAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN TEMATIK DENGAN STRATEGI INQUIRY UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN  HASIL BELAJAR PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM 
  8. PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP DISIPLIN KERJA KARYAWAN
  9. HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH
  10. HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI GURU TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN PARTISIPATIF KEPALA SEKOLAH DAN KOMPENSASI DENGAN MOTIVASI  KERJA GURU
  11. HUBUNGAN ANTARA IKLIM ORGANISASI DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN KINERJA PEMBIMBING KEMASYARAKATAN
  12. HUBUNGAN KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI BERPRESTASI DENGAN KOMITMEN ORGANISASI
  13. PENGARUH PELATIHAN DAN MOTIVASI TERHADAP PRESTASI KERJA PEGAWAI
  14. HUBUNGAN ANTARA KEPEMIMPINAN DAN BUDAYA ORGANISASI DENGAN EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI
  15. PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
  16. HUBUNGAN ANTARA IKLIM ORGANISASI DAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN KINERJA PEGAWAI
  17. HUBUNGAN ANTARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN MOTIVASI KERJA DENGAN KOMITMEN ORGANISASI 
  18. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SENI BUDAYA SISWA
  19. HUBUNGAN ANTARA BUDAYA ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN DENGAN  MOTIVASI KERJA GURU 

 

 

 

PARIWISATA

  1. UPAYA DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KOTA PEKANBARU MENJADIKAN MUSIK MELAYU MODERN MALACCA STRAIT JAZZ SEBAGAI EVENT TAHUNAN
  2. STRATEGI DINAS KEBUDAYAAN KESENIAN DAN PARIWISATA DALAM PENGEMBANGAN TAMAN REKREASI SEBAGAI OBJEK WISATA PENDUKUNG
  3. UPAYA MEMPROMOSIKAN TIKET PESAWAT DALAM MENINGKATKAN PENJUALAN
  4. STRATEGI PROMOSI SISTEM E-TICKET UNTUK MENINGKATKAN PENJUALAN TIKET
  5. STRATEGI PROMOSI DALAM MENINGKATKAN KUNJUNGAN WISATAWAN
  6. PERANAN PROGRAM TRAINING KARYAWAN TERHADAP KINERJA PELAYANAN
  7. PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP KEBERADAAN OBJEK WISATA ISTANA SIAK
  8. PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP TAMAN REKREASI ALAM MAYANG SEBAGAI SALAH SATU OBJEK WISATA
  9. STRATEGI PROMOSI PT MUARA TAKUS TOUR AND TRAVEL DALAM MENINGKATKAN PENJUALAN PAKET WISATA
  10. PERNANAN DINAS PARIWISATA KOTA PEKANBARU DALAM UPAYA MEMPROMOSIKAN POTENSI WISATA
  11. STRATEGI MUSEUM SANG NILA UTAMA DALAM MENYAMBUT TAHUN KUNJUNGAN MESEUM 2010

 

 

