CONTOH PROPOSAL BK

MENGALAMI KESULITAN MEMBUAT PROPOSAL, HUBUNGI 081337999117 (PEKANBARU)

BAB I

 

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.    Latar Belakang

Pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan disetiap negara. Menurut Undang-Undang No 20 tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, memiliki kecerdasan berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara.[1] Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

1

 

Dari semua itu tujuan dari setiap anak didik datang ke sekolah tidak lain kecuali untuk belajar di kelas agar mendapatkan ilmu pengetahuan. Sebagian besar waktu yang tersedia harus digunakan oleh anak didik untuk belajar, tidak mesti ketika di sekolah, di rumah pun harus ada waktu yang disediakan untuk kepentingan belajar. Tiada hari tanpa belajar adalah ungkapan yang tepat bagi anak didik.

Kenyataan yang terjadi menurut Syaiful Bahri Djamarah bahwa prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, permasalahan, hambatan dan gangguan. Namun, sayangnya ancaman, permasalahan, hambatan, dan gangguan dialami oleh anak didik tertentu. Sehingga mereka mengalami permasalahan belajar. Pada tingkat tertentu memang ada anak didik yang dapat mengatasi permasalahan belajarnya, tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, karena anak didik belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh anak didik.

Lebih lanjut, menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam bukunya Psikologi Belajar edisi 2 disebutkan bahwa permasalahan belajar yang dirasakan oleh anak didik bermacam-macam, yang dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu sebagai berikut:

  1. Dilihat dari jenis permasalahan belajar
    1. Ada yang berat
    2. Ada yang ringan
  2. Dilihat dari mata pelajaran yang dipelajari
    1. Ada yang sebagian mata pelajaran
    2. Ada yang sifatnya sementara
  3. Dilihat dari sifat kesulitannya
    1. Ada yang sifatnya menetap
    2. Ada yang sifatnya sementara
  4. Dilihat dari segi faktor penyebabnya
    1. Ada yang karena faktor intelegensi
    2. Ada yang karen faktor non-intelegensi[2]

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen pendidikan, mengingat bahwa bimbingan dan konseling merupakan suatu kegiatan bantuan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa pada khususnya dalam rangka mengembangkan kepribadian dan potensi-potensinya. Secara umum bimbingan dan konseling itu pada dasarnya bertujuan untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan. Dalam kaitan ini, bimbingan dan konseling membantu individu khususnya siswa untuk menjadi manusia yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian dan lain-lain sesuai dengan diri individu tersebut.

Berdasarkan SK Mendikbud No. 025/01/1995 tentang petunjuk teknis ketentuan pelaksanaan jabatan fungsional dan angka kreditnya Bimbingan dan Konseling adalah pelayanan bantuan untuk siswa baik secara optimal dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.[3]

           

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa tugas seorang guru pembimbing adalah melaksanakan layanan bimbingan baik dalam bimbingan belajar, pribadi, sosial dan karir. Kegiatan belajar mengajar di sekolah dengan adanya guru pembimbing yang profesional terasa lebih lengkap jika dibandingkan tanpa guru pembimbing yang belum profesional.

Sebagaimana dikemukakan oleh Syaiful Bahri untuk mengatasi permasalahan di atas diperlukan treatment yang tepat sesuai dengan gejala yang ada. Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:

  1. Bimbingan belajar individual
  2. Bimbingan belajar kelompok dalam kelas
  3. Remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu
  4. Bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah psikologis
  5. Bimbingan cara belajar yang baik secara umum, dan
  6. Bimbingan cara belajar yang baik sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran.[4]

 

Menurut Prayitno bimbingan atau guidence pada prinsipnya adalah sebagai bantuan untuk memahami dan menggunakan secara luas kesempatan-kesempatan pendidikan, jabatan, dan pribadi yang mereka miliki atau dapat mereka kembangkan, dan sebagai satu bentuk bantuan yang sistematik melalui mana siswa dibantu untuk dapat memperoleh penyesuaian yang baik.[5]

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri I Tambang, pada saat kegiatan belajar antara lain ditemui fenomena sebagai berikut:

  1. Guru melaksanaan tugasnya dengan memberikan pemahaman tentang diri siswa
  2. Guru mengembangkan pemahaman tentang sikap yang baik bagi siswa baik di sekolah, rumah maupun masyarakat.
  3. Guru mengembangkan pemahaman tentang kebiasaan belajar yang baik, baik di rumah maupun di sekolah.
  4. Guru mengembangkan bakat dan minat siswa dalam belajar

Berdasarkan gejala-gejala atau fenomena yang telah disebutkan penulis tertarik ingin melakukan suatu penelitian ilmiah dengan judul upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.

