TEORI AKTIVITAS BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

MENGALAMI KESULITAN MEMBUAT PROPOSAL, HUBUNGI 081337999117 (PEKANBARU)

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.                Latar Belakang

Pembelajaran merupakan salah satu kunci utama dalam mencapai tujuan pendidikan. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berlangsung secara efektif dan efisien sehingga dapat mencapai suatu tujuan. Menurut Sagala penbelajaran adalah interaksi pendidik dan peserta didik dalam mempelajari suatu materi pelajaran yang telah tersusun dalam suatu kurikulum. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komponen pembelajaran  tersebut antara lain guru dan siswa.[1]

Guru merupakan yang paling bertanggung jawab untuk melaksanakan pembelajaran di kelas. Baik tidaknya proses pembelajaran disuatu kelas tergantung kepada kemampuan guru dalam melakukan pengajaran secara professional. Berhasilnya atau tidaknya pembelajaran yang dilakukan guru dapat dilihat dari sudut proses dan sudut hasil yang dicapai.

Materi yang diajarkan sekolah dasar terbagi atas beberapa disiplin ilmu. Salah satu bidang ilmu yang diajarkan di sekolah dasar adalah Matematika. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang tingkat keberhasilan dari sudut hasil masih kurang. Banyak ditemui di lapangan siswa harus mendapat nilai kecil pada mata pelajaran ini, siswa malas menyelesaikan tugas-tugas mata pelajaran matematika dengan alasan tidak mengerti dan sulit ataupun disaat proses pembelajaran keluar masuk kelas serta melaksanakan aktivitas yang tidak mendukung proses pembelajaran matematika.[2]

Tujuan pembelajaran matematika adalah untuk menekan pada konsep matematika, penataan nalar dan pembentukan sikap, kemampuan memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan untuk mengubah tingkah laku siswa. Perubahan tingkah laku siswa terlihat pada akhir pembelajaran dan diharapkan perubahan itu mengarah pada hasil belajar.

Aktivitas belajar itu sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasif, atau hanya menerima dari pengajar, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu, diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat informasi yang baru saja diterima dari guru. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak.  Mengapa demikian? Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama. Kenyataan ini sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof kenamaan dari Cina, Konfusius sesuai yang dikutip Hisyam Zaini. Dia mengatakan: Apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat saya ingat dan apa yang saya lakukan saya faham. [3]

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa dengan adanya aktifitas belajar yang baik maka siswa akan belajar lebih aktif dan pada akhirnya hasil belajar dapat dicapai secara maksimal. Untuk itu keaktifan sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, terutama pada mata pelajaran Matematika.

Hal ini sangat sejalan yang dinyatakan oleh Oemar Hamalik bahwa penggunaan asas aktifitas besar nilainya bagi pengajaran para siswa, karena :

  1. Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri,
  2. Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara integral,
  3. Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan siswa,
  4. Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri,
  5. Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi demokratis,
  6. Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara orang tua dengan guru,
  7. Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan verbalistis dan
  8. Pengajaran di sekolah menjadi hidup sebagaimana aktivitas dalam kehidupan di masyarakat.[4]

 

Oemar Hamalik mengemukakan kemampuan-kemampuan yang selama ini harus dikuasai guru juga akan lebih dituntut aktualisasinya. misalnya kemampuannya dalam: 1) merencanakan pembelajaran dan merumuskan tujuan, 2) mengelola kegiatan individu, 3) menggunakan multi metode, dan memanfaatkan media, 4) berkomunikasi interaktif dengan baik, 5) memotivasi dan memberikan respons, 6) melibatkan siswa dalam aktivitas, 7) mengadakan penyesuaian dengan kondisi siswa, 8) melaksanakan dan mengelola pembelajaran, 9) menguasai materi pelajaran, 10) memperbaiki dan mengevaluasi pembelajaran, 11) memberikan bimbingan, berinteraksi dengan sejawat dan bertanggungjawab kepada konstituen serta, 12) mampu melaksanakan penelitian.[5]

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu hal ini dapat menciptakan suasana aktif dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh pengunaan metode pembelajaran yang tepat. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis akan menggunakan penerapan strategi pembelajaran berdiri dan berhitung untuk meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru.

Adapun indikator aktivitas belajar menurut Djamarah antara lain adalah

  1. Mendengarkan
  2. Memandang
  3. Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap
  4. Menulis atau mencatat
  5. Membaca
  6. Membuat ikhtisar atau ringkasan
  7. Mengamati tabel-tabel, diagram, dan bagan-bagan
  8. Menyusun paper atau kertas keja
  9. Mengingat
  10. Berfikir
  11. Latihan atau praktek.[6]

 

Namun berdasarkan pengamatan peneliti di MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru masih ditemui gejala-gejala di kelas III pada pelajaran Matematika sebagai berikut:             

  1. Dalam aktivitas mendengarkan, siswa kurang aktif mendengarkan penjelasan guru
  2. Dalam aktifitas memandang, siswa kurang mau memandang ke depan
  3. Siswa kurang aktif menulis atau mencatat
  4. Siswa kurang aktif membaca
  5. Siswa kurang rajin membuat ikhtisar atau ringkasan
  6. Siswa kurang aktif mengamati tabel-tabel, diagram, dan bagan-bagan
  7. Siswa masih lemah dalam mengingat
  8. Siswa kurang aktif berfikir
  9. Dalam mengerjakan latihan atau praktek, siswa masih belum maksimal