FISIPOL

  1. PELAKSANAAN KOORDINASI TENTANG PEMUNGUTAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB)
  2. STUDI EVALUASI DISIPLIN KERJA PEGAWAI DI KANTOR DINAS PENDIDIKAN KEBUDAYAAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
  3. PROSEDUR PELAYANAN ADMINISTRASI PEMBAYARAN PENSIUN PEGAWAI NEGERI SIPIL
  4. PEMBERDAYAAN SEKTOR INFORMAL
    (SUATU STUDI KASUS TENTANG PEMBERDAYAAN SEKTOR INFORMAL OLEH PEMERINTAH KOTA X TERHADAP PARA PEDAGANG KAKI LIMA, PENJUAL NASI GORENG DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN).
  5. UPAYA PEMERINTAH KABUPATEN PAMEKASAN DALAM MENINGKATKAN SENI TRADISIONAL SAMMAN DENGAN NILAI AGAMA ISLAM (SUATU STUDI TENTANG KESENIAN SAMMAN DENGAN NILAI AGAMA ISLAM)
  6. EFEKTIFITAS PELAYANAN PEMBERIAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (IMB) (STUDI PADA DINAS PERIJINAN)
  7. EVALUASI KINERJA KEPALA DESA DALAM MENJALANKAN FUNGSI DAN PERANNYA DI ERA OTONOMI DAERAH
  8. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN RETRIBUSI PASAR DALAM MENUNJANG PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) (SUATU STUDI
  9. PELAKSANAAN PELAYANAN KEARSIPAN DALAM PEKERJAAN KANTOR (SUATU STUDI TENTANG PELAKSANAAN PELAYANAN KEARSIPAN DALAM MEMBANTU PEKERJAAN KANTOR)
  10. IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENINGKATAN PELAYANAN PUBLIK TENTANG IZIN REKLAME (STUDI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PELAYANAN PUBLIK IZIN REKLAME BERDASARKAN PERDA NO. 11 TAHUN 2005 TENTANG PELAYANAN PUBLIK)
  11. ADAPTASI KEBUDAYAAN DALAM PROGRAM PEMBERANTASAN BUTA HURUF (PEMBERANTASAN BUTA HURUF SUKU ARFAK OLEH DINAS PENDIDIKAN DASAR DAN PRA SEKOLAH)
  12. HUBUNGAN MOTIVASI NON MATERIAL DENGAN SEMANGAT KERJA PEGAWAI (SUATU STUDI TENTANG HUBUNGAN MOTIVASI NON MATERIAL DENGAN SEMANGAT KERJA PEGAWAI)
  13. UPAYA PENGAWASAN TERHADAP EFISIENSI DAN EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI NEGERI SIPIL (STUDI KASUS TENTANG PENGAWASAN)
  14. PERANANAN PERUM PEGADAIAN DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN KEPADA MASYARAKAT (SUATU STUDI TENTANG SISTEM PELAYANAN PERUM PEGADAIAN KEPADA MASYARAKAT)
  15. UPAYA PEMERINTAH DALAM MELAKSANAKAN RETRIBUSI PARKIR GUNA MENUNJANG PENDAPATAN ASLI DAERAH
  16. HUBUNGAN ANTARA KEPUASAN KERJA TERHADAP PRESTASI KERJA
  17. PENGARUH PROMOSI DAN SALURAN DISTRIBUSI TERHADAP PENJUALAN
  18. PERANAN PENGAWASAN FUNGSIONAL INSPEKTORAT WILAYAH TERHADAP PROYEK PEMBANGUNAN JEMBATAN
  19. PENYELENGGARAAN TERTIB ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DESA
  20. MEKANISME REKRUITMEN CALON LEGISLATIF (STUDI PADA PARPOL PESERTA PEMILU)
  21. KEMAMPUAN KERJA APARAT KECAMATAN DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN ADMINISTRASI KEPADA MASYARAKAT
  22. UPAYA PEMERINTAH DESA DALAM MENDORONG PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN DESA
  23. EVALUASI KINERJA BADAN PERWAKILAN DESA (BPD) DALAM MENJALANKAN FUNGSI DAN PERANNYA DI ERA OTONOMI DAERAH
  24. PERANAN KOORDINASI CAMAT DALAM MENUNJANG KEBERHASILAN PEMBANGUNAN DI WILAYAH KECAMATAN
  25. SISTEM PEMERINTAHAN DESA YANG MENUNJANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA (STUDI TENTANG PELAKSANAAN PEMERINTAHAN DESA GUNA MENUNJANG PELAKSANAAN PEMBANGUNAN DESA)
  26. EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN KEPALA KELURAHAN TERHADAP PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN
  27. PROSES PROGRAM INPRES BANTUAN DESA UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT
  28. PELAKSANAAN ANGGARAN PENERIMAAN DAN PENGELUARAN KEUANGAN DESA DALAM MENUNJANG PEMBANGUNAN DESA
  29. EFEKTIVITAS KEARSIPAN DALAM MENINGKATKAN PELAYANAN ADMINISTRASI
  30. HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PRODUKTIVITAS KERJA PEGAWAI DENGAN KESEJAHTERAAN PEGAWAI (SUATU STUDI TENTANG TINGKAT PRODUKTIVITAS KERJA PEGAWAI DENGAN KESEJAHTERAAN PEGAWAI)
  31. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI PELATIHAN DALAM USAHA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA PEGAWAI PERUSAHAAN
  32. DAMPAK KEBIJAKAN INDUSTRIALISASI TERHADAP KETENAGAKERJAAN
  33. UPAYA PENINGKATAN KINERJA PEGAWAI DALAM RANGKA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN
  34. MEKANISME PENYUSUNAN ANGGARAN PENERIMAAN DAN BELANJA DESA
  35. PENGARUH KEBIJAKAN PEMIMPIN TERHADAP EFEKTIVITAS KERJA PEGAWAI
  36. UPAYA-UPAYA PEMBERIAN MOTIVASI KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA

2 Comments

Filed under CONTOH PROPOSAL

SKRIPSI PEKANBARU

MENERIMA KONSULTASI, PENGOLAHAN DATA, DAN PENULISAN PROPOSAL, MAKALAH, SKRIPSI DAN TESIS DARI BERBAGAI JURUSAN KHUSUSNYA FKIP (PLS, BK, IPS EKONOMI, DLL), FEKON (ILMU EKONOMI, MANAJEMEN, EKUNTANSI), FISIPOL (JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA, ADMINISTRASI NEGARA, DLL), PGMI UIN, PAI UIN, DAN LAIN-LAIN.

 

HUBUNGI 082392248201 (KHUSUS DAERAH PEKANBARU RIAU)

Leave a comment

Filed under CONTOH PROPOSAL