  1. B.     Penegasan Istilah

Sesuai dengan judul penelitian yaitu “Upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar” maka ada beberapa istilah penting dalam penelitian ini yang dapat diperjelas masksudnya, yaitu:

Upaya                    :    Upaya adalah usaha, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar, dan sebagainya).[6] Dalam penelitian ini yang dimaksud upaya adalah upaya memberikan pelayanan bimbingan dalam belajar di SMPN 1 Tambang.

Guru pembimbing  :    Dalam SK Mendikbud dan Kepala BAKN no 0433/p/1993 no 25 tahun 1993 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya diatur pada pasal 1 ayat 4 bahwa guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.Kompetensi Guru pembimbing dalam Proses Bimbingan dan konseling.[7]

Pelayanan               :    Sampara (dalam Sinambela, 2007:5) berpendapat bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antar seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan.[8]

Bimbingan belajar  :    Bimbingan belajar Menurut Prayitno dan Amti bimbingan belajar adalah salah satu bentuk bimbingan yang diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi, seringkali kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.[9]

 

  1. C.    Permasalahan

1.   Identifikasi Masalah

  1. Masalah apa saja yang terdapat dalam bidang bimbing belajar?
  2. Upaya apa saja yang dilakukan siswa dalam menghadapi masalah belajar?
  3. Upaya apa saja yang dilakukan guru bidang studi dalam bimbingan belajar?
  4. Upaya apa saja yang dilakukan guru pembimbing dalam bimbingan belajar?
  5. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi upaya guru pembimbing dalam bimbingan belajar?

 

2. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya permasalahan yang perlu diteliti maka penulis membatasi masalah yang dikaji yaitu tentang upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar dan faktor yang mempengaruhi upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.

 

 

 

  1. 2.      Rumusan Masalah

 Sesuai judul dan latar belakang maka dapat peneliti rumuskan permasalahannya yaitu:

  1. Bagaimana upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar?
  2. Apa faktor yang mempengaruhi upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar?

 

  1. D.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
    1. 1.      Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang ingin peneliti capai antara lain adalah

  1. Untuk mengetahui upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar
  2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar

 

 

 

 

  1. 2.      Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian  sebagai berikut.

  1. Sebagian bahan masukan bagi guru pembimbing untuk lebih memperhatikan tugas-tugas dan kewajibannya terhadap kegiatan belajar mengajar terutama dalam mengatasi permasalahan siswa dalam ujian nasional.
  2. Masukan bagi sekolah untuk lebih dapat mengembangkan layanan yang lebih baik lagi menyangkut kegiatan dan proses belajar mengajar terlebih menjelang ujian nasional.
  3. Sebagai bahan masukan bagi siswa untuk lebih mengenal dan mengatahui tugas dan usaha guru pembimbing dalam menjalankan kewajibannya.
  4. Sebagai bahan pertimbangan untuk merancang program bimbingan  konseling di SMP Negeri I Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar terutama dalam bidang belajar.


BAB II

KAJIAN TEORITIS

 

  1. A.    Konsep Teori
  2. 1.      Pengertian Guru Pembimbing

Dalam SK Mendikbud dan Kepala BAKN no 0433/p/1993 no 25 tahun 1993 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional guru dan angka kreditnya diatur pada pasal 1 ayat 4 bahwa guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah peserta didik.[10]

Menurut Syaiful Sagala bahwa guru pembimbing (teaching counselor) ialah guru yang dipilih dari sekolah yang bersangkutan, yang diberikan beban beban tambahan untuk melaksanakan layanan bimbingan di sekolah, disamping tugas rutinnya mengajarkan bidang studi tertentu.[11] Jadi guru pembimbing berfungsi sebagai petugas bimbingan yang ‘partime’ membantu konselor sekolah dalam melaksanakan layanan bimbingan di sekolah.