Berdasarkan gejala-gejala di atas, dapat dikatakan bahwa aktifitas belajar siswa dalam proses pembelajaran Matematika cenderung rendah. Untuk itu, melalui penelitian ini penulis berusaha untuk memperbaiki aktifitas belajar siswa dalam proses pembelajaran. Dari permasalahan diketahui bahwa siswa dianggap kurang aktif, kurang memperhatikan pelajaran yang dijelaskan guru, lamban dalam menjawab apa yang ditanyakan guru, bahkan tidak terjawab dan kemampuan siswa dalam menganalisis, hal ini sangat sesuai dengan strategi yang dipilih penulis. Salah satu usaha untuk memperbaiki proses pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan strategi pembelajaran Berdiri dan berhitung. Kelebihan strategi tersebut adalah, bahwa strategi berdiri sambil berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa.

Sebagaimana dijelaskan oleh Melvin, bahwa strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.[7] Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa, khususnya dalam kegiatan pembelajaran yang agak rumit seperti matematika.

 

Oleh sebab itu peneliti tertarik ingin melakukan suatu penelitian tindakan sebagai upaya dalam melakukan perbaikan terhadap pembelajaran melalui strategi berdiri dan berhitung dengan judul “Penerapan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung untuk meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru”.

 

  1. B.                 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah Penerapan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung dapat meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru?

 

  1. C.                Defenisi Istilah
  2. Aktivitas adalah kegiatan: kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan di tiap bagian.[8] Yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas.
  3. Belajar adalah merupakan intraksi individu terhadap lingkungannya.[9] Pendapat mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[10]
  4. Aktifitas belajar adalah kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan di tiap bagian dalam suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku.
  5. Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.
  6. D.                Tujuan dan Manfaat Penelitian
    1. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini yaitu: meningkatkan aktivitas belajar Matematika Siswa Kelas III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru dengan menggunakan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung.

  1. Manfaat Penelitian

Melalui penelitian ini diharapkan memperoleh manfaat antara lain:

  1. Bagi Siswa

1)        Dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mata pelajaran Matematika pada khususnya, dan semua mata pelajaran pada umumnya.

2)        Memudahkan siswa dalam memahami materi pembelajaran.

  1. Bagi Guru

1)        Memberikan suatu pengalaman yang berharga bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pembelajaran melalui Penggunaan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung, sehingga dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa.

2)        Diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu strategi tambahan serta bahan acuan dalam pelaksanaan pembelajaran.

  1. Bagi Sekolah

Hasil dari penelitian ini nantinya dapat menjadi masukan dalam menentukan kebijakan tentang strategi pembelajaran yang cocok untuk mata pelajaran Matematika di berbagai jenjang pendidikan umumnya, khususnya di sekolah dasar.

  1. Bagi Peneliti

1)        Menambah pengetahuan khususnya tentang model-model atau teknik-teknik pembelajaran yang baru.

2)        Sebagai landasan dalam melakukan penelitian dengan objek penelitian yang lebih luas.

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

  1. A.      Kerangka Teoretis
  2. 1.      Aktivitas Belajar

a)      Pengertian

Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku, akibat interaksi individu dengan lingkungan.[11] Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dipahami bahwa belajar merupakan proses perubahan perilaku pada diri sendiri berkat adanya interaksi individu dengan lingkungannya.

Sedangkan aktivitas belajar adalah proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan sedemikian rupa agar menciptakan:

  1. Peserta didik aktif bertanya,
  2. Mempertanyakan, dan
  3. Mengemukakan gagasan.[12]

Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar dengagn aktif, berarti mereka mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam satu persoalan yang adala dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan.[13]

Belajar aktif itu sangat diperlukan oleh peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimum. Ketika peserta didik pasir, atau hanya menerima dari guru, ada kecenderungagn untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. Oleh sebab itu, diperlukan perangkat tertentu untuk dapat mengikat infomrasi yang baru saja diterima dari guru. Belajar aktif adalah salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam otak. Mengapa demikian? Karena salah satu factor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah factor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama. Kenyataan ini sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof kenamaan dari Cina, Konfusius. Dia mengatakan: apa yang saya dengar saya lupa, apa yang saya lihat, saya ingat, apa yang saya lakukan, saya paham.[14]

Menurut Agus Suprijono, pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang harus menumbuhkan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Belajar memang merupakan proses aktif dari si pembelajaran dalam membangun pengetahuannya, bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah guru tentang pengetahuan. Pembelajaran aktif adalah proses belajar yang menumbuhkan dinamika belajar bagi peserta didik. Dinamika untuk mengartikulasikan dunia idenya dalam mengkonfrontif ide itu dengan dunia ralitas yang dihadapinya.[15]

 

b)     Komponen-Komponen Aktifitas Belajar

Menurut Rahmayulis aktivitas mencakup aktivitas jasmani dan rohani[16]. Kegiatan jasmani dan rohani yang dapat dilakukan di sekolah menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Paul B. Diedrich meliputi :