 

  1. 2.      Tugas Guru Pembimbing

9

 

Adapun tugas seorang guru pembimbing di sekolah adalah membantu kepala sekolah dalam menyelenggarakan kesejahteraan sekolah secara keseluruhan. Sebagaimana dikemukakan oleh Bimo Walgito bahwa sudah selayaknya bila bidang geraknya tidak terbatas kepada pemberian bimbingan dan konseling kepada anak didik saja, akan tetapi juga meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah, baik secara langsung maupun tidak langsung.[12]

Berarti guru pembimbing adalah seorang guru sebagaimana guru pada umumnya, namun mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam kegiatan bimbingan dan konseling kepada sejumlah peserta didik. Maka guru pembimbing, selain tugasnya menjadi pembimbing, juga diberi tanggung jawab menjadi seorang konselor terhadap peserta didik.

Selain itu, menurut Bimo Walgito, supaya guru pembimbing dapat menjalankan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya, maka guru pembimbing harus memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Mempunyai pengetahuan yang cukup luas, baik dari segi teori maupun dari segi praktik.
  2. Dapat mengambil tindakan yang bijaksana, yaitu adanya kemantapan atau kestrabilan di dalam psikisnya, terutama dalam segi emosi.
  3. Sehat jasmani maupun psikis.
  4. Cinta terhadap pekerjaan dan terhadap siswa yang dihadapinya.
  5. Mempunyai inisiatif yang baik.
  6. Supel, ramah tamah, sopan santun, dan dapat bekerjasama.[13]

 

 

  1. 3.      Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan salah satu layanan bimbingan belajar yang dilakukan melalui tahap pengenalan siswa yang mengalami masalah dalam belajar, pengungkapan sebab timbulnya masalah belajar dan pemberian bantuan pengentasan masalah belajar siswa.

Seperti pendapat Prayitno bahwa Bimbingan belajar adalah salah satu bentuk bimbingan yang diselenggarakan di sekolah. Pengalaman menunjukan bahwa kegagalan-kegagalan yang dialami siswa dalam belajar tidak selalu disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi, seringkali kegagalan itu terjadi disebabkan mereka tidak mendapat layanan bimbingan yang memadai.[14]

Selain itu menurut Slameto bahwa untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka diperlukan suatu perhatian yang serius dan agar siswa dapat belajar dengan baik maka usahakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara mengusahakan pelajaran itu sesuai dengan hobby dan bakatnya.[15]

            Hal senada juga dikemukakan oleh Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono bahwa kesulitan belajar yang dialami oleh siswa tidak terlepas dari peran orang tua dalam memberikan bimbingan dirumah,memperhatikan anak dalam mengejakan tugas,mengatur disiplin anak dan sebagaimya. Peranan orang tua terhadap anak ini sering dipengaruhi oleh sikap orang tua dalam memberikan bimbingan dan pembinaan kepada anak.[16]

            Berdasarkan penjelasan diatas,dapat dipahami bahwa hasil belajar anak disekolah sangat dipengaruhi oleh adanya perhatian,bimbingan dan pengawasan dari orang tua terhadap belajar anak. Orang tua harus mempunyai kepedulian terhadap belajar anak dirumah dan berusaha membantu belajar anak sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

            Lebih lanjut Dewa Ketut Sukardi (2000:46) mengungkapkan layanan bimbingan belajar adalah layanan yang memungkinkan peserta didik mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik,materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya,serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu,teknologi dan kesenian.[17]

 

  1. 4.      Apek-Aspek Bimbingan Belajar

 

Menurut Surya bimbingan merupakan terjemahan dari istilah guidance dalam bahasa Inggris. Sesuai dengan istilahnya,maka bimbingan dapat diartikan secara umum sebagai suatu bantuan. Namun dalam pengertian yang sebenarnya tidak setiap bantuan adalah bimbingan. Misalnya jika seorang guru membisikkan jawaban suatu soal ujian pada waktu ujian agar siswanya lulus, tentu saja “bantuan” ini bukan bentuk bantuan yang yang dimaksud dengan bimbingan. Bentuk bantuan dalam arti bimbingan membutuhkan syarat tertentu,bentuk tertentu,prosedur tertentu,pelaksanaan tertentu sesuai dengan dasar,prinsipdan tujuannya.[18]