  1. Visual activities
  2. Oral activities
  3. Listening aktivities
  4. Writing activities
  5. Drawing activities
  6. Motor activities
  7. Mental aktivities
  8. Emotional activities
    1. membaca
    2. memperhatikan gambar
    3. demontrasi
    4. percobaan
    1. menyatakan
    2. merumuskan
    3. bertanya
    4. memberi saran
    5. mengeluarkan pendapat
    6. interviu
    7. diskusi dan sebagainya
    1. mendengarkan uraian
    2. percakapan diskusi
    3. musik
    4. pidato
    5. ceramah dan sebagainya.
    1. menulis cerita
    2. karangan
    3. laporan
    4. angket
    5. menyalin dan sebagainya.
    1. Mengambarkan
    2. membuat grafik
    3. peta dan sebagainya.
    1. melakukan percobaan
    2. membuat kontruksi
    3. model mereparasi
    4. bermain
    5. berkebun
    6. memelihara bintang dan sebagainya.
    1. Menangkap
    2. Mengingat
    3. memecahkan soal
    4. menganalisis
    5. mengambil keputusan dan sebagainya.
    1. menaruh minat
    2. gembira
    3. berani
    4. tenang
    5. gugup
    6. kagum dan sebagainya.[17]

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang terdiri dari aktivitas jasmani dan rohani menyangkut aktivitas atau kegiatan siswa dalam belajar sebagaimana kegiatan siswa pada umumnya, yaitu aktivitas visual, oral, mendengarkan, mencatat, menggambar, bergerak, mental dan aktivitas emosional.

Lebih lanjut dapat dijelaskan indikator keaktifan siswa dalam proses pembelajaran adalah :

  1. Siswa tidak hanya menerima informasi tetapi lebih banyak mencari dan memberikan informasi.
  2. Siswa banyak mengajukan pertanyaan baik kepada guru maupun kepada siswa lainnya.
  3. Siswa lebih banyak mengajukan pendapat terhadap informasi yang disampaikan oleh guru atau siswa lain.
  4. Siswa memberikan respon yang nyata terhadap stimulus belajar yang dilakukan guru.
  5. Siswa berkesempatan melakukan penilaian sendiri terhadap hasil pekerjaannya, sekaligus memperbiki dan menyempurnakan hasil pekerjaan yang belum sempurna.
  6. Siswa membuat kesimpulan pelajaran dengan bahasanya sendiri.
  7. Siswa memanfaatkan sumber belajar atau lingkungan belajar yang ada disekitarnya secara optimal.[18]

 

Dapat disimpulkan indikator keaktifan siswa yang dikemukakan oleh Sudjana meliputi siswa lebih banyak mencari informasi tentang pelajaran, memecahkan permasalahan sendiri serta membuat ringkasan pelajar dengan bahasa sendiri yang dipahaminya.

Bertolak dari beberapa teori tentang aktivitas di atas, Djamarah mengemukakan aktivitas belajar mencakup beberapa aspek yaitu :

  1. Mendengarkan
  2. Memandang
  3. Meraba, membau, dan mencicipi/mengecap
  4. Menulis atau mencatat
  5. Membaca
  6. Membuat ikhtisar atau ringkasan
  7. Mengamati tabel-tabel, diagram, dan bagan-bagan
  8. Menyusun paper atau kertas keja
  9. Mengingat
  10. Berfikir
  11. Latihan atau praktek.[19]

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas yang terdiri dari aktivitas jasmani dan rohani, menyangkut aktivitas atau kegiatan siswa dalam belajar sebagaimana kegiatan siswa pada umumnya, yaitu aktivitas visual, oral, mendengarkan, mencatat, menggambar, bergerak, mental dan aktivitas emosional.

c)      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pada diri seseorang, menurut Ngalim Purwanto terdiri atas dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Secara rinci kedua faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:[20]

  1. Faktor Internal

Faktor internal adalah seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu yang belajar, baik aspek fisiologis (fisik) maupun aspek psikologis (psikhis).

a)        Aspek Fisik (Fisiologis)

Orang yang belajar membutuhkan fisik yang sehat. Fisik yang sehat akan mempengaruhi seluruh jaringan tubuh sehingga aktivitas belajar tidak rendah. Keadaan sakit pada pisik/tubuh mengakibatkan cepat lemah, kurang bersemangat, mudah pusing dan sebagainya. Oleh karena itu agar seseorang dapat belajar dengan baik maka harus mengusahakan kesehatan dirinya.[21]

b)        Aspek Psikhis (Psikologi)

Menurut Sardiman A.M, sedikitnya ada delapan faktor psikologis yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan aktivitas belajar. Faktor-faktor itu adalah perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat dan motif. Secara rinci faktor-faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:[22]

(1)     Perhatian

Perhatian adalah keaktipan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu obyek, baik didalam maupun di luar dirinya.[23] Makin sempurna perhatian yang menyertai aktivitas maka akan semakin sukseslah aktivitas belajar itu. Oleh karena itu, guru seharusnya selalu berusaha untuk menarik perhatian anak didiknya agar aktivitas belajar mereka turut berhasil.