Sedangkan aspek-aspek yang terdapat dalam bimbingan belajar menurut Dewa Ketut Sukardi adalah:[19]

  1. Mengembangkan pemahaman tentang diri, terutama pemehaman skap, sifat, kebiasaan, bakat, minat, kekuatan-kekuatan dan penyalurannya, kelemahan-kelemahan dan penanggulangannya, dan usaha-usaha pencapaian cita-cita atau perencanaan masa depan.
  2. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bertingkah laku dalam hubungan sosial dengan teman sebaya, guru dan masyarakat luas.
  3. Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih secra efektif dan efisien.
  4. Teknik penguasaan materi pelajaran, baik ilmu pengetahuan teknologi dan kesenian.
  5. Membantu memantapkan pilihan karier yang hendak dikembangkan melalui orientasi dan informasi karier, orientasi dan informasi dunia kerja dan perguruan tinggi yang sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.
  6. Orientasi belajar di perguruan tinggi
  7. Orientasi hidup berkeluarga.

 

  1. 5.      Fungsi dan Tujuan Bimbingan Belajar

Fungsi utama dari bimbingan adalah membantu murid dalam masalah-masalah pribadi dan sosial yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran atau penempatan dan juga menjadi perantara dari siswa dalam hubunganya dengan para guru maupun administrasi.[20]

Adapun fungsi bimbingan ada 4 yaitu :

  1. Preservatif adalah memelihara dan membina suasana dan situasi yang baik dan tetap diusahakan terus bagi lancarnya belajar mengajar.
  2. Prefentif adalah mencegah sebelum terjadi masalah
  3. Kuratif adalah mengusahakan “penyembuhan” pembentukan dalam mengatasi masalah.
  4. Rehabilitas adalah mengadakan tindak lanjut secara penempatan sesudah diadakan treatmen yang memadai.

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2004:112) bahwa pelayanan bimbingan belajar adalah untuk membantu siswa yang mengalami masalah di dalam memasuki proses belajar dan situasi belajar yang dihadapinya. Didalam memasuki proses belajar dan situasi supaya anak dapat belajar dengan baik,kebutuhan yang diperlukan dalam belajar harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan itu diantaranya adalah sebagai berikut :[21]

  1. Memiliki kondisi fisik yang tetapsehat
  2. Memiliki jadwal belajar dirumah yang disusun dengan baik dan teratur
  3. Memiliki disiplin terhadap diri sendiri, patuh dan taat dengan rencana belajar yang telah dijadwalkan
  4. Memiliki kamar/ tempat belajar yang sesuai dengan seleranya sendiri dan mendorong kegiatan belajarnya
  5. Menyiapkan peralatan sekolah dengan baik sebelum belajar
  6. Memiliki kamar/ tempat belajar yang sesuai dan tidak mengganggu kesehatan mata
  7. Harus bisa memusatkan perhatian dan berkosentrasi dalam belajar
  8. Memiliki kepercayaan terhadap kemampuan sendiri dalam belajar

 

  1. 6.      Usaha Guru Pembimbing dalam Implementasi Bimbingan Belajar

 

Menurut Prayitno dan Erman Amti bahwa di samping banyaknya siswa yang berhasil secara gemilang dalam belajar, sering pula dijumpai adanya siswa yang gagal, seperti angka rapor rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir, dan sebagainya. Secara umum, siswa yang seperti itu dapat dipandang sebagai siswa yang mengalami masalah belajar. Secara lebih luas masalah belajar tidak hanya terbatas pada hal yang disebutkan di atas. Masalah belajar memiliki bentuk yang banyak ragamnya, yang pada umumnya dapat digolongkan pada keterlambatan akademik, ketercepatan dalam belajar, sangat lambat dalam belajar, kurang motivasi dalam belajar, dan bersikap atau kebiasaan buruk dalam belajar.[22]

Kenyataan yang terjadi menurut Syaiful Bahri Djamarah bahwa prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan. Namun, sayangnya ancaman, hambatan, dan gangguan dialami oleh anak didik tertentu. Sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar atau permasalahan belajar. Pada tingkat tertentu memang ada anak didik yang dapat mengatasi permasalahan belajarnya, tanpa harus melibatkan orang lain. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, karena anak didik belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh anak didik.[23]

Melihat keadaan yang telah dipaparkan di atas, maka sudah sewajarnya dalam proses belajar mengajar di sekolah, baik guru, orang tua maupun siswa pasti mengharapkan agar siswa mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Untuk itu terkadang diperlukan adanya bimbingan belajar.

Menurut Prayitno dan Erman Amti upaya yang dapat dilakukan guru dalam membantu siswa salah satunya adalah pengajaran perbaikan di samping kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik.[24]

Maka dalam melaksanakan kegiatan bimbingan dalam belajar diperlukan adanya implementasi yang riil agar bimbingan belajar dapat dirasakan oleh peserta didik. Sebagaimana menurut pendapat Dewa Ketut Sukardi dikemukakan sebagai berikut.

Adapun materi yang dapat diangkatkan melalui layanan pembelajaran ada berbagai macam, yaitu meliputi:

  1. Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar tentang kemampuan, motivasi, sikap dan kebiasaan belajar
  2. Pengembangan motivasi, sikap dan kebiasaan belajar yang baik
  3. Pengembangan keterampilan belajar: membaca, mencatat, bertanya dan menjawab dan menulis
  4. Pengajaran perbaikan
  5. Program pengayaan[25]

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar yang memuaskan dapat diraih oleh setiap anak didik jika mereka dapat belajar secara wajar, terhindar dari berbagai ancaman, hambatan dan gangguan. Maka upaya yang dapat dilakukan guru dalam membantu siswa salah satunya adalah pengajaran perbaikan di samping kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi belajar dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Sedangkan pelaksanaan bimbingan belajar dilaksanakan dengan merencanakan program bimbingan, melaksanakan segenap layanan bimbingan, melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan, menilai proses dan hasil pelayanan bimbingan dan kegiatan pendukungnya, melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian, mengadministrasikan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakannya, dan mempertanggung jawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan.

 

  1. B.     Penelitian yang Relevan

Setelah penulis membaca dan mempelajari beberapa karya ilmiah sebelumnya, penelitian ini sangat relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh Saudara Sumarlin dengan judul penelitian “Perbedaan Hasil Belajar Bahasa Inggris Siswa Kelas IV Yang Mendapat Bimbingan Belajar Dengan Yang Tidak Di SDN 012 Sungai Rawa Kec.Sungai Apit Kab. Siak”. Letak kesamaan dalam penelitian ini adalah bahwa penelitian tersebut sama-sama mempunyai variabel yang sama yaitu sama-sama meneliti tentang bimbingan belajar yang diberikan oleh guru pembimbing, namun penelitian saudara Sumarlin lebih terfokus pada studi eksperimen. Bimbingan belajar yang diberikan pada semua siswa menjawab hipotesis penelitian yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar bahasa Inggris siswa kelas IV yang mendapat dengan yang tidak mendapat bimbingan belajar. Populasi dan sekaligus sampel dalam penelitian ini siswa kelas IV A dan IV B SDN 012 Sungai Rawa berjumlah 49 orang.

 Penelitian Yustina Girsang dengan judul “Usaha Guru Dalam Membimbing Siswa Melalui Remedial Teaching di SD Negeri Tapung Kabupaten Kampar”. Penelitian tersebut mempunyai variabel yang hampir sama yaitu sama-sama membahas tentang bimbingan belajar. Letak perbedaannya adalah hanya terfokus meneliti pembelajaran remedial. Berdasarkan kriteria penilaian yang ditetapkan maka dapat disimpulkan bahwa usaha guru dalam membimbing siswa melalui Remedial Teaching di SD Negeri Tapung Kabupaten Kampar ditinjau dari seluruh aspek yang dianalisa tergolong cukup tinggi.