(2)     Pengamatan

Pengamatan adalah cara mengenal duia riil, baik dirinya sendiri maupun lingkungan dengan segenap panca indera. Karena fungsi pengamatan sangat sentral, maka alat-alat pengamatan yaitu panca indera perlu mendapatkan perhatian yang optimal dari pendidik, sebab tidak berfungsinya panca indera akan berakibat terhadap jalannya usaha pendidikan pada anak didik. Panca indera dibutuhkan dalam melakukan aktivitas belajar (Sardiman, 2008:45)[24]

(3)     Tanggapan

Tanggapan adalah gambaran ingatan dari pengamatan, dalam mana obyek yang telah diamati tidak lagi berada dalam ruang dan waktu pengamatan. Jadi, jika prosese pengamatan sudah berhenti, dan hanya tinggal kesan-kesannya saja.[25]

(4)     Fantasi

Fantasi adalah sebagai kemampuan jiwa untuk membentuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau ke depan, keadaan-keadaan yang akan mendatang. Dengan pantasi ini, maka dalam belajar akan memiliki wawasan yang lebih longgar karena dididik untuk memahami diri atau pihak lain.[26]

(5)     Ingatan

Ingatan (memori) ialah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan-kesan. Jadi ada tiga unsur dalam perbuatan ingatan, ialah : menerima kesan-kesan, menyimpan, dan mereproduksikan. Dengan adanya kemampuan untuk mengingat pada manusia ini berarti ada suatu indikasi bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali dari sesuatu yang pernah dialami.[27]

(6)     Bakat

Bakat adalah salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada. Hal ini dekat dengan persoalan intelegensia yang merupakan struktur mental yang melahirkan :kemampuan” untuk memahami sesuatu. Kemampuan itu menyangkut: achievement, capacity dan aptitude (Sardiman, 2008:46).

(7)     Berfikir

Berfikir adalah merupakan aktivitas mental untuk dapat merumuskan pengertian, mensintesis dan menarik kesimpulan.

(8)     Motif

Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan. Apabila aktivitas belajar itu didorong oleh suatu motif dari dalam diri siswa, maka keberhasilan belajar itu akan mudah diraih dalam waktu yang relative tidak cukup lama.[28]

  1. Faktor Eksternal

Menurut Ngalim Purwanto, faktor eksternal terdiri atas: 1), keadaan keluarga, 2) guru dan cara mengajar 3), alat-alat pelajaran, 4) motivasi sosial, dan 5) lingkungan serta kesempatan. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan dibawah ini:

a)        keadaan keluarga

Siswa sebagai peserta didik di lembaga formal (sekolah) sebelumnya telah mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga. Di keluargalah setiap orang pertama kali mendapatkan pendidikan. Pengaruh pendidikan di lingkungan keluarga, suasana di lingkungan keluarga, cara orang tua mendidik, keadaan ekonomi, hubungan antar anaggota keluarga, pengertian orang tua terhadap pendidikan anak dan hal-hal laainnya di dalam keluarga turut memberikan karakteristik tertentu dan mengakibatkan aktif dan pasifnya anak dalam mengikuti kegiatan tertentu.

b)        guru dan cara mengajar

Lingkungan sekolah, dimana dalam lingkungan ini siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar, dengan segala unsur yang terlibat di dalamnya, seperti bagaimana guru menyampaikan materi, metode, pergaulan dengan temannya dan lain-lain turut mempengaruhi tinggi rendahnya kadar aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar.

c)        alat-alat pelajaran

Sekolah yang cukup memiliki alat-alat dan perlengkapan yang diperlukan untuk belajar ditambah dengan cara mengajar yang baik dari guru-gurunya, kecakapan guru dalam menggunakan alat-alat itu, akan mempermudah dan mempercepat belajar anak-anak.

d)       motivasi sosial

Dalam proses pendidikan timbul kondisi-kondisi yang di luar tanggung jawab sekolah, tetapi berkaitan erat dengan corak kehidupan lingkungan masyarakat atau bersumber pada lingkungan alam. Oleh karena itu corak hidup suatu lingkungan masyarakat tertentu dapat mendorong seseorang untuk aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar atau sebaliknya.

e)        lingkungan dan kesempatan

Lingkungan, dimana siswa tinggal akan mempengaruhi perkembangan belajar siswa, misalnya jarak antara rumah dan sekolah yang terlalu jauh, sehingga memerlukan kendaraan yang cukup lama yang pada akhirnya dapat melelahkan siswa itu sendiri. Selain itu, kesempatan yang disebabkan oleh sibuknya pekerjaan setiap hari, pengaruh lingkungan yang buruk dan negative serta factor-faktor lain terjadi di luar kemampuannya. Faktor lingkungan dan kesempatan ini lebih-lebih lagi berlaku bagi cara belajar pada orang-orang dewasa.[29]

Aktifitas belajar yang merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku si subjek belajar, banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang mempengaruhinya itu, secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor intern (dalam diri) si subjek belajar dan faktor ekstern (dari luar diri) si subjek belajar.

Slameto mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan  menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.[30] Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang Kadang-kadang belajar. Yang termasuk dalam faktor intern seperti, faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Kadang-kadangkan faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar, dapatlah dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu, faktor keluarga, faktor sekolah (organisasi) dan faktor masyarakat.

 

  1. 9.      Strategi Pembelajaran Berdiri dan Berhitung
    1. a.      Pengertian

Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.[31] Kelebihan strategi tersebut adalah, bahwa strategi berdiri sambil berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa.