 

  1. C.    Konsep Operasional

Untuk menghindari kesalahpahaman, maka konsep operasional dalam penelitian ini dijelaskan bahwa upaya guru bimbingan dan konseling dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar akan dikaji dari aspek-aspek berikut ini:

  1. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar untuk mencari informasi dari berbagai sumber belajar.
  2. Bersikap terhadap guru dan nara sumber lainnya, mengembangkan keterampilan belajar, mengerjakan tugas-tugas pelajaran, dan menjalani program penilaian hasil belajar.
  3. Pengembangan dan pemantapan disiplin belajar dan berlatih, baik secara mandiri maupun kelompok.
  4. Pemantapan penguasaan materi program belajar di sekolah sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian.
  5. Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya yang ada di sekolah, lingkungan sekitar dan masyarakat untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan serta pengembangan pribadi.
  6. Orientasi dan informasi tentang pendidikan yang lebih tinggi dan pendidikan tambahan.[26]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

METODE PENELITIAN

 

 

  1. A.    Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SMP Negeri 1 di Kecamatan Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar. Alasan penelitian di lokasi tersebut didasari adanya persoalan-persoalan yang ingin dikaji oleh penulis ada di daerah tersebut. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini direncanakan selama 4 bulan dimulai dari pengajuan sinopsis sampai ujian skripsi.

  1. B.     Subjek dan Objek Penelitian

 Subjek utama penelitian ini adalah guru pembimbing di SMP Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar sebanyak 1 orang, dan subjek pendukung adalah siswa sebanyak 2 orang di SMP Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar sebanyak 1 orang. Sedangkan objek penelitian ini adalah upaya guru pembimbing  dalam bidang bimbingan belajar.

  1. C.    Informan Penelitian

Subjek utama penelitian ini adalah guru pembimbing di SMP Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar sebanyak 1 orang, dan subjek pendukung adalah 2 orang siswa di SMP Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar sebanyak 1 orang.

  1. D.    Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

  1. 20

     

    Wawancara. Wawancara digunakan untuk mendapatkan gambaran tentang Upaya guru pembimbing dalam pelayanan bimbingan belajar di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar.

  1. Dokumentasi. Adapun studi dokumentasi adalah dengan cara meminta keterangan kepada guru pembimbing tentang jadwal bimbingan belajar dan yang relevan dengan bimbingan belajar.

 

  1. E.     Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan teknik deskriptif dengan pendekatan kualitatif.


[1] Undang-Undang Sisdiknas. UU RI. No. 20. th. 2003. Jakarta. Sinar Grafika. Hal 3

[2] Syaiful Bahri Djamarah. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2008. hal 234

[3] Ditjen Dikdasmes, Pelayanan Bimbingan dan Konseling SMU, Padang: Ditjen Dikdasmes,  1997. halaman 11

[4] Syaiful Bahri Djamarah. Op cit. hal. 253

[5] Prayitno dan Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. PT. Rineka Cipta. 2004. hal 94

[6] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,  2002, hlm. 125 

[7] Prayitno, Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 2001, halaman 8

[8] Lijan Poltak Sinambela. Reformasi Pelayanan Publik. Jakarta. Bumi Aksara, 2007, halaman 5

[9] Prayitno dan Erman Amti. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 2004. hlm 279

[10] SKB Menbud dan Kepala BAKN (dalam Amirah Diniyaty), Evaluasi dalam Bimbingan dan Konseling, Pekanbaru: Suska Press, hal 6

[11] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung: Alfabeta, 2009, hal 232

[12] Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2005, hlm 45

[13] Bimo Walgito, Op cit, hlm 40

[14] Prayitno dan Erman Amti. Loc cit

[15] Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta, 2003, halaman 56

[16] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. 2004, halaman 77

[17] Dewa Ketut Sukardi. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002, halaman 46

[18] Surya. Kapita Selekta Kependidikan SD. Jakarta .UT. 2001. hlm 9.18

[19] Dewa Ketut Sukardi, Ibid, halaman 41

[20] Abu Ahmadi,  Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta,  2001. hl, 118

[21] Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono. Psikologi Belajar. Jakarta. Rineka Cipta. 2004. hlm 112

[22] Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta, 2004, hal. 279

[23] Syaiful Bahri Djamarah. Op cit. hal 233

[24] Prayitno dan Erman Amti. Op cit. hal 284

[25] Hallen, Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Ciputat Pers, 2002 hal. 85

[26] Hallen, Loc cit. 79

Leave a comment

Filed under CONTOH PROPOSAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s