Sebagaimana dijelaskan oleh Melvin, bahwa strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.[32] Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa, khususnya dalam kegiatan pembelajaran yang agak rumit seperti matematika.

 

  1. b.      Langkah-Langkah Pelaksanaan

Langkah-langkah Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung sebagai berikut:

1)        Guru menjelaskan tentang materi pembelajaran

2)        Guru memberikan apersepsi dan motivasi

3)        Jelaskan kepada peserta bahwa anda ingin mengadakan sebuah survey cepat, untuk membantu semua peserta mengenal “siapa yang ada di sini hari ini?”

4)        Mintalah kepada peserta untuk beridri dan berhitung jika pernyataan yang anda buat berlaku untuk mereka

5)        Kembangkan pernyataan-pernyataan yang akan menjadi minat berdasarkan kategori-kategori seperti

  1. Jabatan (“Berdirilah jika anda adalah seorang supervisor utama”)
  2. Status (“Berdirilah jika anda adalah seorang baru di perusahaan ini.”)
  3. Lokasi (“Berdirilah jika anda pernah tinggal di luar Negara ini.”)
  4. Pengalaman (“Berdirilah jika anda baru-baru ini bertemu seseorang yang terkenal.”)
  5. Keyakinana (“Berdirilah jika anda yakin bahwa pelanggan selalu benar.”)
  6. Opini (“Berdirilah jika anda piker bahwa program-program pelatihan memiliki dampak yang kecil setelah program tersebut selesai.”)
  7. Pilihan (“Berdirilah jika anda lebih memilih telepon dibandingkan e-mail.”)Prioritas (“Berdirilah jika anda piker bahwa penting menghabiskanlebih banyak waktu untuk mempertahankan jumlah pegawai dari pada mengembangkan produk.”)
  8. Hobi (“Berdirilah jika andamemiliki hobi memainkansebuah alat music.”)
  9. Bakat (“Berdirilah jika anda mahir menggunakan excel.”)

6)        Gunakan lima sampai dua puluh pertanyaan. Tetap berada dalam satu kategori atau campurkanlah kategori diatas. Lakukan apapun  yang mungkin menarik minat para peserta anda. Kegiatan tersebut akan berjalan dengan sangat baik  jika sebagian dari pernyataan anda berlaku pada hamper seluruh peserta dan sebagian berlaku pada sebagian kecil peserta. Mungkin juga akan berakhir dengan seluruh audiens berdiri, seperti. “Berdirilah jika anda hidup!” atau “Berdirilah jika anda senangmelakukan latihan ini.”[33]

  1. 10.  Hubungan Strategi Pembelajaran Berdiri dan Berhitung dengan Peningkatan Aktivitas Belajar

 

Menurut Melvin strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar. Artinya, pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan pembelajaran yang menitikberatkan fokusnya pada proses pembelajaran. Jika dalam pembelajaran siswa aktif, diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya.

Hal tersebut sangat dimungkinkan karena metode atau strategi pembelajaran ini menekankan siswa pada percobaan-percobaan secara langsung. Selain itu siswa diajak untuk memahami teori dengan cara melakukan/merasakan langsung dan secara pribadi. Dengan mengalami secara langsung maka siswa diajarkan untuk dapat berpikir secara lebih kritis. Sehingga pemahaman siswa terhadap pelajaran akan semakin kompleks, yaitu mereka mendapatkan ilmu pengetahuan, mereka mendapatkan rasa senang, dan mereka juga dapat menerapkannya secara langsung di lapangan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada kaitan ataupun hubungan yang sangat erat antara strategi pembelajaran berdiri dan berhitung dengan aktivitas belajar siswa, dimana berdiri dan berhitung sebagai upaya-upaya atau cara yang dilakukan demi tercapainya tujuan pembelajaran yaitu aktivitas belajar yang optimal.

 

  1. B.       Kerangka Berpikir

Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar. Dengan demikian siswa diajak bukan hanya memahami teori (teoritis) tetapi juga diajari untuk melakukan/merasakan langsung. Dengan mengalami secara langsung maka siswa diajarkan untuk dapat berpikir secara lebih kritis dari temuan-temuan yang mereka dapatkan.

Strategi pembelajaran berdiri dan berhitung memungkinkan siswa untuk berpikir aktif, kreatif serta dinamis. Siswa belajar mempraktekkan teori-teori yang mereka dapatkan selama pembelajaran berlangsung di ruang kelas. Pada kenyataannya, pembelajaran matematika di SD masih cenderung menggunakan metode ceramah dan penugasan atau latihan-latihan dari guru. Materi pelajaran disampaikan langsung kepada siswa dan siswa hanya mendengarkan serta mencatat penjelasan dari guru. Guru hanya menginformasikan fakta dan konsep melalui metode ceramah dan meminimalkan keterlibatan siswa. Siswa diberi pertanyaan yang lebih cenderung berupa hafalan. Pertanyaan yang berkaitan dengan kemampuan berpikir yang lebih tinggi seperti melakukan suatu percobaan kemudian menyimpulkan sendiri hasil percobaan jarang dilakukan oleh guru.

Siswa dianggap kurang aktif, kurang memperhatikan pelajaran yang dijelaskan guru, lamban dalam menjawab apa yang ditanyakan guru, bahkan tidak terjawab dan kemampuan siswa dalam menganalisis, hal ini sangat sesuai dengan strategi yang dipilih penulis. Salah satu usaha untuk memperbaiki proses pembelajaran tersebut adalah dengan menggunakan strategi pembelajaran Berdiri dan berhitung. Kelebihan strategi tersebut adalah, bahwa strategi berdiri sambil berhitung dapat meningkatkan keaktifan siswa. Sebagaimana dijelaskan oleh Melvin, bahwa strategi pembelajaran berdiri dan berhitung merupakan cara cepat untuk memperkenalkan sesama peserta terutama di kelas yang besar.[34]

Siswa yang aktif dalam belajar, merupakan siswa yang mendapatkan modal pertama untuk meraih tujuan pembelajaran, yaitu mendapatkan hasil yang baik dalam pembelajaran. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui strategi pembelajaran berdiri dan berhitung akan dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Matematika.

 

 

 

  1. C.      Penelitian Relevan

Penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh A. Hamid dari UIN Suska Riau tahun 2011 dengan judul “Meningkatkan Aktivitas Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung materi Membaca Ayat-ayat Pendek Al-Qur’an pada Siswa Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 009 Siak Kecamatan Siak Kabupaten Siak”[35]. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan berjudul: Penerapan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung untuk meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru.

Dari dua judul di atas, terdapat kesamaan yaitu, sama-sama penerapkan Strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung dalam proses pembelajaran, sama-sama meningkatkan aktivitas belajar siswa, sedangkan perbedaannya terletak pada mata pelajaran, kelas, yaitu jika penelitian A.Hamid pada kelas IV maka penelitian yang dilakukan oleh peneliti berada di kelas III, selain itu juga tempat penelitian yang juga berbeda. Adapun hasil peneltian yang dilakuan oleh A.Hamid adalah diperoleh hasil penelitian dengan aktivitas siswa pada siklus III rata-rata sebesar 72% dengan kategori baik.

 

  1. D.      Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan merupakan kriteria-kriteria yang ditetapkan sebagai dasar penilaian apakah aktivitas ataupun tindakan telah berhasil dilakukan atau tidak. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini terdiri dari indikator kinerja guru dan siswa, serta hasil belajar.

  1. Indikator aktivitas guru
    1. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa anda ingin mengadakan sebuah survey cepat, untuk membantu semua peserta mengenal “siapa yang ada di sini hari ini?”
    2. Guru meminta siswa untuk beridri dan berhitung
    3. Guru mengembangkan pernyataan-pernyataan yang akan menjadi minat berdasarkan kategori-kategori seperti

1)             Jabatan (“Berdirilah jika anda adalah seorang supervisor utama”)

2)             Status (“Berdirilah jika anda adalah seorang baru di perusahaan ini.”)

3)             Lokasi (“Berdirilah jika anda pernah tinggal di luar Negara ini.”)

4)             Pengalaman (“Berdirilah jika anda baru-baru ini bertemu seseorang yang terkenal.”)

5)             Keyakinan (“Berdirilah jika anda yakin bahwa pelanggan selalu benar.”)

6)             Opini (“Berdirilah jika anda piker bahwa program-program pelatihan memiliki dampak yang kecil setelah program tersebut selesai.”)

7)             Pilihan (“Berdirilah jika anda lebih memilih telepon dibandingkan e-mail.”) Prioritas (“Berdirilah jika anda piker bahwa penting menghabiskan lebih banyak waktu untuk mempertahankan jumlah pegawai dari pada mengembangkan produk.”)

8)             Hobi (“Berdirilah jika anda memiliki hobi memainkan sebuah alat musik.”)

9)             Bakat (“Berdirilah jika anda mahir menggunakan excel.”)

  1. Guru menggunakan lima sampai dua puluh pertanyaan.
  2. Indikator aktivitas siswa

Untuk lembaran observasi aktivitas siswa dinilai berdasarkan indikator berikut ini:

  1. Siswa memperhatikan penjelasan guru dengan seksama
  2. Siswa aktif bertanya
  3. Siswa mempertanyakan
  4. Siswa mengemukakan gagasan
  5. Indikator Hasil

Indikator kinerja guru merupakan aktivitas-aktivitas guru yang akan dinilai selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan strategi pembelajaran berdiri dan berhitung minimal mendapatkan persentase ketercapaian dari seluruh indikator sebesar 80% atau paling kurang berada pada kategori ‘baik’

Indikator  kinerja siswa juga dianggap berhasil dengan menggunakan strategi pembelajara berdiri dan berhitung minimal mendapatkan persentase ketercapaian dari seluruh indikator sebesar 80% atau paling kurang berada pada kategori ‘baik’.

  1. E.       Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dibuat untuk menjawab perumusan masalah penelitian, adapun hipotesis tindakan dalam penelitan ini adalah, melalui Penerapan strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung dapat meningkatkan aktivitas belajar Matematika siswa kelas III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Subjek dan Objek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah guru serta siswa kelas III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru dengan siswa sebanyak 15 orang. Adapun objek dalam penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas belajar Matematika dengan menggunakan strategi pembelajaran berdiri dan berhitung.

 

  1. B.     Tempat Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di  kelas III MI Al-Fattaah Kecamatan Lima Puluh Pekanbaru dengan siswa sebanyak 15 orang, tahun pelajaran 2013-2014.

 

  1. C.    Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (Classrom based action research), yaitu suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.  Peneliti dalam penelitian ini sebagai pelaksana penelitian, pengumpul data, penganalisis data dan pelapor hasil penelitian.[36]

Rancangan penelitian dilakukan dengan 2 siklus. Siklus pertama dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan dan siklus kedua juga dilaksanakan dengan 2 kali, pertemuan, sehingga ada 4 kali pertemuan dalam dua siklus.

20

 

Siklus penelitian tindakan kelas dapat digambarkan seperti di bawah ini:

Gambar. 1

Alur Pelaksanaan Tindakan

 
   

 

  1. 2.       
  2. 3.       
  3. 4.       
  4. 5.       
  5. 6.       
  6. 7.       
  7. 8.       
  8. 9.       
  9. 10.   
  10. 11.   
  11. 12.   
  12. 13.   
  13. 14.   
  14. 15.   

 

 

                          Sumber: Arikunto.[37]

Agar penelitian tindakan kelas ini berhasil dengan baik tanpa hambatan yang mengganggu kelancaran penelitian, peneliti menyusun tahapan-tahapan yang dilalui dalam penelitian tindakan kelas, yaitu:

  1. Tahap perencanaan
  2. Mempersiapkan bahan pelajaran.

Sebelum strategi pembelajaran berdiri dan berhitung diterapkan maka guru perlu mempersiapkan terlebih dahulu materi pelajaran.

  1. Menetapkan jumlah siklus.

Peneliti merencanakan penelitian ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus saja, dimana dalam setiap siklusnya tersebut terdiri dari 2 (dua) kali pertemuan.

  1. Menyiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari :

1)      Menyiapkan RPP

2)      Menyiapkan lembar observasi aktivitas guru.

3)      Menyiapkan lembar observasi aktivitas siswa.

4)      Meminta kesediaan salah satu guru untuk menjadi observer.

  1. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan merujuk pada langkah-langkah yang tertuang dalam RPP, adapun tindakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Guru menjelaskan kepada siswa bahwa anda ingin mengadakan sebuah survey cepat, untuk membantu semua peserta mengenal “siapa yang ada di sini hari ini?”
  2. Guru meminta siswa untuk beridri dan berhitung
  3. Guru mengembangkan pernyataan-pernyataan yang akan menjadi minat berdasarkan kategori-kategori seperti

1)             Jabatan (“Berdirilah jika anda adalah seorang supervisor utama”)

2)             Status (“Berdirilah jika anda adalah seorang baru di perusahaan ini.”)

3)             Lokasi (“Berdirilah jika anda pernah tinggal di luar Negara ini.”)

4)             Pengalaman (“Berdirilah jika anda baru-baru ini bertemu seseorang yang terkenal.”)

5)             Keyakinana (“Berdirilah jika anda yakin bahwa pelanggan selalu benar.”)

6)             Opini (“Berdirilah jika anda piker bahwa program-program pelatihan memiliki dampak yang kecil setelah program tersebut selesai.”)

7)             Pilihan (“Berdirilah jika anda lebih memilih telepon dibandingkan e-mail.”)Prioritas (“Berdirilah jika anda piker bahwa penting menghabiskanlebih banyak waktu untuk mempertahankan jumlah pegawai dari pada mengembangkan produk.”)

8)             Hobi (“Berdirilah jika andamemiliki hobi memainkansebuah alat musik.”)

9)             Bakat (“Berdirilah jika anda mahir menggunakan excel.”)

  1. Guru menggunakan lima sampai dua puluh pertanyaan.
  2. Observasi

Dalam pelaksanaan penelitian ini juga melibatkan observer atau pengamat. Tugas dari observer tersebut adalah untuk melihat atau mengamati aktivitas guru dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu dengan menggunakan lembar observasi. Hal ini dilakukan untuk memberi masukan dan pendapat terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan, sehingga masukan-masukan dari pengamat dapat digunakan untuk memperbaiki pembelajaran pada siklus II. Pengamatan ditujukan untuk melihat aktivitas guru dan siswa ketika proses pembelajaran.

 

 

  1. Refleksi

Hasil yang didapat dalam tahap observasi dikumpulkan dan dianalisis, dari hasil observasi guru dapat merefleksi diri dengan melihat data observasi guru dan murid selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan refleksi dapat dilakukandengan langkah sebagai berikut:

a)      Memperhatikan hasil yang telah dicapai

b)      Mengkomunikasikan dengan observer

c)      Membuat langkah perbaikan selanjutnya

 

  1. E.       Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data di lapangan penulis menggunakan beberapa teknik, yaitu:

  1. Observasi

Mengadakan pengamatan langsung terhadap objek yaitu meningkatkan aktivitas belajar Matematika melalui strategi pembelajaran berdiri dan berhitung. Adapun prosedur observasi adalah sebagai berikut:

a)    Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi.

b)   Pengamat tinggal memberikan tanda cek (√) pada kolom yang dikehendaki pada format tersebut.

  1. Dokumentasi

Mengumpulkan informasi dan data yang diperoleh dari sekolah. Baik itu data mengenai jumlah siswa, perkembangannya selama proses belajar mengajar berlangsung maupun nilai yang diperoleh siswa sebelum dan sesudah digunakan strategi pembelajaran berdiri dan berhitung  dalam mengajar. Adapun prosedur dokumentasi adalah sebagai berikut:

a)      Mengidentifikasi dokumen sumber yang akan digunakan.

b)      Menggambarkan bagaimana dokumen-dokumen di buat, diproses dan digunakan.

c)      Menambahkan catatan yang akan memberikan keterangan mengenai suatu simbol atau kegiatan contohnya foto.

  1. F.       Teknik Analisis Data

Analisa data dilakukan dengan melihat aktiviatas guru dan aktivitas siswa. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi  dilakukan untuk mengamati aktivitas guru dan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung menggunakan metode point of view. Observasi dilakukan dengan kolaboratif, yaitu dibantu dengan teman sejawat. Setelah data terkumpul melalui observasi, data tersebut diolah dengan menggunakan rumus persentase sebagai berikut: [38]

                  

 

Keterangan:

f           = Frekuensi yang sedang dicari persentasenya

N         = Number of Cases (jumlah frekuensi/banyaknya individu)

P          = Angka persentase

100%   = Bilangan Tetap

Dalam menentukan kriteria penilaian tentang hasil penelitian yaitu keaktifan siswa, maka dilakukan pengelompokkan atas 5 kriteria berikut:

  1. 86 – 100 “Baik Sekali”
  2. 71 – 85 “Baik”
  3. 56 – 70 “Cukup”
  4. 41 – 55 “Kurang”
  5. < 40 “Sangat Kurang” [39]

 

Jadwal Pelaksanaan Penelitian

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Ahmadi, Psikologi Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 2003

 

Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, Bandung : Alfabeta. 2009

 

Anas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

 

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa undonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005

 

Depddikbud. Buku Laporan Pendidikan SD. Jakarta: Depdikbud. 2011

 

Hartono, PAIKEM Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, Pekanbaru: Zanafa, 2008

 

Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, Insan Madani CTSD, Edisi Revisi, Yogyakarta, 2008

 

Jurnal Teknologi Pendidikan, Padang: Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang, 2008

 

Melvin L. Silberman, Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: Pustaka Insani Madani, 2009

 

Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2008

 

Nana Sudjana, CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru 1989

 

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya, 2004

 

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. Bandung. Rosda. 2004

 

Rahmayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalamulia, 2002

 

Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008

 

Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, 2011,

 

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Jakarta: Rineka Cipta. 2003

 

Zakiah Daradjat,  Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Akasara, 2008


[1] Jurnal Teknologi Pendidikan, Padang: Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang, 2008, hal. 57

[2] Ibid, hal. 58

[3] Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, Insan Madani CTSD, Edisi Revisi, Yogyakarta, 2008, hal. xiv

[4] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. Bandung. Rosda. 2004. hlm 175

[5] Ibid,  hlm 117       

[6] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit, h. 38-45

[7] Melvin L. Silberman. Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insani Madani, 2009, hal. 1

[8] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa undonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2005, hlm. 23

[9] Aunurrahman, Belajar dan Pembelajaran, Bandung : Alfabeta. 2009, hlm. 12

[10] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya Jakarta: Rineka Cipta.2003 hlm 2

[11] Muhammad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2008, hlm. 14

[12] Hartono, PAIKEM Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan, Pekanbaru: Zanafa, 2008, hlm.11

[13] Hisyam Zaini, dkk, Pembelajaran Aktif, Jakarta: CTSD, 2011, hlm. XVI

[14] Ibid., hlm. XVII

[15] Agus Suprijono, Cooperative Learning, Jakarta: CTSD, 2010, hlm. x

[16] Rahmayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalamulia, 2002, hlm 35

[17] Zakiah Daradjat,  Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Akasara, 2008, hlm. 138

[18] Nana Sudjana, CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung : Sinar Baru 1989), h. 110

[19] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit, h. 38-45

[20] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya, 2004, hlm. 107

[21] Ngalim Purwanto, Op cit, hlm. 107

[22] Sardiman, Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008, hlm. 45

[23] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, hlm. 145

[24] Sardiman, Op cit, hlm. 45

[25] Abu Ahmadi, Op cit, hlm. 64

[26] Ibid., hlm. 78

[27] Ibid., hlm. 70

[28] Ibid., hlm. 46

[29] Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: Rosdakarya, 2004, hlm. 102-106

[30] Slameto, Op.Cit, h. 54-60

[31] Melvin L. Silbermen, Op.Cit, hal. 1

[32] Melvin L. Silberman. Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insani Madani, 2009, hal. 1

[33]Ibid. hal. 1

[34] Melvin L. Silberman. Aktive Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Pustaka Insani Madani, 2009, hal. 1

[35] A. Hamid, Meningkatkan Aktivitas Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui strategi pembelajaran Berdiri dan Berhitung materi Membaca Ayat-ayat Pendek Al-Qur’an pada Siswa Kelas VI Sekolah Dasar Negeri 009 Siak Kecamatan Siak Kabupaten Siak, Pekanbaru: UIN Suska Riau, 2011.

[36] Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 16

[37] Ibid.

[38] Anas Sudjono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004). h  43

[39] Depddikbud. Buku Laporan Pendidikan SD. (Jakarta: Depdikbud. 2011), h. 2

Leave a comment

Filed under CONTOH PROPOSAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s